fbpx
Connect with us

Sosial

Sukses Manfaatkan Secuil Ladang, Ibu-ibu Ini Kini Tak Perlu Lagi Belanja ke Pasar

Published

on

Nglipar,(pidjar.com)–Produktifitas masyarakat dalam mengembangkan pertanian terus mendapat dorongan dari sejumlah instansi. Tak hanya dalam hal ekonomi saja, akan tetapi dengan pengembangan semacam ini, ketahanan pangan dapat senantiasa terjaga.

Hal ini agar masyarakat, tidak hanya petani saja juga dapat ikut berkontribusi dalam menghasilkan produk terlebih yang berkaitan dengan bahan makanan. Meski Gunungkidul mayoritas warganya merupakan petani, namun tidak sedikit pula dari warga yang hanya memiliki seculi lahan.

Dengan kondisi seperti ini, tentu harus terdapat inovasi dan pemikiran yang luas. Sehingga meski hanya memiliki lahan sempit namun tetap dapat produktif dan paling tidak mengurangi ketergantungan pada bahan makanan dari luar daerah. Seperti yang diakukan oleh salah satu kelompok tani KWT di Desa Pengkol, Kecamatan Nglipar misalnya. Kelompok tani ini sejak beberapa tahun belakangan ini berupaya membuat suatu terobosan baru yang produktif.

Pemanfaatan lahan sempit lebih dipilih lantaran tidak semua warga di desa ini memiliki lahan pertanian. Ini juga bisa menjadi bahan kegiatan di waktu luang bagi ibu-ibu rumah tangga. Lahan di pekarangan maupun tempat terbuka di sekitar rumah disulap oleh ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok tani ini. Beberapa jenis sayuran dan tamanan toga terus dibudidayakan oleh kelompok tani ini.

Meski lahannya sempit, namun melalui pemanfaatan polibag dan media lain yang sekiranya dapat digunakan untuk penanaman hasilnya pun ternyata juga cukup signifikan. Paling tidak saat ini, ibu-ibu yang telah mengembangakan lahan sempit tersebut jika ingin memasak tidak perlu repot ke pasar, melainkan tinggal memetik hasil berkebun minimalis mereka.

“Awalnya hanya iseng saja, kemudian hati seolah terpanggil untuk lebih menggembangkan, saya gandeng ibu-ibu kelompok tani KWT. Tanggapannya positif mereka juga seneng dengan kegiatan ini,” kata Sumarno salah seorang tokoh masyarakat dan pendamping kelompok tani ini.

Dengan pemanfaatan lahan sempit menjadi lokasi produksi, ada sejumlah keuntungan yang diperoleh. Selain produksi, para ibu-ibu juga memiliki kegiatan yang bermanfaat. Perkumpulan mereka pun memiliki nilai yang tinggi. Adapun beberapa komoditi yang ditanam diantaranya adalah cabai, sawi hijau, daun seledri, tomat, terong, dan beberapa jenis lainnya. Dalam perawatannya juga menggunakan pupuk organik dan kandang, sehingga tidak menggunakan bahan kimia.

“Jadi ketergantungan ibu-ibu untuk membeli bahan-bahan di pasar atau warung berkurang. Ekonomi mereka paling tidak sedikit stabil, kalau ingin dikembangkan menjadi bisnis kan juga bisa. Apalagi karena ini tidak menggunakan bahan kimia, jadi sehat,” imbuh dia.

Slamet SPd, MM bersama para wanita kelompok tani yang dibinanya untuk mengembangkan lahan pekarangan menjadi kebun sayur

Sementara itu, tokoh masyarakat Nglipar yang juga anggota DPRD DIY, Slamet S.Pd, MM mengatakan, dirinya sangat mendukung adanya kegiatan pemanfaatan lahan sempit untuk mempertahankan ketahanan pangan yang dilakukan masyarakat ini. Dengan demikian paling tidak, masyarakat yang tidak memiliki lahan pertanian dapat berkreasi sedemikian rupa dalam produktifitas pangan.

Menurut Slamet, seharusnya, dari pemerintah desa atau bahkan pemerintah daerah juga ikut memfasilitasi dalam pengembangan pertanian minimalis semacam ini.

“Sekarang ini, mereka yang hanya berkreasi sendiri saja bisa berkembang baik. Apalagi ada dukungan atau bantuan dari pemerintah,” papar caleg DPRD DIY Partai Golkar untuk Dapil 7 Gunungkidul bernomor urut 3 ini.

Bantuan dalam bentuk apapun tentu sangat berdampak dalam pengembangan kreatifitas yang patut diacungi jempol ini. Misalnya saja selain bentuk bibit atau media, bisa juga pendampingan sehingga produk yang dihasilkan meski hanya dikonsumsi sendiri hasilnya lebih maksimal.

“Ya memang perlu perhatian apa lagi ini inspiratif sekali. Tidak hanya membantu dalam ekonomi saja sebenarnya, tapi juga dalam hal lainnya banyak manfaatnya,” ucap Slamet.

Jika ke depan masyarakat Gunungkidul mampu berkreasi semacam ini, bukan tidak mungkin angka ketergantungan bahan makanan dan lainnya dapat sedikit terbantu. Mengingat segala macam kebutuhan dapat terpenuhi sendiri dari lahan-lahan sempit yang disulap sedemikian rupa.

“Bisa juga kan menerapkan sistem barter. Misalnya si A punya terong terus barter dengan B yang memiliki cabai, pada intinya terus berputar kok. Kalau misalnya hasil melimpah kan bisa untuk bisnis juga,” imbuh dia.

Ke depan, skema ini diharapkan bisa terus dikembangkan. Tidak hanya terbatas dalam bentuk sayuran saja sebenarnya, bisa juga untuk budidaya lele atau hewan lain juga dapat dilakukan meski hanya memiliki lahan yang tidak memadahi. Meski terkesan sepele namun hal ini sangat patut dikembangkan agar daerah memiliki ciri khas.

Sebagai anggota legislatif, Slamet berjanji akan berusaha sekuat mungkin untuk mendorong pemerintah memberikan perhatian terhadap sektor yang sangat potensial ini.

“Kita bisa dan mampu tidak tergantung dengan daerah lain. Masyarakat tidak perlu terpengaruh dengan fluktuasi harga pasar, apalagi ini organik jadi sehat sekali,” tutup dia.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler