Sosial
Resahnya Warga Ngleri Terdampak Polusi Pabrik Fiber, Ada Yang Terjangkit Sakit Paru-paru Hingga Pilih Pindah Rumah
Playen,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Keberadaan pabrik fiber yang terletak di Padukuhan Puntuk Wetan, Desa Ngleri, Kecamatan Playen mulai dikeluhkan oleh warga sekitar. Pasalnya dampak keberadaan pabrik yang berada di tengah permukiman warga ini dianggap mengkhawatirkan dan mengganggu kesehatan masyarakat. Tidak sedikit dari mereka yang mengalami batuk-batuk hingga sesak nafas. Bahkan ada warga yang memilih pindah rumah lantaran tak tahan dengan polusi yang terjadi ini.
Salah seorang warga yang tepat tinggal di dekat pabrik tersebut, Tarso mengatakan, berdirinya pabrik fiber di tengah pemukiman warga ini dianggapnya sangat mengganggu kesehatan. Bau dan debu yang dihasilkan dari produksi menurutnya sudah tidak bisa ditoleransi lagi. Pasalnya setiap harinya, memang pabrik ini berproduksi dengan zat-zat kimia.
“Ada yang sering batuk, sesak nafas dan bahkan istri saya sampai ada gangguan di paru-paru dan sempat menjalani perawatan di rumah sakit,” kata Tarso, Kamis (22/11/2018).
Dampak semacam ini sebenarnya tidak hanya dikeluhkan oleh dirinya saja, melainkan ada warga lain yang juga mengeluhkan hal yang sama. Akan tetapi selama ini dari warga tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan secara mendetail. Bahkan lantaran dampak yang semakin tidak dapat ditoleransi itu, ada satu penduduk yang rumahnya berdekatan dengan pabrik memilih pindah ke daerah lain dikarenakan bau, debu dan dampak lainnya yang mengganggu kehidupan sehari-hari.
Tepat di depan pabrik sendiri juga terdapat sebuah taman kanak-kanak yang masih beroperasi. Setiap harinya anak-anak yang bersekolah di lokasi ini harus menikmati bau dan debu yang berterbangan. Parahnya, di padukuhan ini ada dua pabrik fiber yang berdiri berdiri di tengah-tengah permukiman warga.

Ditambahkan Tarso, warga yang sudah gerah sebenarnya sudah berupaya melaporkan keluhan ini ke dukuh maupun pemerintah setempat. Akan tetapi menurut Tarso, hingga saat ini tidak ada tindak lanjut yang nyata dari pemerintah daerah.
“Dulu sudah laporan ke pemerintah desa. Tapi belum ada tindak lanjut sampai sekarang,” tambahnya.
Ia menuding berdirinya pabrik fiber di tengah permukiman masyarakat ini belum memiliki ijin operasi atau ijin lainnya. Sebelumnya kepada warga juga tidak ada sosialisasi atau bahkan penandatanganan surat persetujuan terkait ijin maupun hal-hal lainnya. Beberapa bulan sekali memang warga diberi bantuan berupa sembako atau barang lainnya dari pemilik pabrik.

Pabrik Fiber yang dikeluhkan warga karena polusi debunya
Sementara itu, Kepala Desa Ngleri Supardal mengakui adanya pabrik fiber yang beroperasi di tengah pemukiman warga. Disebutkan Supardal, pabrik tersebut memang memiliki dampak positif maupun dampak negatif. Sejauh ini memang ada beberapa keluhan secara lisan yang masuk ke pihaknya terkait dampak yang ditimbulkan dari pabrik tersebut. Pihaknya juga telah berusaha menyampaikan keluhan ini kepada pemilik pabrik untuk segera melakukan pembenahan dan pemenuhan syarat kesehatan lingkungan.
Disinggung mengenai perizinan, berbeda dengan Tarso yang menyebut tak pernah ada proses permohonan izin kepada warga, Suparda justru menyebut bahwa saat ini proses perizinan masih dalam tahap proses.
“Ada memang keluhan secara lisan dari masyarakat. Kalau untuk perijinan sekarang ini masih dalam proses,” kata Supradal saat dikonfirmasi.
Sementara itu, pemilik salah satu pabrik fiber yang beroperasi di Ngleri, Warijo mengklaim bahwa selama kurang lebih 5 tahun pabriknya beroperasi, tidak ada keluhan dari masyarakat maupun RT/RW setempat mengenai dampak baik bau ataupun debu. Jika sekiranya ada keluhan ia tentu akan segera melakukan perbaikan agar dapat berjalan sebagaimana mestinya.
“Belum ada laporan atau keluhan dari masyarakat. Jika memang ada ya akan kami tindak lanjuti. Harusnya langsung datang ke saya saja,” papar Warijo.
Disinggung mengenai ijin operasi dan ijin lainnya terkait berdirinya pabrik fiber di tengah lokasi pemukiman warga itu, Warijo mengatakan jika sejauh ini masih dalam proses pengurusan ijin. Pasalnya waktu yang dibutuhkan juga lama dalam pengurusan ijin usaha.
“Kalau ijin masih proses. Untuk bantuan-bantuan sering saya berikan warga, misalnya bingkisan lebaran atau antar orang sakit tanpa ada pamrih maupun biaya,” tutupnya.
-
Kriminal3 minggu yang laluDisiksa Dari Dipukuli Hingga Lukanya Dilumuri Garam, Remaja 17 Tahun Mengaku Sempat Diancam Ditembak Oknum
-
Peristiwa2 minggu yang laluPerempuan Muda di Ponjong Ditemukan Meninggal Dunia dengan Seutas Tali Dipohon
-
Sosial2 minggu yang laluKisah Sedih Andheng Pasca Kecelakaan, Saat di RS Nurohmah Hanya Dijahit Telinga, Ternyata Patah Tulang Belakang dan Terancam Lumpuh
-
Uncategorized2 minggu yang laluMBG Libur, Harga Sembako Mulai Turun Drastis
-
Peristiwa4 minggu yang laluLaka Maut Dinihari, Pemotor Tewas Dihantam Pick Up
-
Pemerintahan2 minggu yang laluDinas Bongkar Upaya Kecurangan Pendaftar SMP N 1 Wonosari, Dari ASN Manipulasi Data Bansos Hingga Gunakan Sertifikat Palsu
-
Uncategorized3 minggu yang laluHeboh Bola Api Berekor Panjang Melintas di Langit Gunungkidul, Warga Kaitkan dengan Pulung Gantung Jelang Bulan Suro
-
Peristiwa3 minggu yang laluDalam Posisi Terduduk, Lansia 81 Tahun Ditemukan Gantung Diri di Belakang Rumah
-
Peristiwa2 minggu yang laluRS Nur Rohmah “Cuek” di Tengah Operasi-operasi Yang Harus Dijalani Andheng, Keluarga Pilih Tempuh Jalur Hukum
-
Uncategorized3 minggu yang laluCetak Sejarah di Moto3, Veda Dapat Hadiah Mobil Impian Dari Konglomerat
-
Peristiwa3 minggu yang laluDiserempet Pemotor Tak Dikenal di Baleharjo, Pemotor Wanita Luka Parah Terjun ke Tegalan
-
Hukum4 minggu yang laluNekat Posting Motor Curian di Facebook, Pemuda Ditangkap Polisi Nyamar
