fbpx
Connect with us

Sosial

Transformasi Siswanto Dari Nelayan Miskin Hingga Jadi Pemilik Kedai Lobster Beromset Per Hari Puluhan Juta Berkat Saus Timang

Published

on

Tepus,(pidjar.com)–Nasib orang siapa yang tahu. Mungkin istilah ini sangat tepat ditujukan kepada Siswanto, nelayan lobster di Pantai Timang, Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus. Puluhan tahun menggeluti dunia perburuan lobster di Pantai Timang dari tingkat terbawah, kini Pak Sis, begitu ia akrab disapa, mampu meraup omset hingga mencapai jutaan rupiah per hari. Bahkan di masa liburan, ia melalui rumah makannya mampu meraup hingga puluhan juta rupiah. Sebuah pendapatan yang tentunya sangat besar sehingga bisa dibayangkan bagaimana kehidupan enak yang dirasakan oleh Siswanto saat ini.

Ditemui di Kedai Lobster Pak Sis, sebuah rumah yang saat ini dijadikan sebagai restoran, Siswanto menceritakan bagaimana usahanya ini berawal. Mulanya ia hanya seorang nelayan pemburu lobster yang biasa beroperasi di Pulau Timang yang memang terkenal dengan populasi lobsternya yang cukup besar. Dengan peralatan seadanya, ia menempuh bahaya dengan menyeberangi ombak untuk sampai di Pulau Timang. Aktifitas ini tentunya tidak bisa ia lakukan setiap hari mengingat ia juga harus mempertimbangkan factor cuaca maupun ombak.

“Saya mulai berburu lobster tahun 1997, untuk pendapatan yang sangat tidak tentu. Untuk makan keluarga saja susah,” tuturnya kepada pidjar.com, Sabtu (05/05/2018) siang.

Dengan segala keterbatasan, ia terus berjuang untuk menghidupi keluarganya dari berburu lobster. Karena tidak mempunyai kendaraan, untuk menyetorkan lobster yang ia dapat, Siswanto harus rela memanggul kotak berisi lobster dan kemudian menumpang kendaraan umum ke Wonosari untuk menjual hasil buruannya.

“Saat itu harga lobster cuma Rp25.000 per kilogram,” ucap dia.

Kedatangan seorang mahasiswa asal Korea Selatan yang kuliah di Jogja yang akrab ia sapa dengan Nyonya Kim menjadi titik balik kehidupan Siswanto. Ny Kim selalu datang ketika libur kuliah mulai sering membantu Siswanto dalam mengelola pariwisata Pantai Timang, termasuk pembangunan wahana Gondola serta pengolahan lobster menjadi masakah yang enak sehingga bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi. Tak hanya itu, Ny Kim yang saat ini sudah dianggap seperti keluarga sendiri tersebut juga sering memposting dan memviralkan wahana gondola serta obyek wisata di Pantai Timang.

“Sampai akhirnya terkenal dan menarik perhatian wisatawan asing,” bebernya.

Mulai berdatangannya wisatawan asing ke Pantai Timang membuat kehidupan Siswanto sontak berubah. Tak hanya wisata Gondolanya yang kemudian banjir orderan, akan tetapi berkah juga didapat dari kedai lobsternya yang jug ikut eksis.

Mengenai kedai lobster Pak Sis sendiri menurutnya sudah dibuka sejak 3 tahun terakhir, namun baru 2 tahun terakhir ini berkat ngehitsnya Pantai Timang di kalangan wisatawan, kedai lobsternya pun turut kecipratan rejeki. Per harinya ketika musim liburan, kedai lobsternya bisa menghabiskan 60 sampai 70 kilogram lobster. Untuk menu sendiri ia jual per paket di mana paket untuk wisatawan asing seharga Rp550.000 hingga Rp600.000.

“Kalau untuk wisatawan lokal kita kurangi harganya, hanya Rp400.000 sampai Rp450.000 per paket yang berisi cumi, ikan, lobster, nasi dan minuman yang bisa dimakan untuk 4 sampai 5 orang,” ujar Sis.

Dari kedai lobster ini, Sis mengaku mampu meraup hingga jutaan rupiah. Jika hari sepi pun, kedainya ini beromset tidak kurang dari 5 juta rupiah. Omset ini tentunya kemudian bisa berlipat-lipat ketika musim liburan tiba.

“Paling banyak memang wisatawan Singapura, Malaysia serta Korea yang menggilai lobster,” beber dia.

Lobster Pantai Timang Mendunia

Mengenai pasokan lobster serta sajian lain menurut Siswanto didapat dari Pantai Timang. Ia mengerahkan sekitar 70 orang warga setempat sebagai pencari lobster di kawasan Pulau Timang. Meski permintaan sangat banyak, akan tetapi pasokan bisa tercukupi secara mandiri tanpa harus mendatangkan lobster dari wilayah lain.

Menurut Pak Sis, kualitas lobster dari Pantai Timang sendiri memang sangat bagus. Hal ini terbukti dari selama ini puasnya para pengunjung yang notabene berasal dari luar negeri dan selalu memuji kualitas lobster yang ia sajikan.

“Alhamdulilah pasokan semuanya dari Timah, kita karyakan banyak warga setempat sehingga juga menjadi berkah pula untuk mereka,” imbuhnya.

Kualitas memang selalu ia utamakan. Ada beberapa hal yang membedakan kedai lobster miliknya dengan restoran serupa lainnya. Salah satunya adalah lobster segar yang disajikan. Lobster-lobster yang ada memang masih dalam keadaan segar dan baru dimasak ketika ada pesanan. Selain itu juga bumbu rahasia yang ia sebut dengan saus timang. Saus semacam ini diklaimnya hanya ditemukan di kedai miliknya.

“Kalau saus timang ini rahasia, bahkan karyawan saya pun tidak tahu,” katanya sembari tersenyum

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler