fbpx
Connect with us

Sosial

Mengenal Sosok Martinus Novianto, Talenta Terbaik Gunungkidul di Kasta Tertinggi Sepakbola Indonesia

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Penggemar sepakbola di Gunungkidul tentu tak asing lagi dengan nama Martinus Novianto Ardhi. Putra asli Gunungkidul tersebut merupakan salah satu contoh talenta pesepakbola terbaik yang dimiliki oleh bumi Handayani. Segudang prestasi telah ditorehkan oleh pemain kelahiran Desa Logandeng, Kecamatan Playen ini hingga membuatnya saat direkrut oleh salah satu klub terbaik di Indonesia yakni Bali United. 

Bakat hebat Martinus Novianto sendiri mulai tercium sejak pertandingan uji coba antara tim Pra PON DIY dengan Timnas Indonesia U-19 yang dilatih oleh Indra Sjafrie pada tahun 2014 silam. Bermain melawan nama-nama tenar semacam Hansamu Yama, Evan Dimas, hingga Muklis Hadi tak membuat putra pasangan Ag Joko Prayitno dengan Y Sri Rahayu tersebut gentar. Dua gol berhasil dicetak Martinus ke gawang timnas U-19 yang saat itu dijaga Ravi Murdianto. Rupanya, 2 gol tersebut menjadi titik balik karir Martinus. Secara mengejutkan, ia direkrut oleh coach Indra Sjafri untuk masuk ke timnas U-19 yang tengah mempersiapkan diri untuk menghadapi kualifikasi Piala Asia junior.

Tak hanya itu, penampilan impresif Martinus selama membela panji-panji Timnas Indonesia U-19 membuat Indra Sjafrie kepincut berat. Terbukti setelah coach Indra ditunjuk untuk menangani Bali United setahun berselang, pemain berposisi sebagai penyerang tersebut ikut pula diboyong.

 “Di Bali United sudah dari tahun 2015 diajak coach Indra habis dari Timnas U-19. Sampai sekarang ini,” jelasnya saat dihubungi pidjar.com, Minggu (04/02/2018) pagi.

Sejak kecil, Martinus memang telah menyukai sepakbola. Bakatnya mulai terasah ketika kedua orang tuanya memasukan Martinus kecil untuk menimba ilmu di klun lokal SSB Handayani. Skill mumpuni dan alami Martinus kemudian menarik perhatian dari SSB lain yang berasal dari luar daerah. Berturut-turut kemudian Martinus bergabung dengan SSB Baturetno Bantul dan kemudian SSB Gama Sleman.

Dengan kemampuan yang terus terasah, di usia 15 tahun, Martinus direkrut oleh salah satu tim terbaik di DIY yakni PSIM Yogyakarta. Pria kelahiran 4 November 1995 ini bergabung dengan PSIM selama 4 tahun.

“Di PSIM ini, saya direkrut untuk masuk tim Pra PON DIY,” tutur dia. 

Meski masih berusia 22 tahun, jatuh bangun dalam karir telah dialami oleh Martinus. Persaingan ketat dengan para pemain berlevel nasional maupun internasional di Bali United sempat membuat Martinus tersingkir. Ia lebih sering dipinjamkan ke klub lain guna mengasah kemampuannya. Meski begitu, manajemen Bali United masih terus mempercayai kemampuan Martinus. Terbukti, ia terus dipertahankan sebagai pemain di tim runner up Liga 1 Indonesia 2017 tersebut.

Cedera patah tulang bahu ketika membela Bali United pada ajang Indonesia Soccer Championship 2016 melawan Mitra Kukar sempat membuat bakat terbaik Gunungkidul ini harus menepi dari lapangan selama 6 bulan. Sebuah waktu yang panjang bagi seorang pemain muda yang tengah merintis karir.

“Memang berat bagi saya karena harus cukup lama absen baik berlatih maupun bermain. Apalagi lini depan Bali United ini pemainnya bagus-bagus semua,” tutur dia.

Setiap diturunkan dalam pertandingan, Martinus selalu memberikan yang terbaik. Tercatat di tengah minimnya jam bermain yang didapat, ia telah mencetak 3 gol dalam pertandingan-pertandingan resmi Bali United. Sebuah prestasi yang tak bisa dianggap remeh lantaran di klubnya, ia harus bersaing dengan nama-nama tenar semacam Irfan Bachdim, Stefano Lilipaly, hingga pencetak gol terbanyak di ASEAN musim 2017 silam, Silvanus Comvallius. Terakhir, Martinus menjadi salah satu dari deretan pencetak gol Bali United saat menundukkan PSPS Pekanbaru pada pertandingan penyisihan Piala Presiden 2018 akhir Januari silam.

“Saya berterima kasih klub masih terus percaya kepada saya,” imbuh dia.  

Melanglang buana berkiprah di kompetisi sepak bola terbaik di Indonesia tak lantas membuat Martinus lupa pada tanah kelahiran. Ia mengaku memendam keinginan untuk membela Persig Gunungkidul mengingat karirnya saat ini tak dipungkiri terlahir dari klub sepakbola junior Gunungkidul.

 “Pasti ada dong keinginan untuk membela tanah kelahiran. Mungkin suatu saat nanti saya bisa bergabung di Persig Gunungkidul,” tegasnya.

 Dari Bali, Martinus memiliki harapan untuk nasib sepakbola Gunungkidul. Ia berharap pemerintah mau memperhatikan atau ada sponsor yang mau menampung pesepakbola muda di Gunungkidul, sehingga bakat-bakat dari daerah sendiri bisa terpantau. Ia yakin banyak pesepakbola muda Gunungkidul yang sebenarnya memiliki bakat yang luar biasa. Dengan adanya perhatian pemerintah, bakat mereka bisa tersalurkan menjadi pemain profesional yang bisa mengharumkan nama Gunungkidul ke tingkat lokal, nasional, maupun internasional.

 “Untuk pesepakbola muda Gunungkidul, pokoknya tetap semangat dan pantang menyerah. Fokus dan jangan malu atau minder menjadi orang Gunungkidul. Semangat,” ungkap dia.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler