fbpx
Connect with us

Sosial

Terpukulnya Sektor Ternak Gunungkidul Akibat Anthraks, Transaksi Menurun Hingga 50%

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Adanya temuan sebaran anthraks di Gunungkidul benar-benar memukul sektor peternakan. Aktifitas jual beli ternak di Gunungkidul dalam beberapa waktu terakhir nampak lesu. Jumlah peredaran ternak sapi di pasar hewan di mengalami penurunan hingga mencapai 50 persen. Hal ini berimbas pada harga jual ternak yang disebut pemerintah mengalami penurunan 10 persen.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Gunungkidul, Johan Eko menjelaskan, dari hasil pemantauan di lapangan, saat ini kondisi pasar hewan yang ada di Gunungkidul cukup lesu. Baik penjual maupun pembeli yang beraktifitas di pasar ternak tak seramai biasanya.

“Beberapa hari pasaran hewan mengalami penurunan komoditas dagangan, seperti di Pasar Hewan Munggi (Semanu), biasanya hewan besar ada 200an sekarang rerata hanya 100an ekor,” ucap Johan, Jumat (31/01/2020).

Ia menambahkan, untuk harga ternak saat ini juga mengalami penurunan hingga 10 persen. Hal ini disebut merupakan dampak temuan anthraks yang ada di Gunungkidul.

Berita Lainnya  Pendapatan Pajak Baru 75% Dari Target, Pemkab Akan Undang Ratusan Pengusaha

“Info dari blantik (penjual ternak) saat ini mengalami penurunan hingga 10 persen. Permintaan daging sapi juga ikut turun,” terang dia.

Disinggung mengenai wacana penutupan sementara pasar hewan, Johan mengaku hal tersebut membutuhkan koordinasi lintas sektoral. Sehingga saat ini hal itu masih dalam kajian. Untuk pengendalian peredaran ternak sakit, pihaknya menggandeng Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul.

“Sekarang kami bekerjasama dengan Dinas Pertanian dan Pangan, dalam setiap pasaran hewan sudah standby dokter hewan, sehingga bisa memantau hewan dalam pasar tersebut,” jelasnya.

Sementara itu, Kasi Kesehatan hewan dan Veteriner, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul Retno Widiastuti menambahkan, pihaknya turut melakukan pengecekan di pasar hewan bersama Disperindag. Sementara untuk pengendalian hewan dari luar daerah, pihaknya melakukan pantauan melihat Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH).

Berita Lainnya  Akhirnya, Persoalan Musiman Krisis Air di Sidoharjo Menuai Solusi

“Idealnya ternak yang masuk daerah atau masuk pasar harus membawa SKKH dari kabupaten asal. Ya harus dimungkinkan, sinergis antara Disperindag dan DPP,” beber Retno.

Disinggung terkait dengan upaya vaksin, Retno mengatakan saat ini masih terus dilakukan. Akan tetapi vaksin dilakukan hanya terbatas di wilayah sekitar endemik antraks.

“Yang divaksin adalah zona terdekat dari kawasan tertular. Kalo injeksi AB oke tidak masalah (di wilayah jauh dari zona antraks). Tetapi untuk injeksi vaksin harus diliat faktor resikonya terlebih dahulu,” pungkas dia.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler