Pemerintahan
Pemerintah Galakkan Masyarakat Gunungkidul Agar Tidak Tergantung pada Nasi
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Pemerintah Kabupaten Gunungkidul terus menggalakkan masyarakat konsumsi non-beras dengan bahan pangan alternatif. Diversifikasi pangan ini dilakukan agar masyarakat tidak ada ketergantungan pada satu jenis makanan pokok saja yaitu beras.
Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi menilai, konsumsi terhadap beras di masyarakatnya sudah menurun meski jumlah penduduknya semakin besar. Ketela atau ubi kayu serta jagung menjadi bahan pokok paling potensial yang diversifikasi pangan oleh masyarakat Gunungkidul.
“Artinya orang Gunungkidul punya strategi yang baik dari konteks ketahanan pangan maupun ketersediaan pangan,” ucap dia, Selasa (20/03/2018).
Ia mendata, antar ketersediaan pangan dengan ketahanan pangan yang ada di Gunungkidul cukup imbang dengan kalkulasi 1/3 untuk dikonsumsi sedangkan 2/3 nya dijual. Namun gaya konsumsi di Gunungkidul tidak terjebak hanya pada beras. Hal ini juga didasarkan pada data dimana beras hanya dikonsumsi 54.000 ton sementara produksinya 165.000 ton.
Meski begitu, diversifikasi pangan masih akan terus digalakkan. Immawan menilai, upaya ini apabila dilakukan di Gunungkidul tidak terlalu sulit, pasalnya masyarakat semakin kraetif dalam mengolah bahan pangan yang bisa menarik masyarakat untuk mengkonsumsi. Seperti ubi kayu sudah diolah menjadi produk tepung, yang biasa disebut mokaf.
“Ini sudah bagus, hanya saja masalahnya orang masih berpikir belum kenyang kalau tidak makan nasi. Padahal, makan mokaf saja sebenarnya sudah cukup untuk memenuhi karbohidrat,” tuturnya.
Ia melanjutkan, mengkonsumsi pangan yang beragam tidak hanya baik untuk kesehatan, tapi juga untuk mendukung ketahanan. Sehingga apabila harga beras naik maka tidak perlu khawatir karena masih ada banyak pilihan bahan pokok karbohidrat lain. Selain itu, pemerintah tidak perlu melakukan impor beras karena ketahanan pangan yang tercukupi.
“Untuk makan kadang kita mengabaikan gizinya, tetapi yang penting kenyangnya sehingga orang berebut untuk makan beras,” tutur Immawan.
Seperti yang diketahui, masa depan Indonesia dibayangi oleh krisis pangan akibat lonjakan populasi penduduk, penurunan luas lahan pertanian, dan dampak perubahan iklim. Oleh karenanya, peningkatan produktivitas pangan perlu didorong, terutama melalui program diversifikasi pangan guna melepaskan kebergantungan konsumsi masyarakat terhadap beras yang selama ini menjadi permasalahan dalam mewujudkan ketahanan pangan di Tanah Air.
-
Uncategorized4 minggu yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized3 minggu yang laluMerintis Watusigar Gemilang, Feri Sulistyono Usung Digitalisasi dan Transparansi Pemerintahan
-
Uncategorized4 minggu yang laluCek Dapur MBG di Gunungkidul, Wakil Ketua Komisi VII Apresiasi SOP Pelaksanaan MBG
-
Uncategorized1 minggu yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
Uncategorized3 minggu yang laluWarga Kelor Pertanyakan Pembangunan Tower 72 Meter, Mengaku Tak Pernah Dilibatkan
-
Uncategorized3 minggu yang laluPintu Depan Terkunci, Suami Temukan Istri Meninggal
-
Uncategorized4 minggu yang laluKelok 18 Dibuka Uji Coba, Rest Area Baru Bisa Dipakai Sekitar Setahun Lagi
-
Uncategorized2 minggu yang laluIkuti Google Maps, Minibus Wisatawan Terperosok di Tanjakan Bundelan, 1 Penumpang Meninggal
-
Uncategorized4 minggu yang laluMulai Oktober, Tujuh TPR Wisata Gunungkidul Terapkan Pembayaran Retribusi Cashless
-
Uncategorized3 minggu yang laluPemkab Gunungkidul Mulai Gunakan BTT Rp1,3 Miliar untuk Atasi Kekeringan
-
event2 minggu yang laluZAP Fest 2026: The Glowverse Dimulai dari Yogyakarta, Raisa hingga Nassar Siap Meriahkan Perayaan Anniversary ZAP
-
Uncategorized3 minggu yang lalu149 Karya Inovatif ASN hingga Pelajar Gunungkidul Ramaikan Krenovamaskat Pelita Indah 2026
