fbpx
Connect with us

Budaya

Resep Perawatan Joglo Berusia 200 Tahun Yang Masih Berdiri Kokoh di Monggol, Pakai Air Teh

Published

on

Saptosari,(pidjar.com)–Sebuah bangunan rumah berbentuk Joglo khas Yogyakarta lawas masih berdiri kokoh di Padukuhan Baros Lor, Desa Monggol, Kecamatan Saptosari. Sejak beberapa tahun silam, banyak kali menapatkan penawaran dari pecinta rumah Joglo dengan harga yang fantastis, namun sang pemilik enggan tergoyah. Bahkan, Joglo Monggol berusia 200 tahun ini sekarang justru menjadi cagar budaya.

Bangunan kuno tersebut kini ditempati oleh keluarga Suparjono. Lokasi bangunan sendiri sebenarnya berada di tepi jalan raya. Dengan adanya proyek pembangunan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS), bangunan nampak seperti di pedalaman.

Pembangunan JJLS dulukala sempat direncanakan melewati bangunan tersebut. Namun lantaran bangunan merupakan cagar budaya dan pemilik enggan memberikan persetujuan pembebasan lahan, JJLS akhirnya diputar.

Memasuki halaman rumah seluas 600 meter persegi itu, suasana kuno kental dirasakan. Rindangnya pepohonan serta tanah merah terlihat di sekitar bangunan yang dibalut dengan kayu tua di seluruh bangunan.

Bangunan itu sendiri terdiri dari lima jenis yakni, Kuncung, Lintring, Pendopo, Pringgitan dan Dalem Ageng. Setiap bangunan memiliki makna serta fungsi yang berbeda.

“Lintring itu tempat untuk bersantai, sedangkan Joglo adalah tempat untuk menyambut tamu, sedangkan Dalem Ageng merupakan tempat untuk istirahat,” kata bapak 65 tahun tersebut, Kamis (29/11/2018).

Dalem Ageng pun masih dibagi menjadi 3 bagian, yaitu senthong kiwo (kiri), senthong tengen (kanan), dan senthong tengah, untuk senthong tengah berisi meja rias, tempat tidur, kasur, bantal, akan tetapi tidak dipergunakan untuk istirahat (tidur).

“Senthong tengah itu menurut orang-orang dulu adalah tempat peristirahatan Dewi Sri, yaitu dewi pembawa rejeki, yang untuk istirahat hanya senthong kanan dan kiri,” jelasnya.

Di dalam Pringgitan, terdapat satu meja makan, dan satu almari menurutnya pada zaman dahulu pringgitan difungsikan untuk menyimpan wayang.

Tidak hanya rumahnya saja yang tergolong antik tetapi memasuki pawon atau dapur, peralatan yang digunakan sebagian adalah peralatan kuno, seperti dandang yang terbuat dari tembaga, lalu tempat air yang menurutnya lebih tua daripada empunya rumah.

“Untuk genthong (tempat air) ini saja lebih tua dari saya, untuk menjaganya agar tidak rusak saya lapisi dengan semen. Disini saya juga masih menggunakan tungku dengan kayu bakar,” katanya.

Suparjono mengakui, untuk perawatan menelan biaya tak sedikit, mengingat rumah tersebut hampir keseluruhan berbahan kayu. Mulai dari dinding, rusuk rumah, tiang-tiang penyangga juga terbuat dari kayu.

“Dulu waktu ayah saya bisa dikatakan anti dengan cat, plitur, maupun vernis. Untuk merawatnya ayah saya membasuh kayu dengan air teh,” katanya.

Pada tahun 2015 dirinya mendapatkan bantuan dari pemerintah kabupaten Gunungkidul sebesar Rp 600 juta yang digunakan untuk melakukan perawatan rumahnya. Namun karena perawatan dilakukan oleh pemborong, yang muncul adalah pengerjaan secara asal-asalan dalam melakukan perawatan dan tidak memperhitungkan umur Joglo.

“Saat itu pemborong membersihkan dengan sabun colek, sabun cuci sehingga warna rumah yang di depan rusak. Melihat itu saat akan melanjutkan perawatan di bagian tengah saya stop,” katanya.

Ia tidak menyebutkan secara pasti berapa biaya yang digunakan untuk melakukan perawatan rumahnya. Akan tetapi ia menegaskan bahwa setiap hari dirinya harus mengganti satu atau dua genting rumahnya ketika musim hujan seperti ini.

“Kalau genteng hampir setiap hari harus ganti mengingat cuaca seperti ini. Selain itu juga di sekitaran sini banyak pohon-pohon yang berbuah seperti sawo yang dapat mengakibatkan genting pecah saat jatuh,” terangnya.

Tetapi bantuan tersebut hanya diberikan satu kali saja sedangkan untuk perawatan tiap bulannya menggunakan dana dari kantong pribadinya. Ia berharap agar kedepannya mendapatkan bantuan untuk perawatan tiap bulannya dari pihak-pihak terkait dalam hal ini Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul.

“Selain itu saya juga berharap agar ke depannya ada generasi penerus yang mau untuk menjaga rumah adat seperti ini,” katanya.

Sementara itu, Staff Bidang Pelestarian Warisan dan Budaya, Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul, Hadi mengatakan pihaknya sudah ada inisiatif untuk memberikan bantuan kepada rumah yang masuk cagar budaya. Namun demikian Dinas Kebudayaan Provinsi menstop bantuan tersebut lantaran akan menyusun petunjuk teknis (juknis) agar tidak saling tumpang tindih antara aturan pusat, provinsi, maupun kabupaten.

“Ada kekawatiran, jadi rumah Joglo memiliki nilai yang tinggi dan banyak yang tidak terawat jika mendapatkan dana perawatan dan dapat diperbaharui dan menaikkan nilai, takutnya setelah nilai tinggi joglo dijual. Itu termasuk memperkaya diri sendiri,” terangnya.

Menurutnya dalam jual beli cagar budaya didalam undang-undang memang diperbolehkan tetapi harus seizin dinas Kebudayaan.

“Harus dengan izin Dinas Kebudayaan, selain itu bangunan lebih baik tidak dipindah dari asalnya,” tutupnya.

 

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler