fbpx
Connect with us

Sosial

Tombo Gelo Tak Kebagian, Warga Serbu Penjual Bakmi Jawa di Seputaran Kota Wonosari

Published

on

Wonosari, (pidjar.com)–Antusiasme masyarakat dalam acara pemecahan rekor MURI pada Jumat (21/06/2019) kemarin benar-benar di luar dugaan panitia. Panitia memperkirakan ada sekitar 15.000 masyarakat yang tumpah ruah memadati sisi barat Alun-alun Pemkab Gunungkidul yang menjadi arena penyajian bakmi. Bahkan ada sejumlah pengunjung dari luar daerah sengaja hadir untuk menyantap bakmi jawa gratis yang memang gencar dipromosikan di berbagai sosial media. Banyak kejadian unik dalam lautan manusia yang menyerbu bakmi, dari kekecewaan serta kebingungan penjual yang kehilangan piring.

Meski nampak semarak, namun membludaknya warga yang datang ini juga menimbulkan masalah. Kekecewaan nampak pada sejumlah pengunjung yang hadir dalam perhelatan akbar sebagai rangkaian peringatan hari jadi Kabupaten Gunungkidul yang ke 188 ini. Para warga ini terpaksa harus rela menerima kenyataan tak bisa mencicipi bakmi jawa yang disajikan untuk memecahkan rekor MURI ini. Pada perhelatan ini, panitia hanya menyediakan sekitar 5000an porsi bakmi jawa. Akibatnya, banyak warga yang menyerbu para penjual bakmi jawa di sekitar Kota Wonosari yang masih buka untuk mengobati kekecewaan mereka.

“Ya agak kecewa sih, ini yang dapet di sini dari jam berapa ya kok saya sudah mengantri dan berjalan ke utara habis semua,” kata pengunjung asal Kabupaten Bantul, Zulkarnain, Jumat malam.

Memang, jika dihitung, hanya dalam waktu kurang dari 20 menit, 5657 porsi bakmi jawa rebus ludes diserbu pengunjung. Tak tanggung-tanggung, sejak Bupati Gunungkidul, Badingah mempersilahkan masyarakat menyantap bakmi dari panggung sisi selatan, antrian manusia mengular dan sangat padat. Hampir tidak ada celah di sepanjang jalan sebagai titik utama lokasi.

“Saya sama keluarga saya, sebenernya cuma penasaran saja sama situasinya,” ujar Zulkarnain.

Di sisi lain, terdapat santri dari Pondok Pesantren Darul Quran Ledoksari dan Pondok Pesantren Al Hikmah Karangmojo yang memang diundang khusus oleh bupati, namun sesampainya di lokasi tidak kebagian. Salah satu santri, Ayu mengatakan, ia datang bersama rekan-rekan pondok pesantren.

“Memang undangan setengah 7 kami Sholat Magrib dulu, tapi di lokasi sudah tidak kebagian. Tidak apa-apa, memang luar biasa masyarakat yang hadir,” tuturnya.

Kejadian unik lainnya yang juga terjadi, banyak pedagang bakmi yang tergabung dalam Paguyuban Manunggal Jaya yang kehilangan piring. Pasalnya piring yang digunakan memang milik para pedagang yang biasanya digunakan untuk berdagang bakmi jawa. Salah satunya Nurswidi. Ia dan karyawannya sibuk mondar-mandir mencari keberadaan piring yang sudah ia beri tanda. Sebanyak 40 piring miliknya hilang entah di mana.

“Begitu masyarakat masuk saya sudah tidak bisa memantau ke mana piring saya berada, depan saya ini benar-benar seperti lautan manusia,” bebernya.

Banyak masyarakat yang hadir dan merasa kecele, karena sudah dipersiapkan tidak makan sebelumnya dan harus pulang dengan harapan yang pupus. Namun, di luar Alun-alun Pemkab Gunungkidul, ada sejumlah pedagang bakmi yang tidak mengikuti kegiatan dan kebanjiran pembeli. Salah satunya warung bakmi milik Wasidi yang berada di Siyono. Sejak pukul 18.00 ia dan karyawannya tampak sibuk mempersiapkan pesanan.

“Kelihatannya banyak yang kecele, makanya dari tadi banyak sekali yang memesan untuk obat kecewa,” ungkap Wasidi.

Kendati banyak masyarakat yang menyerbu warung bakmi miliknya, ia tidak menaikan harga. Ia tetap berjualan karena memang tidak tergabung dalam paguyuban.

“Harga tetap ya Rp. 14 ribu satu porsinya,” tutup dia.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler