fbpx
Connect with us

Sosial

Abaikan Protokol Kesehatan, Warga Penerima Bantuan Sosial Berdesak-desakan di Kantor Kecamatan

Diterbitkan

pada tanggal

Semanu,(pidjar.com)–Minggu (17/05/2020) pagi tadi Dinas Sosial dan PT Pos melakukan penyaluran bantuan sosial tunai (BST) dari Kementerian Sosial ke warga Kecamatan Semanu. Mayoritas dari warga tersebut merupakan warga Desa Pacarejo karena jumlah warganya sangat banyak. Sejak pagi tadi, masyarakat penerima bantuan telah memadati kompleks Kecamatan Semanu. Yang patut disayangkan, mereka tidak menerapkan protokol kesehatan dan justru berdesak-desakan.

Pantauan di lokasi, dari sekitar Puskesmas Semanu telah dipadati kendaraan milik pengantar penerima bantuan. Banyak orang yang berjejer tanpa menerapkan jaga jarak. Masuk ke kompleks kecamatan, tepatnya di depan gerbang penerima bantuan sudah berdesak-desakan, begitu pula dengan yang ada di dalam plataran Kantor Camat, mereka sama sekali tidak memperhatikan jarak satu sama lain dan berdesak-desakan.

Sebagian dari mereka merupakan lansia dan ada beberapa yang masih kategori muda. Namun tetap saja tidak memperhatikan protokol kesehatan, ada pula yang memakai masker tapi hanya di kaitkan didagunya saja. Petugas dari PT Pos dan tim lainnya beberapa kali memberikan himbauan untuk penertiban, tapi tetap saja sebagian dari mereka tidak menghiraukan. Beberapa kali, proses dihentikan tidak lama menunggu agar para penerima bantuan itu tertib.

Peta Sebaran Status COVID-19 di Kabupaten Gunungkidul
*Credits: https://bit.ly/statCovGK (updated)

Kepala Bidang Kesejahteraan Sosial, Dinas Sosial Gunungkidul, Hadi Hendro Prayogi mengatakan, hari ini pembagian BST untuk Desa Pacarejo dan sebagian dari desa lain di kecamatan Semanu. Memang dalam pembagian sempat tidak kondusif karena penerima bantuan justru berjubel dan berdesakan. Selasa ini ada sekitsr 1002 penerima bantuan dan mayoritas dari Pacarejo.

Berita Lainnya  Klaim Tingkat Kehadiran 99% Pada Hari Pertama Kerja, Pemkab Ancam Beri Sanksi ASN Yang Bolos

“Sebenarnya sudah dijadwal, tapi mereka justru datang dalam satu waktu dan berjubel seperti ini. Tentu ini menjadi bahan evaluasi kita semua, agak was-was memang kita sudah berusaha memberikan himbauan,” jelas Hadi Hendro Prayogi.

Menjelang siang, menurutnya kondisi sudah bisa dikendalikan. Masyarakat sudah perlahan mulai bisa diatur, menurutnya dari pengamatan sementara memang pembagian di Kecamatan Semanu ini yang berjalan tidak sesuai dengan harapan.

“Ini mayoritas dari Pacarejo karena penerimanya sangat banyak sekali,” tambah dia.

Dari pihak Kepala PT Pos Kantor Wonosari, Budi Purnomo mengatakan memang pembagian di Kecamatan Semanu ini tidak sesuai harapannya. Diakui ada sekitar 1002 penerima bantuan. Dari PT Pos sendiri sudah melakuakn penjadwalan di pagi hari dan siang dari jam 08.00 WIB-12.00 dan sesi berikutnya siang sampai sore. Hanya saja semua tumpah dipagi hari, sehingga agak kuwalahan dan penerima berjubel.

“Tadi langsung kita ubah skemanya. Saya datangkan tim dari Wonosari biar ada beberapa loket, ini diluar prediksi. Jadi sebenarnya ada 2 sesi pagi-siang, dan siang-sore tapi justru tumpah sekarang, ya mohon maaf yang diterima uang mungkin keburu butuh atau gimana,” jelasnya.

Bedasarkan pengamatan dari PT Pos sendiri, memang untuk pembagian di Kecamatan Semanu inilah yang agak ambyar dibandingkan dengan desa-desa lain yang jauh lebih tertib menerapkan protokol kesehatan. Untuk meredam kondisi semakin tidak menentu dan menyalahi protocol kesehatan dari Koramil dan Polsek pun diminta menerjunkan anggota untuk penertiban dan pengamanan. Namun tetap saja, ada sebagian orang yang masih ngeyel dan memaksa petugas untuk bisa masuk dan berdesakan.

Berita Lainnya  Tuntut Bupati Turun Tangan, Pengacara Balon Kades Ancam PTUNkan Panitia Pilkades Wonosari

“Ini akan jadi bahan evaluasi kita semua dalam penyaluran berikutnya,” tambah dia.

Salah seorang warga Desa Pacarejo, Kirun mengungkapkan pembagian bantuan ini dianggap kurang efektif. Sekedar sarannya untuk menghindari kerumunan maka dalam pembagiannya lebih bagi di bagi per padukuhan dan dilakukan di masing-masing padukuhan itu saja. Sehingga tidak menimbulkan tumpukan banyak orang di tengah pandemi ini.

“Katanya menghindari kerumunan massa, tapi kondisinya seperti ini berjubel dan desak-desakan. Kalau ada satu warga saja yang mohon maaf positif, OTG atau reaktif kan semuanya ambyar ini wong desek-desekan gini,” tutupnya.

 

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler