fbpx
Connect with us

Sosial

Terapkan Lockdown Lokal, Sejumlah Wilayah Batasi Mobilitas Warganya

Published

on

Wonosari, (pidjar.com)–Mewabahnya virus Corona atau Covid 19 membuat masyarakat ketar-ketir. Berbagai upaya mulai dari pembagian masker gratis, penyemprotan desinfektan hingga menutup wilayahnya dari kunjungan orang luar daerah diberlakukan hingga batas waktu yang belum ditentukan untuk mengantisipasi persebaran virus yang mudah menular ini.

Sejumlah wilayah di Gunungkidul saat ini mulai menerapkan lockdown lokal. Sejumlah jalan diblokade untuk membatasi mobilitas masyarakat yang dikhawatirkan menjadi sumber penularan.

Salah satunya adalah yang dilakukan oleh warga Padukuhan Piyaman I, Desa Piyaman, Kecamatan Wonosari. Sejak hari Minggu (29/03/2020) ini, masyarakat setempat sepakat untuk menetapkan lockdown mandiri di wilayahnya. Hanya satu jalur jalan yang dibuka untuk akses warga yang hendak keluar masuk dusun dan setiap pengunjung yang datang wajib diperiksa di pos mandiri.

Menurut Ketua Karang Taruna Wahyu Bakti Piyaman I, Danang, keputusan lockdown ini diambil berdasarkan musyawarah mufakat antara warga bersama perangkat dusun.

“Jadi efektif sejak hari ini semua akses jalan keluar masuk dusun kita tutup. Lockdown mandiri pilihan yang sangat sulit, tetapi demi keselamatan warga dari ancaman virus Covid 19 maka kita putuskan untuk menutup diri hingga batas waktu yang belum ditentukan,” tegas Danang.

Tak hanya memutuskan mengisolasi diri, warga Piyaman juga melakukan penyemprotan desinfektan ke rumah seluruh warga. Masker pun dibagikan dan seluruh rumah ditempeli pemberitahuan yang berisi informasi seputar bahaya Covid 19 dan keputusan lockdown ini.

Sementara itu Bhabinkamtibmas Piyaman, Aiptu Nugroho Heriyanto dan Babinsa Serda Maryono dalam himbauannya memberikan pesan agar warga tetap menjaga keamanan dan ketertiban.

“Apalagi warga Piyaman 1 ini banyak yang mencari nafkahnya di luar daerah. Jadi jangan sampai jika ada warga perantau yang pulang kampung cara menghadapinya dengan sikap yang kurang bijaksana. Kedepankan sikap humanisme sesuai adat ketimuran, sebab di tengah situasi dan kondisi seperti ini semua serba salah. Ambil sikap yang paling bijaksana, sebab bagaimanapun semua adalah saudara,” himbau Aiptu Nugroho.

Tak hanya di Piyaman I, beberapa dusun di wilayah Piyaman juga telah memutuskan hal sejenis. Rian Eko Wibowo, anggota DPRD Gunungkidul menilai langkah yang diambil warga ini tidak lepas dari profesi masyarakat Piyaman yang sebagian besar menjadi pedagang kaki lima di berbagai kota besar. Saat ini kondisi kota-kota itu juga tidak menentu bahkan masuk zona merah endemik Corona Covid 19.

“Dan kebanyakan pedagang bakmi, ronde, bakso dan lainnya itu berasal dari Piyaman, Pakeljaluk, Ngerboh. Mereka merantau ke Jakarta, Tangerang, Depok, Bekasi termasuk wilayah-wilayah di DIY dan saat ini banyak yang pulang. Itulah yang mungkin melatar belakangi warga untuk memutuskan lockdown,” jelas Rian.

Tugino, Kepala Desa Piyaman dalam kesempatan terpisah membenarkan beberapa dusun telah mengisolasi diri. Sesuai dengan arahan Bupati Gunungkidul, Pemdes Piyaman juga menghimbau warganya yang saat ini berada di perantauan untuk tidak pulang kampung terlebih dahulu. Sebab kedatangan pemudik dari luar daerah untuk pulang kampung berpotensi untuk memperluas dampak persebaran Covid 19 di kampung halaman.

