fbpx
Connect with us

Sosial

Tak Punya Biaya Berobat, Edo 5 Tahun Lumpuh Usai Jatuh di Sekolah

Diterbitkan

pada tanggal

Tanjungsari,(pidjar.com)–Sudah 5 tahun terakhir ini Edo Saputra (12) warga Padukuhan Kanigoro, Kalurahan Kemadang, Kapanewon Tanjungsari tak bisa lagi beraktifitas seperti biasa. Edo yang malang mengalami kelumpuhan pasca terjatuh saat bermain di sekolah. Beruntung di tengah kemalangan yang menimpanya ini, Edo memiliki ibu yang sangat telaten dalam merawatnya.

Kamis (27/08/2020) siang tadi, pidjar.com bertandang ke rumah Edo. Saat itu, sang ibu, Wartini tengah menyiapkan makan siang untuk sang buah hati. Edo sendiri memang pasca kelumpuhan yang dideritanya, sebagian besar waktunya dihabiskan beraktifitas di tempat tidur.

Malang yang menimpa Edo sendiri terjadi manakala bocah ini duduk di kelas 1 SD. Edo yang sedang bermain dengan temannya terjatug. Saat itu, Wartini mengaku sama sekali tak menyangka bahwa kejadian ini akan mengubah nasib anaknya. Pasalnya, pasca kejadian, Edo terlihat tak terluka. Sang putra juga tidak memberitahunya bahwa ia baru saja terjatuh saat bermain di sekolah.

“Baru tiga minggu setelah kejadian, Edo ngeluh sakit luar biasa saat bangun tidur. Ia terus berteriak sakit sakit, loro banget,” ujar Wartini sembari mengingat kejadian yang menyayat hatinya tersebut.

Mendapati anaknya yang mengeluh kesakitan, Wartini lantas membawa Edo ke rumah sakit untuk diobati. Kala itu ia bergegas membawa sang putra ke RSUD Wonosari. Saat itu berdasarkan diagnosa dokter, Edo divonis menderita cedera pada tulang ekornya. Wartini sendiri mengaku hanya mendapatkan obat.

“Waktu itu cuma diberikan obat. Saat diperiksa, Edo juga tidak dirontgen,” imbuh Wartini.

Lambat laun, kondisi Edo semakin memburuk. Bahkan, berselang beberapa waktu, sang putra sampai sama sekali tak bisa berjalan. Wartini yang kebingungan mengaku tak bisa berbuat banyak. Hal ini lantaran secara perekonomian, ia tidak mampu untuk memberikan pengobatan yang pantas kepada putranya. Ia waktu itu hanya berharap bahwa luka tersebut segera pulih dan Edo bisa kembali berjalan.

“Tidak menyangka kalau akibatnya akan seperti ini,” tutur dia.

Kondisi keluarga Edo sendiri memang cukup memprihatinkan. Wartini mengaku sudah cukup lama bercerai dengan suaminya. Sang ayah sendiri berprofesi sebagai pengemis. Sang ayah diungkapkan Wartini meninggalkan Edo kecil bersama dua adiknya tanpa kabar selama tiga bulan. Sehingga cukup wajar ketika Edo sakit, Wartini yang memang hanya menggantungkan hidup dari bekerja sebagai buruh serabutan, tak mampu menanggung biaya berobat putranya.

“Kondisi ekonomi sampai sekarang yang masih begini, seadanya, saya juga sudah maksimal biar Edo bisa kembali seperti anak normal,” sambungnya.

Sejauh ini, di tengah keterbatasan yang mendera, Wartini tetap berusaha untuk memberikan pengobatan kepada sang putra. Namun selama ini, Edo hanya sebatas dibawa ke pengobatan alternatif yang biayanya pun suka rela. Ia masih berharap, sang putra bisa segera sembuh dan bisa kembali berjalan serta beraktifitas seperti biasa.

“Kalau berobat saya pakai ojek. Ngojeknya sekitar 30ribu pulang pergi,” ujarnya.

Kemalangan sendiri tak berhenti sampai di sini. Selama empat tahun belakangan ini, Wartini bersama ketiga putranya menumpang di rumah kakaknya yang tak terpakai. Namun, pada tahun 2020 ini, rumah yang ia tinggali ini diminta kembali diminta sang kakak karena akan dipergunakan. Ia dan 3 putranya akhirnya terpaksa menghuni rumah bagian belakang yang difungsikan sebagai dapur.

Sejak setahun terakhir ini, Wartini dan putra-putranya tinggal di dapur reyot berukuran 5×6 meter. Kondisinya memang benar-benar memprihatinkan lantaran hanya berdinding anyaman bambu yang sudah usang dengan lantai yang masih berupa tanah. Tak banyak perabot layak yang ada di ruangan itu. Tak terkecuali tempat tidur yang hanya berkasur sangat tipis. Tentu ini jauh dari kata nyaman bagi mereka untuk beristirahat. Kasur tidur tipis ini sendiri diprioritaskan untuk Edo yang memang berkebutuhan khusus. Ia dan putra lainnya memilih tidur menggunakan tikar seadanya.

“Saya ya cuma pasrah, mau bagaimana lagi karena memang tidak punya pekerjaan. Kadang saya buruh tani kadang bantu nyuci orang, nyetrika paling tidak untuk kebutuhan pangan, semoga ada rejeki, untuk memperbaiki biar gak kehujanan,” tuturnya.

Selama menderita sakit, Edo pun terpaksa putus sekolah. Ia hanya beraktifitas di tempat tidur. Menurut Wartini, yang cukup membuatnya bahagia, sang putra sudah mulai memiliki semangat untuk melanjutkan hidup di tengah sakit yang mendera. Edo saat ini mulai sesekali membuat layang-layang untuk dijual.

“Lumayan untuk kebutuhan jajan dia sendiri,” tutup Wartini sambil menyeka air matanya.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler