fbpx
Connect with us

Pariwisata

Telaga Jonge, Dibidik Pemerintah Sebagai Destinasi Pasar Digital

Diterbitkan

pada

BDG

Semanu,(pidjar.com)–Geliat pariwisata di Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu semakin menampakkan diri. Jika selama ini Desa Pacarejo dikenal dengan wisata Goa Kali Suci dan Goa Jomblang kini muncul obyek wisata yang tak kalah menarik. Tempat ini cocok untuk menghabiskan waktu bersama keluarga, sanak saudara atau teman. Telaga Jonge.

Telaga Jonge yang dulunya dikenal dengan sumber air tak pernah surut, kini diubah menjadi sebuah destinasi wisata yang instagramable. Suasana di pinggiran telaga yang asri serta ditumbuhi pepohonan besar nan rindang memiliki daya tarik tersendiri. Sumilir angin yang berhembus menambah kesan yang adem saat duduk-duduk pinggiran telaga. Pengunjung dapat menikmati pemandangan air yang tak pernah surut.

Belakangan ini masyarakat setempat mulai bergeliat untuk semakin memantapkan perkembangan wisata telaga Jonge. Yudas Tadius Andi Candra, pengelola obyek wisata pasar digital Telaga Jonge mengatakan, berbekal dengan latar belakang  petani dan pedagang setempat. Mulai masyarakat dan pemuda memikirkan terobosan baru. Terlebih Telaga Jonge memiliki pontensi dan nilai plus sendiri. Dari Kementerian Pariwisata pun juga membidik obyek ini dijadikan sebagai destinasi pasar digital. Sehingga masyarakat pun semakin memiliki greget dalam berkembang dan meningkatkan pundi-pundi perekonomian.

Berita Lainnya  Jogja Kembali Gelar Wayang Jogja Night Carnival #8 sebagai Puncak Acara HUT Jogja

“Kami menggabungkan konsep modern dengan tradisional. Sehingga ada daya tarik tersendiri untuk kaum milenial berkunjung ke Telaga Jonge,” kata Yudas, Jumat (26/10/2018) disela-sela acara launching Pasar Destinasi Digital Telaga Jonge.

Anak-anak muda dilibatkan dalam pengelolaan dan pengembangan sehingga ide-ide mereka yang kekinian. Hal tersebut disalurkan dalam mengembangkan destinasi ini dapat dikenal oleh wisatawan.

Di obyek wisata ini setiap hari Sabtu dan Minggu para pengunjung disuguhkan dengan deretan pedagang yang menjajakan masakan tradisional khas Gunungkidul. Olahan-olahan makanan ini diproduksi oleh masyarakat setempat, sebagai pengobat kerinduan menyantap jajanan pasar terdahulu. Misalnya Dawet Jaipong, Bubur Ndeso, Baceman, jamu-jamuan, bahkan ada pula bakpao yang terbuat dari ubi jalar dan pastel yang terbuat dari singkong.

Segala macam jajanan dan kerajinan milik warga pun dipampang di setiap ruko-ruko kecil yang terbuat dari kayu-kayu tradisional. Cara pembeliannya pun juga unik, dimana pengunjung harus menikarkan uang rupiah dengan balok-balok kayu atau yang disebut dengan koin. Setiap satu koin setara dengan nilai 2000 rupiah, para pembeli wajib menukarkan koin-koin mereka terlebih dahulu untuk dapat membeli jajanan yang ada.

Berita Lainnya  Kuliner Codot, Menu Ekstrim yang Dipercaya Sembuhkan Asma

Diungkapkan salah seorang pedangan makanan, Karmi waga Kwangen Lor, dengan dikembangkannya wisata ini tentu sangatlah membantu perekonomian warga Desa Pacarejo. Terlebih pendapatan masyarakat akan bertambah dibandingkan dengan hari-hari biasa. Bukan semata-mata pada nilai keuangan namun guyup rukun dan gotong royong warga jauh lebih terangkat.

“Sae sanget menawi enten wadah ngeten niki. Dados telogo niku urip, mboten sekedar dingge ngumbai kados riyen. Pengarepane nggih rame, pemerintah ugi langkung perhatian kaleh masyarakat,” ucap Karmi.

Di petak gazebo untuk berjualan berjajar jajanan tradisional yang sudah mulai jarang didapati di warung-warung. Sejak siang dibuka hingga sore tadi jajanannya terus laris dikunjungi oleh pembeli, makanan bakpao ubi jalar, gathot tiwulnya ramai diserbu para pemburu kuliner.

Tak hanya jajanan yang menjadi ikon Telaga Jonge. Namun spot-spot foto juga mulai dibentuk tanpa mengurangi keaslian ditelaga ini. Baik dari pemerintah dan masyarakat bersinergi dalam mengembangkan wisata yang unik ini.

Berita Lainnya  Tersembunyi di Pesisir Saptosari, Pantai Njanganan Jadi Spot Mancing dengan Medan Ekstrim

Pengunjung Pasar Destinasi Digital Telaga Jonge, Viki Mila dan Familia Litha mengatakan sangat terkesan dengan kondisi telaga Jonge yang sekarang. Berbeda dari dulu, masyarakatnya sudah mulai terbuka dengan perubahan dan perkembang jaman, sehingga masyarakat mampu menyulap Jonge menjadi obyek wisata yang memiliki keunikan dan daya tarik tersendiri.

“Mudah-mudahan sih dengan seperti ini mendorong masyarakat untuk lebih kreatif lagi dalam mengembangkan destinasinya,” ujarnya.

Sementara itu, Asti Wijayanti Kepala Dinas Pariwisata Gunungkidul mengatakan Telaga Jonge merupakan satu di antara beberapa obyek wisata digital yang digagas oleh instansi terkait dalam pengemangannya. Menggandeng Generasi Pesona Indonesia (Genpi) Jogja, masyarakat dan pemerintah berupaya melakukan yang terbaik. Setelah Pasar Ngingrong, Telaga Jonge dan kedepan rencananya akan dibuka kembali di kawasan Desa Wisata Nglanggeran.

“Memang sengaja didekatkan dengan obyek geosite Geopark Gunungsewu sebagai bentuk dukungan dalam pengembangan kedepan,” tutur Asti.(arista)

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler