Sosial
Sektor Pertanian dan Peternakan di Gunungkidul Terancam Dampak La Nina, Pemerintah Keluarkan Surat Himbauan
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Selain bencana alam, sektor pertanian dan peternakan di Gunungkidul dikhawatirkan turut terdampak badai La Nina. Terlebih saat ini tengah memasuki musim tanam pertama. Sejumlah lahan terancam tergenang air bila hujan lebat dengan intensitas tinggi turun. Selain itu, pada sektor peternakan badai tersebut juga dapat memicu munculnya penyakit pada ternak.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto mengatakan, berdasarkan prediksi iklim dari BMKG, terdapat kenaikan curah hujan hingga lebih dari 40 persen akibat anomali iklim La Nina. Hal itu tentu dapat berdampak pada lahan yang biasanya tergenang air ketika intensitas hujan tinggi.
“Kita perlu mewaspadai lokasi lahan yang biasanya tergenang akibat curah hujan tinggi. Kita himbau untuk segera melakukan langkah antisipasi banjir dengan membuat saluran drainase di lahan-lahan yang belum ada saluran pembuangan air hujan,” ujar Bambang, Rabu (11/11/2020).
Selain itu, para petani yang memiliki lahan dengan karakteristik tergenang air itu dihimbau untuk menyiapkan pompa air sebagai alat penyedot jika terjadi genangan. Tak hanya itu, hujan berlebih juga dikhawatirkan memicu munculnya sejumlah hama pertanian.
“Kewaspadaan terhadap hama penyakit tanaman seperti wereng coklat pada padi (WBC); hama hawar daun bakteri atau kresek dan lainnya. Kita akan selalu berkoordinasi dengan petugas pertanian kapanewon, penyuluh pertanian lapangan dan petugas pengamat organisme pengganggu tanaman (POPT) setempat.

Selain di pertanian, badai La Nina yang diprediksi akan terjadi, juga dikhawatirkan akan berdampak pada sektor peternakan. diantaranya yakni banyak timbulnya penyakit pada hewan ternak seperti BEF (Bovine Ephemeral Fever), Diare, Myasis, Metabolic disorder, gangguan reproduksi sapi dan lain sebagainya. Kemudian pada sektor peternakan unggas juga dikhawatirkan akan terpengaruh. Salah satunya ialah pada ayam petelur, jumlah produksi diperkirakan mengalami perubahan.
“Sehingga diperlukannya booster multivitamin pada program kesehatan unggas khususnya layer (petelur) secara terprogram dan berkesinambungan. Di sektor unggas komersial dikhawatirkan akan muncul beberapa penyakit respiratorik seperti CRD (Chronic Respiratory Disease) yang akan sangat mengganggu kualitas dan kuantitas produksi daging ayam karena tingkat deplesi yang tinggi,” ucap Bambang.
Beberapa penyakit pada hewan yang mungkin akan terjadi akan selalu menjadi perhatian UPT Puskeswan. Hal itu diharapkan bakal mempermudah dalam analisa antisipasi menghadapi dampak perubahan iklim yang ekstrem.
-
Uncategorized2 minggu yang laluTak Ikut Aksi di Istana, PPPK Gunungkidul Tetap Serukan Desakan Kepastian Status Kontrak
-
Uncategorized1 minggu yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized4 minggu yang laluSakit Hati Sering Diejek Ketika Memulung Sampah, 2 Remaja Putri Nekat Bakar Sekolah
-
Uncategorized4 minggu yang laluSempat Diancam Akan Dilindas Lehernya, Dua Remaja Babak Belur Dihajar Kelompok Pemuda Silat
-
Uncategorized4 minggu yang lalu9.000 Penerima Bansos Gunungkidul Disetop karena Terindikasi Judi Online
-
Uncategorized3 minggu yang laluKelok 23 Tuntas 100 Persen, Akses Gunungkidul-Bantul dengan View Laut Selatan Segera Dibuka
-
Uncategorized3 minggu yang laluSaling Bajak Kader Antara PSI dan NasDem Gunungkidul Makin Seru, Ini Tanggapan Sang Ketua
-
Uncategorized3 minggu yang laluPenerima PKH di Gunungkidul Turun 2.000 Orang, Ini Penyebabnya
-
Uncategorized3 minggu yang laluBupati Turun Tangan, Polemik Seleksi Ulu-Ulu Siraman Mulai Ditelusuri
-
Uncategorized2 minggu yang laluTolak Tawaran Uang Damai, Korban Penganiayaan Brutal Oknum Pesilat Bersikukuh Tak Cabut Laporan
-
Uncategorized3 minggu yang laluGunungkidul Jajaki Kerjasama dengan Korea Selatan, Buka Peluang Jadi Pekerja Musiman
-
Uncategorized2 minggu yang laluSiaga Darurat Gunungkidul Diperpanjang 3 Bulan, Kemarau Diprediksi hingga November
