Sosial
Ramadhan di Tengah Pandemi, Guru Ngaji ini Berbagi Rumah untuk TPA
Patuk,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Pandemi Covid19 memang merubah tatanan kehidupan masyarakat. Sebagai makhluk sosial, hal ini tentu bukanlah perkara mudah bagi manusia. Manusia yang notabennya merupakan makhluk sosial terpaksa harus meminimalisir pertemuan. Bahkan harus banyak-banyak tinggal di rumah untuk memutus rantai penyebaran Covid19.
Di bulan Ramadhan seperti saat ini, perubahaan banyak terjadi. Setiap sore yang seharusnya para santri menjalankan TPA dan buka bersama pun ditiadakan. Bahkan sholat tarawih dan amalan lainnya juga ditiadakan.
Perbedaan sangat terasa karena tak ada lagi aktivitas di masjid di wilayah Padukuhan Plumbungan, Desa Putat Kecamatan Patuk Gunungkidul. Pandemi ini seolah membuat aktivitas masjid menjadi sangat sepi karena hampir semua warga Padukuhan tersebut melakukan kegiatan peribadahan di rumahnya masing-masing.
Masjid Al Ikhlas yang baru selesai dibangunpun dikunci oleh pihak takmir dan hanya jam-jam tertentu pintunya dibuka yaitu ketika waktunya sholat fardhu tiba. Ketika waktu sholat fardhu tiba, adzan memang berkumandang namun hanya marbot masjid dan beberapa jamaah yang ikut sholat.
Sholat Jum’atpun sempat tidak diselenggarakan sebanyak 2 kali namun dengan alasan agar tidak menjadi kafir, pada jum’at ketiga kembali dilaksanakan dengan protokol pencegahan Covid19 diperketat mulai dari membawa sajadah sendiri, pengukuran suhu tubuh, mencuci tangan sebelum masuk masjid hingga memakai masker serta hand sanitery namun jamaahnya juga tak terlalu banyak.

Di bulan Ramadan inipun demikian, sholat tarawih berjamaah sebenarnya masih ada namun jamaah yang ikut dalam salat tersebut jumlahnya tak mencapai 10 orang. Pengaturan jarak pun dilakukan ketika mereka ikut salat berjamaah tarawih di masjid al-ikhlas.
Selain salat tarawih berjamaah dan juga salat Jumat tak ada kegiatan sama sekali di masjid ini. Kegiatan buka bersama dan juga TPA untuk anak-anak di padukuhan Plumbungan ini dialihkan ke rumah Ustadzah yang mengampunnya. Kegiatan TPA yang dialihkan di rumah milik Ustadzahnya tersebut juga tak banyak diikuti oleh anak-anak.
“Ya paling banyak 7 atau 8 anak. Padahal di sini anak-anak TPAnya bisa mencapai 60 orang,” kata pengajar TPA Masjid Al Ikhlas Plumbungan, Novi Triyana (23), Minggu (17/05/2020).
Sejak pemerintah menyarankan Untuk menghentikan kegiatan salat berjamaah di masjid masjid pengelola TPA pun sempat menghentikan kegiatan mengaji untuk anak-anak mereka. Ternyata sebagian dari anak-anak yang ada di Padukuhan Plumbungan tersebut berkali-kali menanyakan kepada dirinya terkait dengan kegiatan TPA ini.
Nampaknya anak-anak sudah bosan terus berada di rumah dan rindu dengan kegiatan TPA. Sehingga dalam seminggu terakhir, akhirnya diputuskan kegiatan TPA kembali dilaksanakan namun di rumah ustadzahnya. Awalnya, kegiatan TPA ini dikonsentrasikan di dua tempat terpisah antara laki-laki dan perempuan.
“Tetapi karena pesertanya sedikit, maka semuanya dikumpulkan di sini,”paparnya.
Kegiatan mengajipun hanya berlangsung singkat yaitu mulai pukul 16.00 WIB hingga 17.00 WIB. Tidak ada buka bersama ataupun takjilan seperti Ramadan-Ramadan tahun-tahun sebelumnya. Namun sebagai penyemangat kadang ia harus merogoh koceknya sendiri untuk membelikan jajanan anak-anak peserta TPA di rumahnya. Tak jarang ada peserta TPA yang membawa makanan kecil titipan dari orangtuanya untuk dibagikan.
Kegiatan TPA di rumahnyapun tak bisa berjalan maksimal mengingat tempat yang seadanya. Selain digunakan sebagai tempat tinggal, ia juga membagi ruang di rumahnya untuk usaha menjahit yang ia jalani. Praktis, terkadang bahan jahitannya dibuat mainan anak-anak peserta TPA yang umurnya masih balita.
Ketua Takmir Masjid Al Ikhlas Plumbungan, Tugiran mengakui banyak kegiatan yang rutin diselenggarakan setiap bulan Ramadan, tahun ini tak jadi dilaksanakan. Pengajian menjelang buka puasa dan takjilan, sholat tarawih berjamaah, tadarus Al Quran, pengajian nuzulul Al Qur’an, iktikaf tahun ini sudah tidak ada lagi.
“Kalau tarawih dan jumatan itu warga yang tetap ingin menyelenggarakannya. Saya tidak bisa melarang sepenuhnya kegiatan beribadah. Warga yang tetap ingin berkegiatan di masjid ya silahkan namun dengan catatan itu tadi. Protokol kesehatan tetap dipatuhi,” tutupnya.
-
Uncategorized4 minggu yang laluTak Ikut Aksi di Istana, PPPK Gunungkidul Tetap Serukan Desakan Kepastian Status Kontrak
-
Uncategorized3 minggu yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized4 minggu yang laluTolak Tawaran Uang Damai, Korban Penganiayaan Brutal Oknum Pesilat Bersikukuh Tak Cabut Laporan
-
Uncategorized4 minggu yang laluSiaga Darurat Gunungkidul Diperpanjang 3 Bulan, Kemarau Diprediksi hingga November
-
Uncategorized4 minggu yang laluProses Pembebasan Lahan Berproses, Sekolah Internasional Bakal Segera Dibangun di Patuk
-
Uncategorized2 minggu yang laluMerintis Watusigar Gemilang, Feri Sulistyono Usung Digitalisasi dan Transparansi Pemerintahan
-
Uncategorized4 minggu yang laluTabrakan di Jalan Lingkar Utara Piyaman, Pelajar 17 Tahun Tewas di Lokasi
-
Uncategorized3 minggu yang laluCek Dapur MBG di Gunungkidul, Wakil Ketua Komisi VII Apresiasi SOP Pelaksanaan MBG
-
Uncategorized3 minggu yang laluWarga Kelor Pertanyakan Pembangunan Tower 72 Meter, Mengaku Tak Pernah Dilibatkan
-
Uncategorized4 minggu yang laluKelor Berubah, Kelor Berbenah, Wayahe Ganti Lurah
-
Uncategorized2 minggu yang laluPintu Depan Terkunci, Suami Temukan Istri Meninggal
-
Uncategorized3 minggu yang laluKelok 18 Dibuka Uji Coba, Rest Area Baru Bisa Dipakai Sekitar Setahun Lagi
