fbpx
Connect with us

Sosial

Melongok Joglo Berusia 200 Tahun, Masih Asli Dari Ubin Hingga Genteng

Diterbitkan

pada

BDG

Ponjong,(pidjar.com)–Rumah Tradisional Jawa asli berbentuk Joglo saat ini sudah sulit ditemukan di Gunungkidul. Sebab, selama ini banyak bangunan rumah tradisional yang justru dijual oleh pemiliknya lantaran tergiur dengan tawaran harga yang tinggi. Alhasil, joglo-joglo berusia ratusan tahun itu saat ini banyak yang berpindah daerah atau bahkan negara.

Di Gunungkidul sendiri, masih ada beberapa rumah berbentuk Joglo berusia ratusan tahun yang dilestarikan oleh pemiliknya dan pemerintah kabupaten karena nilai sejarahnya. Seperti halnya rumah tradisional milik Suwardi, warga Padukuhan Trengguno Wetan, Kalurahan Sidorejo, Kapanewon Ponjong. Joglo yang sudah berusia hampir 200an tahun itu masih berdiri kokoh dan tetap ia pertahankan. Beberapa waktu lalu, joglo ini sempat ditawar oleh turis Jepang.

Kepada pidjar.com Suwardi mengatakan rumah yang terletak di pinggir jalan Semanu – Bedoyo ini merupakan peninggalan nenek dan kakeknya. Rumah itu kemudian diwariskan ke orang tuanya. Karena orang tuanya sudah meninggal kemudian rumah berbentuk Joglo di bagian depan dan terdapat bangunan rumah kampung serta limasan di bagian belakang ini diwariskan kepada dirinya.

Berita Lainnya  Tegalrejo Berhasil Dientaskan, Gunungkidul Diklaim Telah Bebas Kalurahan Rawan Pangan

Selama ini, rumah yang 100 persen konstruksinya dari kayu pilihan ini tersebut ia jaga dan tinggali setiap harinya. Dengan telaten, ia bersama dengan adik perempuannya selalu membersihkan dan membenahi apa yang rusak. Bentuk bangunan ini sendiri tidak pernah ia ubah atau ganti. Semuanya asli sejak ratusan tahun lalu. Ubinnya pun masih sangat tradisional yaitu ubin batu berukuran kecil. Ia sendiri tidak memiliki niatan untuk menjualnya meski ada beberapa orang yang sempat berkunjung untuk melihat dan bahkan mengajukan tawaran.

“Dulu pernah ada yang ke sini mengutarakan niat untuk membeli rumah ini, bahkan ada orang mancanegara dari Jepang yang menawar. Tapi saya jawab tidak mau saya jual, jadi belum sampai ke arah negosiasi harga,” terang Suwardi saat ditemui di rumahnya.

Ia mempertahankan rumah peninggalan keluarganya ini bukan tanpa alasan. Hal tersebut karena ada nilai sejarahnya tersendiri, yaitu rumah tersebut pernah disinggahi oleh Jendral Sudirman saat melakukan perjalanan dari Bantul menuju ke Jawa Timur saat perang gerilya. Suwardi bercerita, pada saat Jendral Sudirman singgah di rumah ini bersama dengan pasukannya itu, ia masih berusia sekitar 5 tahun.

Berita Lainnya  Ribuan Anak Terlantar Jadi Catatan Dalam Perayaan Hari Anak Nasional di Gunungkidul

“Saya masih ingat betul pada saat Jendral Sudirman ditandu dan berhenti di rumah ini, pasukannya lumayan banyak juga. Di sini hanya sebentar hanya istirahat kemudian meminta air kelapa dan kembali melanjutkan perjalanan,” kata dia.

Suwardi kecil pada saat itu tidak berani mendekat ia hanya melihat dari jauh iring-iringan pasukan yang menandu Jendral Sudirman. Kemudian sempat ada pergantian pasukan yang memikul tandu.

Alasan lain ia tetap mempertahankan rumahnya ini adalah banyaknya kenangan keluarganya dengan Kolonel Inf R. Sugiyono Mangunwiyono. Pahlawan nasional ini merupakan adik dari ayah Suwardi.

“Beliau adalah om saya, adik dari bapak. Dulu beliau sering berkunjung ke sini ya acara keluarga, main dan lainnya,” papar dia.

Dari Dinas Kebudayaan Gunungkidul sendiri pada tahun 2018 lalu melakukan kajian keaslian bangunan rumah tradisional dan menggali informasi lebih lanjut berkaitan dengan sejarah di rumah ini. Usai data yang dikumpulkan valid pemerintah menetapkan bahwa bangunan ini sebagai Cagar Budaya.

Berita Lainnya  Sah, Ratusan THL di Pemkab Gunungkidul Akhirnya Dapat Jaminan Kesehatan

“Alhamdulillah dengan begitu semakin membuat teguh saya untuk mempertahankan rumah yang bersejarah ini. Mulai dari pintu, ubin, genteng, cagak dan yang di atap semuanya masih asli. Saya sendiri yang membenahi jika ada kerusakan misalnya bocor atau apa, tapi kalau ada genteng yang pecah, itu sulit mencari gantinya,” imbuh Suwardi.

Sebenarnya rumah tradisional jenis Joglo yang bisa ditemui di hampir semua kapanewon, namun jumlahnya sangat sedikit. Tapi daerah yang sekitar 30 persen memiliki rumah Joglo adalah di Kalurahan Ngloro, Kapanewon Saptosari.

“Kalau di wilayah kami masih ada ya mungkin 30 persen dari rumah yang ada. Kalau dulu sebenarnya banyak, tapi pewaris rumah memilih menjual karena tergiur harga yang begitu tinggi. Bayangkan saja ada yang sampai 200 bahkan 500 juta, itu tergantung dengan ukuran dan kualitas serta berapa usia rumah itu,” terang Lurah Ngloro, Heri Yuliyanto.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler