fbpx
Connect with us

Sosial

Kisahnya Viral di Media Sosial, HP Milik Putri Pasangan Tuna Netra Yang Dicuri Diganti Oleh Anggota DPR RI

Diterbitkan

pada tanggal

Playen,(pidjar.com)–Raut muka Ishma Tukha Nur Solechah (13) warga Padukuhan Siyono Wetan, Kalurahan Logandeng, Kapanewon Playen nampak berbinar. Bocah yang masih menuntut ilmu di MTs Negeri 1 Wonosari ini sempat menjadi perbincangan khalayak setelah kejadian pencurian yang ia alami. Beberapa hari terakhir ini, Ishma memang sempat kebingungan untuk belajar setelah handphone yang ia miliki dicuri oleh sepasang perempuan dan laki-laki yang datang ke rumahya untuk mendaftar pijat. Ia cukup beruntung lantaran pasca kejadian pencurian yang dialaminya viral di media, Ishma mendapatkan perhatian dari anggota DPR RI, H Subardi yang langsung datang ke rumahnya untuk memberikan bantuan sebuah smartphone dan uang tunai.

Kepada wartawan, pelajar kelas 8 MTS Negeri 4 Wonosari itu kebingungan dengan kondisinya sebelum mendapatkan bantuan dari H Subardi. Bagaimana tidak, handphone jenis Samsung yang ia miliki sangatlah menujang pembelajaran online yang saat ini diterapkan. Tidak hanya Ishma saja yang bergantung dengan handphone itu, melainkan adiknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) juga sering memanfaatkan handphone tersebut untuk belajar dan mengerjakan tugas.

“Setelah kejadian itu saya jadi bingung bagaimana besok kalau ada tugas atau informasi lain. Untungnya kemarin itu pas libur,” terang Ishma.

Meski sungkan, Ishma sempat berkeluh kesah kepada ayah ibunya Slamet Supriyono dan Tursilah. Kedua orang tua Ishma sendiri merupakan pasangan tuna netra dan selama mengandalkan hidup dari jasa pijat. Tak heran apabila dengan kondisi itu, Ishma dan keluarganya hidup dalam kesederhanaan. Lantaran pentingnya Hp sebagai sarana pembelajaran, Slamet sempat berjanji akan membelikan handphone pengganti. Namun menurut Ishma, ayahnya harus mencari pinjaman lantaran saat ini tak memiliki uang.

Selama pandemi, masyarakat yang datang untuk menggunakan jasa pijat sang ayah memang cukup sepi. Hal ini tentunya membuat penghasilan keluarga Slamet menjadi tidak menentu.

“Saya juga kasihan bapak karena harus mencari-cari pinjaman uang agar saya bisa belajar,” tambahnya.

Tak heran Ishma sangat gembira saat kemudian ada pihak yang memberikan perhatian kepadanya. Bantuan handphone dan masih ditambah uang tunai ini sangat berarti baginya. Dengan adanya bantuan ini, ia tentu tak lagi kebingungan dalam pembelajaran.

“Terima kasih atas bantuan yang diberikan kepada saya,” lanjutnya.

Meski masih berusia belia, di tengah keterbatasan yang dihadapinya, Isham merupakan pelajar yang sarat berprestasi. Menekuni olahraga panjat tebing sejak SD, Ishma berhasil meraih prestasi baik di tingkat daerah maupun nasional. Belasan medali dan piala telah berhasil didapatkannya. Tahun lalu bahkan, ia sempat meraih juara 2 di tingkat Nasional. Sebuah prestasi yang tentunya tak bisa dianggap sepele.

“Yang tingkat nasional itu kategori lead tahun 2018 lalu. Kalau untuk latihan biasanga di SMA 2 Playen atau di sekitar kota Wonosari,” ucap Ishma.

Meski sudah malang melintang, tapi hingga kini dirinya belum memiliki peralatan yang memadahi salah satunya sepatu yang standar untuk olah raga panjat dinding. Sehingga ia hanya menggunakan peralatan yang punya.

Slamet menceritakan, Selasa (19/8/2020) lalu, sore hari datang dua orang, lelaki dan perempuan mengaku kenal dengan dia dan istrinya. Saat berbincang dengan Ishma, kedua orang tidak dikenal itu bercerita sedang mencari model untuk rias. Dengan iming-iming uang honor 300 ribu, Ishma diminta untuk mencari teman lantaran yang dibutuhkan adalah 2 orang.

Ishma yang bermaksud ingin membantu kedua orang tuanya lalu bersedia untuk mencari teman. Kemudian ia pergi mencari temannya sehingga hanya tersisa Slamet dan istrinya di rumah. Slamet sendiri ngobrol dengan laki-laki itu sementara istrinya di dalam rumah bersama dengan perempuan tidak dikenal.

Tamu perempuan itu sempat izin meminjam kamar mandi. Tapi entah yang dilakukan ia justru mengambil handphone milik putrinya yang sedang dicharge. Saat Ishma kembali, kedua orang itu sudah tidak ada di rumah, handphone miliknya juga sudah raib.

“Dengan kejadian ini sempat kesulitan beberapa hari, karena hp orang tua juga digunakan adik (Muhammad Nastain), kalau pas jamnya bareng ya tidak bisa,” terang Slamet.

Sementara itu, kepada pidjar.com, H Subardi yang ditemui di rumah Ishma menuturkan bahwa bantuan ini diberikan secara spontan. Ia yang membaca di media perihal insiden yang menimpa Ishma merasa iba. Tanpa pikir panjang, ia langsung meminta anggota DPRD Gunungkidul untuk membelikan HP untuk diberikan kepada Ishma.

“Ini kok tega-teganya ngambil HP milik anak yang dipakai belajar, apalagi keadaan orang tuanya juga tuna netra begini. Yang jelas kemarin langsung saya arahkan untuk memberikan bantuan dan alhamdulillah bisa saya serahkan secara langsung. Tadi kita berikan HP dan juga uang tunai kepada Ishma. Semoga berguna dan tetap semangat untuk belajar,” papar Subardi.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler