fbpx
Connect with us

Sosial

Menyimak Persaingan Cangkul Lokal Dengan Cangkul Tiongkok Yang Kini Mulai Masuk Gunungkidul

Diterbitkan

pada tanggal

Wonosari, (pidjar.com)–Meski terlihat sepele, keberadaan cangkul menjadi barang yang sangat sentral bagi petani. Adanya peralatan-peralatan modern dalam dunia pertanian tak membuat peralatan tradisional seperti cangkul terpinggirkan. Bersama dengan sabit, cangkul adalah 2 benda yang seperti wajib untuk dibawa petani.

Hampir setiap petani menggunakan peralatan ini untuk beraktifitas di ladang. Tentu saja dengan tingkat penggunaan yang tinggi, permintaan atas komoditi ini menjadi meningkat. Terutama menjelang musim penghujan seperti saat ini sehingga membuat permintaan akan barang ini meroket.

Komoditi cangkul sendiri juga tak luput dari serbuan barang buatan Tiongkok. Saat ini, cangkul asal Tiongkok memang membanjiri pasar, termasuk di Gunungkidul. Harganya yang cukup murah menjadi salah satu daya tarik dari cangkul Tiongkok. Menjadi menarik melihat persaingan cangkul impor ini dengan cangkul asli buatan Gunungkidul.

Salah seorang pande besi di Padukuhan Kajar III, Karangtengah, Wonosari, Bambang Heru Setyo mengaku, sejak tahun 2019 ini, selain menjual barang hasil produksinya, ia juga menyediakan penjualan cangkul impor dari Tiongkok. Menurut Bambang, harga cangkul impor ini memang lebih lebih murah dari cangkul asli Kajar yang diproduksinya.

Berita Lainnya  Susahnya Menumbuhkan Rasa Cinta Kaum Muda Kepada Dunia Pertanian

Menurutnya, harga cangkul asli RRC berharga Rp. 25 ribu hingga Rp. 35 ribu. Jauh di bawah produk lokal yang berada pada kisaran harga Rp. 40 ribu hingga Rp. 65 ribu.

“Permintaan cangkul ini memang cukup tinggi. Saya sendiri kewalahan memenuhi permintaan,” ujar Bambang saat dikonfirmasi, Jumat (08/10/2019).

Pria yang meneruskan usaha pande besi orang tuanya sejak 1975 ini melanjutkan, tingginya permintaan ini membuat usahanya sendiri juga belum mampu menutup kebutuhan cangkul, terutama menjelang musim penghujan. Salah satu yang membuat pemenuhan pasar sulit yakni lantaran para pengrajin pandai besi membuat cangkul dengan cara manual.

Bambang sendiri setiap harinya mempekerjakan 20 orang karyawan. Dari para karyawannya itu, masing-masing membuat 2 kodi cangkul setiap harinya. Dengan jumlah produksi ini, untuk memenuhi kebutuhan Pulau Jawa dan Pulau Sumatera yang telah menjadi langganannya pun ia cukup kesulitan.

Berita Lainnya  Ini Jalur Utama dan Alternatif Arus Mudik 2019 Yang Direkomendasikan Dinas Perhubungan

Menurutnya, bahan baku cangkul sekitar Rp. 30 ribu satu lembar plat baja. Satu lembarnya bisa dibuat satu hingga dua kodi cangkul tergantung masing-masing ukuran.

“Satu lembar plat baja bisa dibuat dua kodi sampai limapuluh biji,” imbuh dia.

Ia sendiri memang saat ini juga memiliki toko penjualan alat pertanian. Kebutuhan cangkul yang ia buat menyesuaikan pesanan dari pelanggan.

“Meski impor lebih murah, akan tetapi cangkul lokal lebih diminati karena dari segi kualitas lebih bagus,” ucap dia.

Sementara itu, Kepala Bidang Perindustrian, Disperindag Kabupaten Gunungkidul, Wibawanti menuatakan, saat ini produk pande besi asal Kabupaten Gunungkidul memang mulai dikenal secara luas. Namun demikian kebutuhan cangkul sendiri belum bisa dipenuhi oleh perajin lokal karena sejumlah keterbatasan.

“Tentu untuk produksi sangat terbatas, sehingga belum bisa mencukupi kebutuhan yang ada,” pungkasnya.

Iklan
Klik untuk Komentar
Iklan

Facebook Pages

Iklan
Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler