Hukum
Polemik Pembebasan Lahan JJLS, Warga: Jangan Rampok Harta Kami Satu-satunya Ini
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Polemik yang terjadi dalam proses pembebasan lahan JJLS jalur Planjan-Tepus terus bergulir. Gugatan hukum telah dilayangkan oleh 37 warga pemilik lahan terdampak proyek prestisius tersebut ke Pengadilan Negeri (PN) Wonosari. Saat ini, masih dilakukan proses mediasi sebelum nantinya sengketa tersebut diproses secara hukum sesuai kesepakatan dari kedua belah pihak, baik kuasa hukum penggugat maupun pihak tergugat dalam hal ini institusi DPUPRKP DIY dan BPN DIY.
Kuasa Hukum warga terdampak dari Padukuhan Rejosari, Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Verry Oktairawan SH menuturkan, saat ini pihaknya telah mengajukan konsep mediasi yang kedua berupa penawaran harga dari pihak warga kepada pihak PN Wonosari selaku mediator. Harga tersebut menurutnya ia sesuaikan dengan taksiran harga yang diberikan oleh tim appraisal sebelumnya. Penawaran harga yang baru ini lantaran pihaknya melihat banyak kejanggalan dari proses penaksiran harga lahan yang berbeda-beda dan tidak masuk akal.
Ia mencontohkan dari salah satu lahan milik warga penggugat. Lahan berupa pegunungan itu hanya dihargai Rp80.000 per meter. Harga ini sangat jauh apabila dibandingkan dengan gunung lainnya dengan tinggi sama milik warga yang masih kerabat perangkat desa yang dihargai Rp330.000 per meter.
“Kita tawarkan harga sesuai dengan permintaan masyarakat. Tidak terlalu besar sebenarnya tapi kita sesuaikan dengan harga appraisal untuk lahan lainnya yang sangat njomplang dengan milik warga yang menggugat itu,” papar Verry, Selasa (15/05/2018) siang.
Bentuk mediasi kedua berupa penawaran harga ini merupakan bentuk komitmen warga penggugat untuk turut mendukung proyek pemerintah. Ia menegaskan bahwa warga sama sekali tidak menghalang-halangi niat pemerintah dalam membangun jalur yang nantinya diproyeksikan menjadi pusat transportasi di kawasan selatan itu. Namun dalam hal ini, warga sangat keberatan dengan harga sangat rendah yang ditawarkan tim pembebasan. Warga bahkan sampai mengeluh bahwa ini merupakan bentuk perampokan terhadap lahan milik mereka. Lahan yang nantinya akan terdampak JJLS ini dijelaskan Verry merupakan salah satu dari sedikit aset warga. Masyarakat sendiri yang sebagian besar berprofesi sebagai petani banyak menggantungkan hidup pada lahan ini.

“Nanti bagaimana mereka bisa hidup. Ganti rugi terlalu kecil itu bagaimana mereka bisa membeli lahan lain untuk mata pencaharian mereka. Banyak warga yang bilang bahwa sudah hartanya cuma itu masih mau dirampas pula. Negara seharusnya melindungi dan menyehterakan warga, bukan terus seperti ini,” ketusnya.
Pihaknya sendiri menengarai ada banyak sekali kejanggalan dalam proses pembebasan lahan ini sehingga pada akhirnya sangat merugikan warga. Sejak awal prosesnya, sudah ada indikasi permainan. Seperti pada misalnya pada tim appraisal yang ditunjuk. Ia sama sekali mempertanyakan kompetensi dari Angger yang selama ini menjadi tokoh utama dari pembebasan lahan itu. Diketahui bahwa Angger ini hanyalah seorang Sarjana Pendidikan yang tentunya sangat janggal mendapatkan kuasa yang sangat besar dalam menentukan nilai tanah sebagaimana yang diungkapkan warga.
Selain itu, banyak pula dari warga masyarakat yang tidak menandatangani berita acara pengukuran tanah. IA tidak habis pikir bagaimana prosesnya sehingga kemudian dokumen bisa keluar yang dilanjut dengan penaksiran harga lahan. Saat ini, sudah ada 19 orang warga yang menandatangani surat pernyataan tidak menandatangani surat pernyataan tidak pernah menandatangani berita acara pengukuran.
“Saya malah curiga ada apa ini, pemalsuan tanda tangankah, atau bagaimana kok kemudian bisa keluar. Ini akan terus kami permasalahkan,” lanjut dia.
Ia kembali menegaskan bahwa warga sangat mendukung proyek JJLS ini. Namun warga hanya mau meleparnya dengan harga yang layak. Ia berharap nantinya akan ada titik temu dalam proses mediasi ini. Namun jika tidak, pihaknya sangat siap apabila nantinya harus menjalani persidangan terkait gugatan ini.
“Kalau perlu kita ungkap semua,” tutup dia.
-
Peristiwa4 minggu yang laluPerempuan Muda di Ponjong Ditemukan Meninggal Dunia dengan Seutas Tali Dipohon
-
Sosial4 minggu yang laluKisah Sedih Andheng Pasca Kecelakaan, Saat di RS Nurohmah Hanya Dijahit Telinga, Ternyata Patah Tulang Belakang dan Terancam Lumpuh
-
Sosial1 minggu yang laluKisruh Tunggakan Capai 85 Juta Dalam Dua Tahun Terakhir, Penyetoran Pembayaran PBB-P2 di Kalurahan Sawahan “Bocor”?
-
Uncategorized3 minggu yang laluMBG Libur, Harga Sembako Mulai Turun Drastis
-
Pemerintahan3 minggu yang laluDinas Bongkar Upaya Kecurangan Pendaftar SMP N 1 Wonosari, Dari ASN Manipulasi Data Bansos Hingga Gunakan Sertifikat Palsu
-
Uncategorized2 minggu yang laluSuhu Terendah di Gunungkidul Capai 19 Celcius
-
Uncategorized6 hari yang laluTragis, Wanita Muda Ditemukan Gantung Diri di Kamarnya
-
Uncategorized4 hari yang laluStudio Musik dan Rekaman SKB Gunungkidul Kini Lumpuh Total Gegara Alat Hingga Sound Dibawa Pulang Mantan Pejabat
-
Peristiwa3 minggu yang laluRS Nur Rohmah “Cuek” di Tengah Operasi-operasi Yang Harus Dijalani Andheng, Keluarga Pilih Tempuh Jalur Hukum
-
Pemerintahan1 minggu yang laluProyek Pengeboran Bekah Gagal Total Karena Salah Anilisis, PDAM Tirta Handayani Diminta Gandeng Akademisi
-
Pemerintahan4 minggu yang laluRatusan Warga Gunungkidul Terjangkit Penyakit Menular Mematikan Ini
-
Uncategorized2 minggu yang laluPemuda 22 Tahun Ditemukan Gantung diri di Dapur Rumah
