fbpx
Connect with us

Pemerintahan

Mendesaknya Penanganan ODGJ di Gunungkidul, Untuk Penyembuhan Hingga Pencegahan Bunuh Diri

Published

on

Wonosari, (pidjar.com)–Masih terdapatnya Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Gunungkidul masih menjadi persoalan tersendiri. Pemerintah masih berupaya dalam mengoptimalkan layanan fasilitas kesehatan agar dapat menangani ODGJ di tiap-tiap Kapanewon maupun Kalurahan. Penanganan ODGJ dari level rendah hingga berat sangat diperlukan di wilayah Gunungkidul mengingat kasus bunuh diri di Gunungkidul yang cukup tinggi.

Lurah Mulo, Sugiyarto, mengungkapkan jika di Kalurahan Mulo tak lepas dari adanya ODGJ. Keberadaan ODGJ menjadi perhatian tersendiri bagi pemerintah Kalurahan dan masyarakat setempat. Selain untuk penanganannya, kesembuhan ODGJ menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Ia menyampaikan jika keberadaan ODGJ sejauh ini diupayakan dapat tertangani oleh kegiatan-kegiatan maupun program dari Pemerintah Kalurahan. Untuk memastikan penanganan ODGJ sesuai pedoman ynag berlaku, pendampingan dan pemantauan terhadap ODGJ rutin dilakukan.

“Kebetulan kemarin ada sarasehan dari Kemensos, Kemenlu, Setneg, yang membahas tentang ODGJ. Program-program sejauh ini masih berjalan seperti pendampingan dan pertemuan rutin tiap bulan untuk memantau perkembangan ODGJ. Kalau jumlah ODGJ di Kalurahan Mulo saat ini tercatat ada 16 orang,” papar Sugiyarto, Kamis (07/10/2021).

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawati menyampaikan, dalam penanganan ODGJ di Gunungkidul masih menjadi tantangan tersendiri. Dalam upaya penanganannya, Dinas Kesehatan Gunungkidul telah menyiapkan sejumlah layanan di fasilitas kesehatan yang tersebar di tiap Kapanewon. Misalnya saja di tingkat Puskesmas yang menyediakan sumber daya manusia yang diberikan pelatihan khusus kesehatan jiwa serta obat-obatan yang berkaitan dengan kesehatan jiwa yang memadai.

Penanganan kesehatan jiwa sendiri menjadi sangat penting di Gunungkidul. Selain guna mencegah kondisi seseorang memburuk, juga sebagai salah satu upaya pencegahan terhadap terjadinya bunuh diri.

“Di tiap puskesmas juga ada klinik konsultasi di mana masyarakat bisa melakukan konsultasi tentang apa saja termasuk tentang kesehatan jiwa,” ucapnya.

Sementara itu, untuk di tingkat masyarakat telah dibentuk Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) yang diharapkan dapat berjalan dalam menangani ODGJ dengan level rendah hingga berat. Pemetaan tentang ODGJ menjadi langkah awal untuk mengidentifikasi sebarannya serta diharapkan dapat mendeteksi dini orang yang akan melakukan bunuh diri. Selain itu, di masyarakat juga terdapat rehabilitasi berbasis masyarakat di mana masyarakat yang diberikan wawasan untuk menangani ODGJ yang berada di dalam keluarga maupun di lingkungan masyarakat.

“Jadi masih seringkali saat ODGJ sudah dirawat di rumah sakit dan keadaannya stabil dan sudah pulang, yang seharusnya bisa proses penyembuhan tetapi malah menjadi kumat lagi karena keluarga dan lingkungan yang tidak siap menerimanya,” tutur Dewi Irawati.

Menurutnya pasien ODGJ jika diperlakukan dengan baik sesuai pedoman ynag telah ditentukan, serta diberikan dukungan oleh lingkungan keluarga dan masyarakat, maka pasien ODGJ kemungkinan dapat stabil kembali.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler