fbpx
Connect with us

Sosial

Kisah Bambang Yang Buta Karena Salah Minum Obat, Sempat Hendak Bunuh Diri Hingga Keuletannya Hidup Mandiri

Published

on

Patuk,(pidjar.com)–Selasa (05/10/2021) pagi, salah satu rumah di sudut Padukuhan Waduk, Kalurahan Pengkok, Kapanewon Patuk terlihat cukup sepi. Di rumah berbahan dasar batu bata dengan ukuran 7×7,5 meter tersebut hanya nampak seorang laki-laki yang terlihat meraba-raba peralatan di sekitarnya. Pria dengan perawakan kurus tersebut menggunakan pakaian kumal seadaannya. Ia sesekali mengambil paku, dan juga kayu yang berhasil ia raih dengan rabaan kedua tangannya. Ia terlihat sibuk dan sedang berusaha memasang dinding triplek.

Sekilas, pria tersebut, Bambang Darmanto (56) memang terlihat sehat dan normal. Namun ketika diamati gerak-geriknya, memang cukup nampak ada yang lain darinya. Bambang memang penyandang tuna netra. Akan tetapi, walaupun hidup dengan kekurangan indera semacam ini, tak lantas membuatnya patah arang. Ia bahkan bisa disebut bisa hidup mandiri tanpa harus merepotkan orang lain. Dengan tekun, ia menjalankan sejumlah usaha untuk menyambung hidupnya.

Saat ditemui pidjar.com, pria paruh baya tersebut menuturkan bahwa ia terlahir dan sempat hidup normal dengan indera penglihatan yang berfungsi maksimal. Namun demikian, petaka yang menimpa Bambang terjadi pada tiga belas tahun silam. Ia ingat betul, saat itu sepulang dari bekerja badannya terasa demam. Lantaran tak kunjung membaik, anaknya pun berinisiatif memeriksakan kondisnya kepada petugas kesehatan. Ia diantarkan ke tempat praktik bidan sekitar Mapolsek Patuk.

“Ternyata bidannya tidak ada, yang melayani hanya mahasiswa yang sedang praktik,” tutur Bambang.

Keesokan harinya, kondisi Bambang tak kunjung membaik namun justru menunjukkan kondisi memburuk. Tak hanya demam yang dirasakannya, ia juga harus mengalami penglihatan yang kabur. Kala itu, ia tak pernah berpikir ada yang salah dengan matanya. Obat yang diberikan terus diminumnya dengan harapan sakit yang ia rasakan ini segera menghilang.

“Saya teruskan minum obat, tapi berangsur-angsur penglihatan saya justru terus kabur dan kemudian sampai sama sekali tak bisa melihat,” kata Bambang.

Anaknya pun panik. Ia dibawa berobat ke dokter mata hingga rumahsakit khusus mata. Ternyata, syaraf pada bagian matanya bermasalah karena salah minum obat. Terpaan cobaan maha berat ini membuatnya sangat terpuruk. Dua tahun ia mengurung diri di dalam kamar. Bahkan saat itu, tersirat pikirannya hendak mencoba bunuh diri.

“Sekitar tahun 2010, istri saya pergi meninggalkan saya dan menikah dengan orang lain,” imbuh dia.

Bambang menambahkan, karena kondisinya terus menunjukkan gelagat depresi, anaknya kemudian mengirimkan dia ke sebuah panti tunanetra di kawasan Sewon, Kabupaten Bantul. Di sana, kehidupan maupun mentalnya berangsur membaik. Hingga takdir mempertemukannya dengan Yeni Lanjar. Janda tunantera yang kini berusia 46 tahun yang kemudian dipersuntingnya.

“Tahun itu pula saya memutuskan untuk menikahi Yeni secara siri. Kemudian kami resmikan setelah akta cerai dengan istri lama selesai diurus sekitar tahun 2011,” jelas dia.

Kendati hingga kini kartu keluarganya masih terpisah sehingga tidak tercover bantuan apapun dari pemerintah, pasangan tuna netra ini tetap berusaha survive. Dengan bekal pelatihan dari panti, keduanya membuka jasa pijat pasangan suami istri. Selain itu, Bambang juga mengembangkan produksi telur asin. Peralatan dalam memasak telur asin mereka dapatkan dari anaknya yang bertempat tinggal di Prambanan.

“Sekali produksi ya sekitar 300 butir, alhamdulillah sekarang sudah diambili pedagang, kadang juga dibantu bapak-bapak pejabat di sini untuk pemasaran,” sambung Bambang.

Namun begitu, karena pandemi ini membuatnya harus berhenti berproduksi karena memang penjualannya menurun drastis. Sekarang ini, untuk mengisi waktu dan bertahan hidup, ia bercocok tanam menggunakan polybag. Beraneka macam tanaman jamu seperti jahe, lengkuas, kencur ia tanam di seputaran rumahnya. Selain itu juga beberapa pohon pisang nampak tumbuh di depan rumahnya.

“Ya saya nyimak dari youtube untuk penanamannya, hasil tanaman biasanya dibeli para tetangga,” ucap Bambang.

Handphone yang ia punya sendiri merupakan handphone khusus untuk pengidap tunanetra. Bagi dia, perangkat ini cukup membantu berinovasi di tengah kebutuhan khususnya. Meskipun hidup seadanya, ia saat ini ia berupaya untuk lebih legowo dalam menikmati hidup dan terus berusaha untuk bertahan.

“Karena ini sudah garis takdir yang harus dijalani, jadi harus ikhlas,” tutup Bambang.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler