Sosial
Lebih dari 500 Tanki Air Didistribusikan, Droping Air Masih Jadi Andalan
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Kekeringan di Bumi Handayani seakan menjadi permasalahan setiap tahunnya. Belum ada solusi kongkrit pemerintah untuk mengatasinya. Padahal berbagai riset menyebutkan, stok air di bawah tanah Gunungkidul cukup luar biasa.
Kepala Badan Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki menyebut, hingga akhir pekan pertama di Bulan Septembe 2020, sudah ada 692 tanki air bersih yang didistribusikan kepada 10 kapanewon di Gunungkidul. Jumlah ini terhitung sejak 10 Juni 2020 lalu.
“Kami menyediakan anggaran sekitar Rp.700juta tahun ini, ada 10 kapanewon yang mengajukan droping air,” ucap Edy, Minggu (06/09/2020).
Ia merinci, masing-masing dari kapanewon, Kapanewon Rongkop yang paling banyak didroping air. Adapun jumlahnya yakni kapanewon Girisubo 212 rit, Rongkop 236 rit, Tepus 20 rit, Paliyan 16 rit, Panggang 44 rit, Purwosari 44 rit, Tanjungsari 40 rit, Ngawen 36 rit, Ponjong 32 rit dan Semanu 12 rit.
“Dari 10 kapanewon jumlah jiwa yang terdampak yakni 111.734 jiwa,” jelas Edy.

Pihaknya memprediksi masih akan ada empat kapanewon yang terdampak. Keempatnya yakni Kapanewon Patuk, Gedangsari, Karangmojo dan Nglipar.
“Tahun ini kekeringan tidak separah tahun lalu, namun selama masa siaga darurat droping full dari dana APBD,” imbuh dia.
Pihaknya meminta masyarakat menghemat air. Untuk prediksi musim hujan sendiri berdasarkan prakiran BMKG dimulai pada pertengahan Oktober.
Di sisi lain, berbagai organisasi juga air bawah telah melakukan riset. Salah satu tim dari Acintacunyata Speleological Club (ASC) Yogyakarta, Thomas Suyono mengatakan, pihaknya telah melakukan pemetaan air bawah tanah yang ada di Kabupaten Gunungkidul. Pihaknya telah melakukan riset di kedalaman 45 meter di Goa Wuluhkumet Desa Girisoka Kecamatan Panggang.
“Di kedalaman 45 meter, kami menemukan sumber air yang memiliki potensi yang cukup untuk masyarakat sekitar, debet air yang keluar 9 liter per detik bahkan di penghujung musim kemarau seperti ini,” ujar dia.
Lebih lanjut ia mengatakan, jika mampu dimanfaatkan dengan baik, tentu saja sumber air tersebut dapat digunakan untuk masyarakat sekitar. Sehingga kekeringan di Kabupaten Gunungkidul dapat diminimalisir.
“Memang harus modal energi, pompa dan jaringan airnya,” imbuh dia.
Namun demikian, saat ini masyarakat sekitar telah memanfaatkan air tersebut dengan peralatan apa adanya. Masyarakat secara swadaya telah membeli pompa untuk mencukupi kebutuhan air.
“Karena memang sangat luar biasa air di bawah Goa Wuluhkumet,” paparnya.
-
Info Ringan6 hari yang laluResep Lamian Kuah Daging Sapi
-
Peristiwa2 hari yang laluTragis, Pelajar SMP di Semanu Ditemukan Meninggal G4ntung D1r1 di Pohon Jambu Mete
-
Info Ringan2 hari yang laluResep Soto Tangkar
-
Peristiwa4 minggu yang laluUang Pembangunan Masjid Al Uswah Senilai Rp 13 Juta Raib
-
Uncategorized2 minggu yang laluLomba Rebahan Pertama di Indonesia Digelar di JCM, Siapkan Hadiah Rp5 Juta
-
Budaya3 minggu yang laluWujudkan Kedaulatan Budaya, Kampung Gambiran Yogyakarta Semai Biji Pohon Gambir
-
Uncategorized4 minggu yang laluMotor Pelajar Raib Saat Jam Sekolah, Polisi Bekuk Pelaku di Alun-Alun Wonosari
-
Uncategorized4 minggu yang laluPerkuat Transformasi Birokrasi di Era Pemerintahan Digital, Diskominfo Luncurkan Inovasi Sadulur
-
Peristiwa4 minggu yang laluLansia di Rongkop Ditemukan Tewas Gantung Diri di Dalam Rumah
-
Uncategorized3 minggu yang laluMuncul Titik-titik Amblasan Baru, BPBD Gunungkidul Gandeng Universitas Diponegoro Teliti Struktur Tanah di Tileng
-
Pemerintahan3 minggu yang laluAntisipasi Kasus Kekerasan Layaknya di Kota Yogyakarta, Pemkab Gunungkidul Perketat Pengawasan di Daycare
-
Uncategorized2 minggu yang laluSewindu Mengabdi untuk Pendidikan, SMA Muhammadiyah Al Mujahidin Catatkan 1.000 Prestasi
