fbpx
Connect with us

Peristiwa

Tebing Longsor di Dua Titik di Semin dan Ngawen, 1 Rumah Rusak 2 Lainnya Terancam Longsor Susulan

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Bencana tanah longsor terus melanda sejumlah wilayah Kabupaten Gunungkidul pada awal tahun 2019 ini. Peristiwa terbaru, longsor terjadi di Desa Semin Kecamatan Semin dan Padukuhan Banteng Wareng, Desa Tancep, Kecamatan Ngawen pada Minggu (27/01/2019) kemarin. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, namun tiga rumah di dua wilayah itu terancam longsor susulan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan, longsor di wilayah Semin terjadi tepatnya di Padukuhan Parangan RT 01 RW 09, Desa Semin, Kecamatan Semin. Sebelumnya, wilayah tersebut diguyur hujan selama beberapa jam pada Minggu siang hingga sore hari.

“Hujan dulu dari pukul 13.00 sampai pukul 17.00 WIB, tidak langsung longsor. Sebelumnya tidak ada yang mengira akan longsor,” kata Edy, Senin (28/01/1019).

Kemudian pada malam hari sekitar pukul 22.00 WIB, sebuah lereng setinggi 10 meter dengan panjang 20 meter longsor. Sejumlah pohon yang berada diatas tanah tersebut ikut ambruk terbawa material longsor tersebut.

“Pas di sekitar lokasi ada dua rumah warga, yakni milik Sunarno (55) dan Joni (35). Untungnya masih berada beberapa meter dan belum sempat merusak bangunan rumah,” kata dia.

Edy menjelaskan, untuk proses evakuasi sendiri dilakukan oleh warga setempat pada Senin pagi ini. Pihaknya menghimbau kepada masyarakat untuk selalu waspada saat musim hujan seperti ini.

“Potensi longsor kemungkinan masih ada. Kita himbau untuk waspada,” kata dia.

Kemudian untuk di wilayah Tancep, longsor juga terjadi sekitar pukul 04.00 WIB. Di lokasi tersebut, sebuah rumah terdampak runtuhan longsor. Beruntung empat orang penghuni rumah tidak mengalami luka sedikitpun.

“Rumah di (Padukuhan) Banteng Wareng itu milik Repin (39). Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut,” ucap Edy.

Lebih lanjut Edy mengatakan, untuk bantuan perbaikan jalan dan rumah terkena dampak, pihaknya akan melakukan pendataan. Nantinya akan dilihat siapa yang akan membantu perbaikan, karena jika dibebankan oleh BPBD maka dananya tidak akan mencukupi.

“Anggaran kita terbatas, jadi nanti akan kita data terlebih dahulu,” ucapnya.

Kemudian untuk lokasi rawan longsor di Gunungkidul menurut Edy bejumlah 7 kecamatan yang rawan longsor yakni Purwosari, Gedangsari, Patuk, Nglipar, Ngawen, Semin dan sebagian Ponjong .

“Kecamatan kita nyatakan rawan longsor, karena kondisi geografisnya ada di pegunungan,”katanya

Jika merujuk data bencana longsor pada tahun 2017, ada empat kecamatan dengan jumlah kejadian terbanyak. Adapun kecamatan tersebut yakni, Gedangsari, Nglipar, Patuk dan Ponjong. Adapun kejadian Di Gedangsari ada 34 kejadian, Patuk dan Nglipar 14 kejadian kemudian Ponjong 23 kejadian. Ada juga longsor di Tepus, Semin, Karangmojo tapi intensitasnya kecil.

Untuk mengantisipasi terjadinya korban jiwa, EWS telah dipasang di 30 titik. Sehingga dengan demikian, peringatan yang nantinya muncul dapat segera direspon oleh masyarakat. Ada 2 Buah Early Warning System (EWS) longsor di desa Tegalrejo dan Watugajah, Kecamatan Gedangsari mengalami rusak ringan yaitu ada kerusakan pada aki.

“Untuk jumlahnya memang kurang jika melihat luasannya, tetapi saat ini masih didata berapa kebutuhan alatnya. Untuk tahun ini memang belum dianggarkan penambahan dari pemerintah kabupaten, selama ini alat diperoleh dari bantuan propinsi yang ditujukan langsung ke desa,” ucapnya.

Menurutnya, pentingnya EWS dipasang terutama di lokasi yang banyak permukiman, seperti di desa Mongkrong, Sampang, Kecamatan Gedangsari EWS masih terpasang dan berfungsi dengan potensi keretakan selebar 40 meter.

“Jika terjadi longsor di Mongkrong berpotensi menimbun rumah penduduk dan jalan,” ujarnya.

Rumah Rusak Tertimpa Pohon Tumbang

Selain longsor, bencana pohon tumbang juga terjadi di rumah hunian milik keluarga Wardiyo (48) warga Padukuhan Dayakan II, Desa Kemiri, Kecamatan Tanjungsari pada Sabtu (26/01/2019) silam. Rumah tersebut mengalami kerusakan di bagian atap lantaran tersapu reruntuhan pohon tumbang.

Pohon berukuran cukup besar yang tumbuh di pekarangannya tersebut tumbang. Sebagian batang dan dahan dari pohon tersebut menimpa bangunan atap rumahnya.

“Rumah mengalami kerusakan di bagian atap. Kondisi atap sudah bolong, genting berjatuhan dan kayu patah tak kuat menahan beban pohon,” kata Edy Basuki, Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul.

Adapun kerugian diperkirakan mencapai jutaan mengingat kondisi kerusakan di bagian atas yang tidaklah kecil. Usai kejadian, warga setempat dengan dibantu sejumlah petugas BPBD, Tagana, kepolisian dan TNI kemudian pada sore harinya langsung melakukan proses evakuasi.

Membutuhkan waktu yang cukup lama memang dalam evakuasi dan pembenahan ini. Mengingat pohon banyak bercabang dan keseluruhan menimpa atap rumah.

“Selesai kemarin (Minggu), mulai dari evakuasi dan pembenahan,” tambah dia.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler