fbpx
Connect with us

Sosial

Perjuangan Mati-matian Bayu, Atlet Jalan Cepat Asal Playen Yang Pingsan Usai Sentuh Garis Finis di Ajang Asian Games

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Semarak hajatan Asian Games 2018 yang diselenggarakan di Jakarta dan Palembang cukup menyita perhatian masyarakat. Seluruh atlet terbaik Asia memang tampil dalam gelaran olahraga terbesar kedua di dunia setelah olimpiade tersebut.

Yang cukup membanggakan, dalam ajang tersebut, tercatat sejumlah atlet maupun staf pelatih dari Gunungkidul yang ikut berjuang membawa panji-panji bangsa dan negara Indonesia. Prestasi semacam ini adalah sebuah capaian yang sangat tinggi mengingat tak sembarang orang bisa berlaga dalam event ini.

Salah satu dari putra terbaik Gunungkidul yang ikut dalam ajang Asian Games adalah Bayu Prasetyo (20). Warga Desa Logandeng, Kecamatan Playen merupakan salah satu talenta berbakat Indonesia untuk cabang olahraga jalan cepat. Di Asian Games 2018 ini, Bayu tampil di kelas 20 km. Meski tak sampai meraih medali, namun kerja keras Bayu cukup mendapatkan apresiasi. Ia berhasil menduduki peringkat kedelapan.

Saat dihubungi Pidjar.com, pemuda jebolan SMA Negeri 2 Playen itu mengaku begitu bangga bisa mewakili Indonesia berjuang di ajang bergengsi tingkat dunia ini. Meski demikian, ia cukup kecewa lantaran belum mencapai target yang dia idam-idamkan. Dalam nomor final jalan cepat 20 kilometer putra, Bayu hanya mampu mengukir waktu 1.42.35. Catatan tersebut tak cukup membawanya meraih medali dalam ajang ini. Bayu hanya menduduki di peringkat 8.

"Belum bisa sesuai dengan harapan dan target. Tetap bersyukur meski belum mendapat juara, karena pesaing lainnya memiliki jam terbang dan segudang pengalaman di even dunia," ucap Bayu saat dihubungi melalui via telepon, Sabtu (01/09/2018).

Peringkat kedelapan dalam Asian Games ini menurut Bayu dia jadikan sebagai patokan nantinya untuk pengembangan karir ke depan. Pasalnya, event Asian Games ini adalah event internasional pertamanya dan harus langsung berhadapan dengan atlet-atlet yang tak sedikit diantaranya merupakan atlet dengan level dunia. Pengalaman berharga ini ia harapkan menjadi penambah semangatnya dalam mengembangkan bakat dan kemampuan.

Berita Lainnya  Tak Hanya Peternakan Ayam, Mayoritas Usaha Pariwisata di Pacarejo Ternyata Tak Berizin

Diungkapkan Bayu, salah satu yang membuatnya tak bisa tampil maksimal adalah cuaca kala perlombaan ini yang cukup panas. Selain itu kelembaban dan polusi udara di Jakarta juga berpengaruh baik bagi pernafasan para atlet maupun kondisi fisiknya.

Di setiap beberapa puluh meter atau para peserta harus berusaha mensetabilkan kondisi tubuhnya menggunakan air yang telah disediakan oleh panitia. Kondisi ini membuat Bayu harus tampil mati-matian untuk mempersembahkan yang terbaik bagi bangsa Indonesia. Sejenak usai melewati garis finish, ia ambruk dan harus mendapatkan pertolongan dari tim medis.

"Sempat mendapat penanganan dari medis karena dehidrasi. Suhu udara sebenarnya sama dengan Jogja tapi untuk kelembabannya kurang jadi begitu berpengaruh dengan kondisi tubuh," imbuh dia.

Selepas penampilan memuaskan di ajang Asian Games 2018 ini, sejumlah target mulai dirancang oleh pemuda ini. Salah satu yang terdekat adalah menjadi yang terbaik dalam ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) mendatang. Ia yakin dengan kerja keras serta pengalaman di Asian Games, bukan tidak mungkin ia nantinya bisa menjadi atlet terbaik se-Indonesia.

Selepas acara tampil di Asian Games ini, Bayu bersama atlet lainnya akan melakukan pemulihan kondisi. Upaya kerasnya yang melebihi batas saat berlaga di Asian Games membuatnya kondisi fisiknya masih belum stabil.

“Ada sedikit masalah di lutut, ini mau diterapi. Selain itu juga akan liburan dulu, untuk refreshing setelah latihan keras mempersiapkan Asian Games,” lanjut dia.

Ia menceritakan, demi mempersiapkan mental, kondisi fisik dan mengasah kemampuannya mengikuti Asian Games 2018 ini, dalam seminggu Bayu berlatih 9 hingga 10 kali. Total, ia harus menempuh jarak hingga mencapai 90 hingga 120 kilometer per minggu.

Berita Lainnya  Miris, Pelajar Wanita Yang Masih Duduk di Bangku SD Cabuli Bocah Lelaki Berumur 5 Tahun

"Persiapan sudah dilakukan sejak bulan Januari lalu, latihan ringan saja mendekati hajatan olahraga ini baru diperketat. Saya berlatih di Gunungkidul," kata dia.

Sebelum terjun ke dunia atletik, Bayu sempat menggeluti cabang olahraga sepakbola. Namun karena kemampuannya tidak kunjung berkembang, saat duduk di bangku kelas 2 SMP, ia beralih ke cabang atletik. Awalnya Bayu belum spesifik masuk ke jalan cepat, namun karena iseng-iseng dan untuk memenuhi kuota jalan cepat ia mencoba hal baru itu. Tapi siapa sangka justru hal ini menjadi titik balik dalam karirnya di dunia olahraga. Sejumlah penghargaan berhasil ia rengkuh dari ajang jalan cepat. Adapun beberapa prestasi maupun kejuaraan yang berhasil diraih Bayu adalah juara 1 jalan cepat kelas 5000 meter di Aceh; juara 1 jalan cepat kelas 10000 meter di luar Jawa. Selain itu juara 2 Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional di Makasar dengan kelas jalan cepat10.000 meter; juara 3 pada Kejurnas 2017 untuk nomor 10.000 meter jalan cepat dengan kategori senior.

Bayu berharap dengan mengikuti ajang bergensi tingkat dunia ini, bisa kemudian menjadi pendongkrak kualitas dan prestasi olahraga di Gunungkidul. Terlebih cabor jalan cepat yang saat ini juga menjadi cabang potensial dan unggulan, di mana peminatnya sudah mulai terlihat. Ia meyakini bahwa dengan talenta yang ada, atlet-atlet Gunungkidul bisa meraih prestasi tinggi. Tinggal saat ini adalah bagaimana perhatian pemerintah untuk menyediakan fasilitas sarana dan prasarana pendukung bagi para atlet untuk bisa berlatih dengan baik.

"Sarana prasarana masih belum begitu kami rasakan. Tempat latihan khusus juga belum ada, misal saya latihan di stadion itu sebenarnya berbahaya, karena udara dan debu di musim kemarau yang seperti itu," tutupnya.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler