Sosial
Merajut Toleransi dan Hidup Berdampingan di Tengah Pluralitas Ala Warga Desa Baleharjo
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Pasca Pilkada DKI Jakarta pada tahun 2017 silam, tak bias dipungkiri bahwa sentiment agama saat ini begitu kental. Isu-isu terkait suku, agama, ras, dan antar golongan mulai banyak berkembang dan memicu konflik di masyarakat. Semakin maraknya hal semacam ini dikhawatirkan nantinya bisa merusak kehidupan guyub di masyarakat di Indonesia.
Menurut riset yang dilakukan oleh Wahid institute, pada periode 2009 hingga 2014 lalu, DIY sempat menempati peringkat kedua untuk jumlah tindakan intolerasi yang terjadi dengan 21 kejadian. Terakhir, beberapa waktu lalu, sejumlah ormas membubarkan acara bakti sosial yang dilakukan oleh sebuah gereja di Kabupaten Bantul dengan alasan Kristenisasi. Sementara di Gunungkidul, berdasarkan data dari Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika, menjadi salah satu wilayah di DIY yang cukup rawan terjadinya tindakan intoleransi.
Namun suasana mencekam semacam ini tidak berlaku di Desa Baleharjo, Kecamatan Wonosari. Sebagai wilayah dengan pluralisme warga begitu besar, masyarakat Desa Baleharjo bisa hidup berdampingan secara damai. Nyaris tak pernah ada konflik SARA yang terjadi di Baleharjo meskipun di wilayah ini, tingkat pertumbuhan rumah ibadah terhitung sangat tinggi. Belasan rumah ibadah baik Masjid maupun Gereja terdapat di desa yang terletak di pusat Kota Wonosari tersebut. Kegiatan keagamaan warga masyarakat pun juga bisa berjalan dengan baik tanpa adanya konflik.
Mantan Kades Baleharjo, Agus Setiawan mengatakan, di daerahnya ia belum pernah menemukan adanya masalah terkait percekcokan antar agama.
"Belum pernah ada masalah terkait agama selama 6 tahun menjabat. Semua disini antar umatnya saling membantu tanpa pandang agama," kata dia saat ditemui wartawan di rumahnya, Rabu (07/02/2018) pagi.

Kepada pidjar-com-525357.hostingersite.com, ia memberikan sejumlah tips yang menjadikan Baleharjo menjadi tempat yang nyaman bagi seluruh umat beragama untuk menjalankan aktifitasnya. Menurut Agus, potret toleransi beragama, harus dimulai dari membangun hati untuk menanamkan sikap toleran dan menghormati perbedaan. Dicontohkan di Padukuhan Purwosari, di mana baru-baru ini dibangun masjid di daerah mayoritas nasrani yang berlokasi sekitar 500 meter dari gereja. Meski begitu, warganya tetap saling membantu membangun masjid bukan hanya dari masyarakat muslim saja.
"Meski ada penambahan-penambahan tempat ibadah, namun tak pernah ada friksi antar umat beragama. Mereka justru mendukung dan saling membantu," terang Agus.
Sementara itu di tempat terpisah Pj Kades Baleharjo Indar Susanto juga mengakui bahwa sikap toleransi beragama warga Baleharjo sudah sangat baik. Hal ini dilihat dari bagaimana kehidupan bermasyarakat yang rukun dan tak pernah ada perpecahan antar umat beragama.
Dalam perkembangan, Islam memang menjadi mayoritas agama di Desa Baleharjo. Meski begitu, antara pemeluk agama mayoritas dengan minoritas sampai saat ini belum terdengar adanya konflik karena sentimen agama.
"Sudah biasa kami hidup berdampingan satu sama lain. Begitupun saat kegiatan keagamaan, tak pernah ada masalah," ujar dia.
Potret toleransi juga dilihat dari munculnya rumah ibadah yang kian bertambah. Berdasarkan data yang dimiliki Pemdes Baleharjo tahun 2015 ada sekitar 6 gereja besar yang tersebar sedangkan untuk tempat ibadah umat muslim yakni 11 masjid.
Dari jumlah tersebut, tahun ini sedang dibangun rumah ibadah kristen di daerah Wukirsari dan Purwosari. Namun, kata Indar, tempat tersebut belum berupa gereja namun masih sebatas rumah ibadah kecil yang masih bergabung di rumah warga.
"Kegiatan keagamaannya pun masih di waktu-waktu tertentu. Rencananya nanti dalam waktu ke depan akan dibuat gereja besar," kata dia.
-
Pemerintahan3 minggu yang laluPembangunan TPAS Wukirsari Akan Dimulai Awal 2027, Direncanakan Bisa Produksi Bahan Bakar Alternatif
-
Uncategorized3 minggu yang laluGeger Pagi di Ponjong, Perempuan Muda Ditemukan Gantung Diri di Pohon Coklat
-
Peristiwa3 minggu yang laluJenazah Korban Gantung Diri Diotopsi, Kemungkinan Korban Pembunuhan?
-
Peristiwa3 minggu yang laluTragedi Jelang Keberangkatan Umrah, 54 Paspor Jamaah Hangus Akibat Kebakaran Kantor Travel
-
Uncategorized3 minggu yang laluNikung Terlalu Melebar, Mahasiswi Tewas Usai Hantam Motor
-
Uncategorized2 minggu yang laluGegara Uang Kembalian Receh, Pelayan Bakmi Jawa Mengaku Dibentak Oknum Anggota DPRD
-
Uncategorized4 minggu yang laluDelapan Dapur SPPG di Gunungkidul Tak Kunjung Beroperasi, Dari Persoalan IPAL Hingga Izin BGN
-
Uncategorized4 minggu yang laluPilur Kelor Memanas, Lurah Petahana Dituding Curi Start Numpang Program
-
Uncategorized2 minggu yang laluKDMP Karangrejek Panen Lele 4,9 Ton, Capaian Tertinggi di Indonesia
-
Uncategorized2 minggu yang laluPetani Ditemukan Meninggal Dunia di Ladang Bleberan
-
Uncategorized3 minggu yang lalu83 Tukik Dilepas ke Laut, Bupati Gunungkidul Ajak Masyarakat Jaga Kelestarian Penyu
-
Uncategorized2 minggu yang laluLurah di Gunungkidul Kompak Enggan Teken Berita Acara Serah Terima Aset KDMP, Ada Apa?