Berita Lainnya  Armada Terbatas, BPBD Himbau Pihak Ketiga Salurkan Bantuan Langsung ke Lokasi Kekeringan

“Kalau sayang orang tua dan sanak saudara di desa, saran saya justru jangan pulang kampung. Saya memahami kondisi sanak saudara di perantauan yang juga serba salah, tidak pulang tinggal di zona merah endemik. Tapi kalau pulang, justru akan membahayakan orangtua dan sanak saudara di desa,” tegas Tugino.

Adapun warga perantauan yang sudah terlanjur pulang kampung, Tugino menghimbau agar segera memeriksakan diri ke Puskesmas atau rumah sakit rujukan dan selanjutnya mengisolasi diri secara mandiri selama minimal 14 hari.

“Itu prosedur yang harus dilakukan dan jangan ngeyel. Sebab yang kita hadapi ini bukanlah sesuatu yang terlihat mata, kesehatan anda akan berpengaruh kepada keselamatan orang-orang diseputar kalian. Semoga wabah virus Corona ini segera berakhir dan kita bersiap menyambut datangnya bulan suci Ramadhan,” pungkas Tugino.

Lockdown Lokal Juga Diberlakukan di Ngloro

Berita Lainnya  Berdayakan Ibu-Ibu, Bank Sampah Sulap Limbah Jadi Barang Bernilai Ekonomis

Lockdown lokal juga mulai diberlakukan oleh sejumlah padukuhan di wilayah Desa Ngloro. Sejumlah titik terpaksa harus ditutup untuk beberapa waktu ke depan. Setiap warga yang ingin keluar harus memberikan keterangan secara jelas terkait tujuannya. Pun demikian, dengan warga luar daerah yang tidak diperkenankan untuk masuk.

Lurah Desa Ngloro, Heri Yulianto memaparkan, meskipun hingga saat ini tidak ada warganya yang dinyatakan positif corona, upaya pencegahan penyebaran virus terus dilakukan. Pihaknya menerapkan aturan larangan keluar masuk bagi warga ketika kepergiannya tanpa tujuan dan kepentingan yang mendesak.

“Kami menutup untuk warga dan lainnya berlaku larangan keluar masuk. Situasinya sudah urgent, kita tidak mau kecolongan,” kata Heri.

Sejauh ini memang ada beberapa pemudik yang datang pulang ke Ngloro. Namun begitu pihaknya sebisa mungkin tetep melakukan himbau himbauan agar menunda terlebih dahulu niatan tersebut.

“Terus kita himbau dari masing-masing keluarga ke saudara dengan selalu kita berikan himbauan voice note dan diteruskan,” ucap Heri.

Terkait dengan penutupan akses jalan sendiri menurut Heri sangat didukung oleh warga. Namun begitu pihaknya tidak melarang jika memang ada warga yang memiliki kepentingan mendesak untuk keluar wilayah Desa Ngloro.

“Semua jalan padukuhan yang terhubung dengan jalan utama kita tutup. Keluar boleh dengan alasan yang jelas tujuannya,” imbuh dia.

Untuk pendatang sendiri, pihaknya melakukan upaya penyemprotan desinfektan yang telah berjalan beberapa hari ini. Bekerjasama dengan yayasan kesehatan, setiap warga yang melintas terlebih dahulu disemprot baik badan, kendaraan hingga barang bawaan.

“Sampai sekarang tetap dilakukan penyemprotan, sebagai upaya antisipasi,” ucap dia.

Sementara itu, data terakhir jumlah ODP di Gunungkidul hingga Sabtu siang ini tidak mengalami lonjakan signifikan. Dari sebelumnya 436 ODP, hari ini hanya bertambah menjadi 463.

“Untuk PDP 10 orang, dua meninggal dan 6 masih dirawat,” terang Kepala Diskominfo Gunungkidul, Kelik Yuniantoro.

Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler