fbpx
Connect with us

Budaya

Temukan Kejanggalan Dalam Sejarah Gunungkidul, Bupati Minta Dinas Lakukan Kajian Ulang

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Tanggal 27 Mei 2021 diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul yang ke-190. Kali ini, pemerintah mengusung tajuk “Cancut Taliwanda” yang memiliki makna cukup besar. Serangkaian kegiatan telah dilakukan oleh pemerintah dalam menyongsong hari besar Gunungkidul ini. Ada sejumlah hal yang cukup menarik dalam perayaan HUT Gunungkidul ini.

Salah satunya adalah saat acara malam tirakatan HUT Gunungkidul ke 190 di Bangsal Sewokorpojo pada Rabu (26/05/2021) malam tadi, dibacakan pula sejarah singkat terbentuknya Kabupaten Gunungkidul. Dalam sebuah buku tulisan Raden Mas Suryodiningrat tahun 1939 ini menuliskan tentang “Peprentahan Praja Kejawan” berdirinya Gunungkidul mulai tahun 1831, setelah perang Diponegoro. Saat itu Bupati Pertama Gunungkidul adalah Raden Tumenggung Pontjodirjo yang dibantu oleh beberapa tokoh besar dalam menjalankan pemerintahan.

Pada waktu itu, pusat pemerintahan berada di Pati, Kalurahan Genjahan, Kapanewon Ponjong. Seiring berkembangnya waktu, pusat pemerintahan lantas dipindahkan dengan berbagai pertimbangan.

Menanggapi sejarah singkat tersebut, Bupati Gunungkidul, Sunaryanta mengatakan bahwa Kundha Kabudayan Gunungkidul perlu melakukan kajian dan pendalaman terkait sejarah berdirinya Kabupaten Gunungkidul. Sebab menurutnya, ada beberapa hal yang dianggapnya janggal, dari abad ke 14 sampain dengan 18. Salah satunya yang cukup mendapatkan sorotan dari Bupati Sunaryanta adalah semestinya bukan Pangeran Sambernyowo/Mangkunegara I yang melantik Pontjodirjo menjadi bupati pertama. Pasalnya Mangkunegara wafat pada 23 Desember 1795 atau 36 tahun sebelum Gunungkidul berdiri.

“Saya minta pak kepala dinas kebudayaan bulan depan melakukan kajian terkait dengan sejarah Gunungkidul. Jangan sampai ada penyesetan atau pembelokan sejarah,” kata Sunaryanta dalam forum tirakat tersebut.

Secara pribadi, dirinya juga akan melakukan koordinasi dan konsultasi dengan budayawan dan sejarawan yang ada untuk mengorek informasi terkait Gunungkidul sejak awal berdiri.

Usia Gunungkidul yang sudah 190 tahun ini menjadi sebuah semangat bagi Bupati dan jajarannya untuk lebih proaktif dalam memajukan daerah. Ia berharap pada masa kepemimpinannya dan dibantu oleh jajaran serta instansi luar, akan menjadikan Gunungkidul yang makmur, sejahtera, dan berkeadilan.

“Ini adalah obsesi saya dengan seluruh jajaran pemerintahan, eksekutif juga legislatif dan seluruh yang ada di seputar Gunungkidul yaitu instansi terkait dalam hal ini ada TNI, Polri dan lainnya. Saya rasa memiliki satu semangat yang sama untuk membangun Gunungkidul ke depan ini,” imbuh dia.

Disampaikannya pula, 3 bulan kepemimpinannya ini belum banyak hal yang diperbuat. Namun sebisa mungkin, visi misi Bupati dan Wakil Bupati akan direalisasikan.

“Meski belum banyak yang bisa dikerjakan tetapi yakinlah dengan kerjasama yang baik antara pemerintah baik eksekutif maupun legislatif akan semakin solid dalam membangun Gunungkidul lebih maju. Mulai dari sektor ekonomi, pertanian, investasi, kesehatan, dan pendidikan tentunya,” papar dia.

Pada peringatan Hari Jadi Gunungkidul ke 190 ini mengusung tema Cancut Taliwanda yang memiliki makna tak hanya berpangku tangan, tetapi saling bekerja sama dengan segenap kemampuan yang dimiliki untuk satu tujuan yang menjadi cita-cita bersama. Bersatu adalah awal kemajuan.

Seluruh kalurahan, kapanewon, dan pemerintahan di Kabupaten wajib melakukan tirakatan diikuti oleh pamong kalurahan dan Bamuskal. Untuk melestarikan budaya pula, diadakan klenengan atau memainkan alat musik tradisional dan nyanyian Jawa. Doa bersama juga dilakukan.

“Harapannya masyarakat dengan pemerintah semakin solid untuk membangun kabupaten yang kuat, berbudaya, dan maju seiring dengan perkembangan zaman,” tutup dia.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler