fbpx
Connect with us

bisnis

Melihat Potensi Hasil dari Pertanian Ketela Pohon di Kota Gaplek

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Gunungkidul memang sudah lama dijuluki sebagai Kota Gaplek. Dimana kontur tanahnya cukup cocok ditanami bernagai macam ubi-ubian. Namun demikian, yang paling menonjol untuk lahan di Gunungkidul ialah tanaman singlong atau ubi kayu.

Kepala Bidang tanaman pangan Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan, produksi ubi kayu di Gunungkidul setiap tahunnya memgalami peningkatan. Misalnya saja di tahun 2019 para petani berhasil memanen 714.826 ton ubi basah.

“Kemudian di tahun 2020 para petani memanen 1.000.629 ton ubi basah. Peningkatannya hampir 300 ribu ton,” ujar Raharjo, Sabtu (03/04/2021).

Raharja menambahkan, hasil panen ubi basah dijual dari harga Rp. 1.000,- hingga Rp. 1.500,- per kilogram. Menurutnya, saat ini pasar sangat membutuhkan ubi kering untuk diolah menjadi berbagai macam jenis makanan.

“Untuk harga ubi kering atau gaplek seharga Rp. 2.500,- per kilogramnya, potensi dari hasil ubi-ubian ini memang cukup bagus prospeknya,” ungkap Raharjo.

Sementara itu, Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perindusrian dan Perdagangan Gunungkidul, Wibawanti mengatakan, saat ini terdapat 500 industri pengelolahan singkong di Gunungkidul. Adapun berbagai macam olahannya berupa tiwul, gatot dan berbagai macam tepung mocaf, dan aneka kerupuk.

“Teknologi industri memang cukup maju, saat ini banyak sekali olahan dari ketela. Ratusan industri tersebut mampu menyerap hasil perranian lokal,” tandas Wibawanti.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler