fbpx
Connect with us

Pemerintahan

Terus Fokus Dalam Program Dropping Air, Pemkab Gunungkidul Disebut Tak Punya Langkah Pasti Atasi Kekeringan

Diterbitkan

pada tanggal

Wonosari,(pidjar.com)–Upaya dropping air yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul untuk mengatasi masalah kekeringan dinilai belum pas. Upaya yang terus menjadi andalan ini disebut tidak bersifat solutif dan hanya sekedar langkah antisipasi saja. Hingga saat ini, pemerintah belum memiliki terobosan untuk mengangkat air yang ada di bawah tanah di tengah potensinya cukup melimpah. Alhasil, saat musim kemarau, ratusan ribu warga Gunungkidul harus terus rela terdampak kekeringan.

Anggota DPRD Gunungkidul, Heri Nugroho mengatakan, dari laporan ia terima dan penelitian para ahli, wilayah Gunungkidul sudah dihuni ribuan tahun lalu, dan tersedia air bersih di bawah permukaan tanah. Namun potensi ini menurutnya tidak digarap secara maksimal oleh pemerintah. Justru hingga saat ini pemerintah masih fokus terhadap program droping air bersih yang tentunya belum menyasar masalah pokok menyediakan air bersih. Alhasil, masyarakat Gunungkidul lah yang terus menjadi korban dari bencana tahunan yang terus terjadi ini.

Menurut dia, pemerintah seharusnya ada target yang jelas terkait pengentasan kekeringan. Karena anggaran yang digulirkan dari pemerintah daerah, propinsi hingga pusat cukup besar terkait masalah ini.

“Hingga 2029 nanti penyertaan modal ke PDAM setiap tahun sebesar Rp 5 miliar. Di tahun-tahun sebelumnya pernah mencapai Rp 15 miliar per tahun,” kata dia, Sabtu (06/07/2019).

Ke depan guna penyelesaian dampak kekeringan yang terus terjadi ini, pihaknya akan meminta kepada eksekutif agar lebih fokus pada debit air. Seberapa pun banyak sambungan ke rumah tangga, jika debit air masih kecil dianggap bakal menjadi masalah.

Berita Lainnya  BUMDes Didemo Masalah Sertifikasi Pemandu Goa Pindul, Kades Bejiharjo Enggan Berkomentar

“Ini penting karena hingga sekarang masih ditemukan kasus air hanya nyala pada malam hari atau bergilir. Tanpa mengurangi lebarnya akses air kepada masyarakat, persoalan debit harus diperhatikan,” tandas Heri.

Beberapa waktu lalu, Direktur Utama PDAM Tirta Handayani Gunungkidul Isnawan Fibriyanto mengatakan bahwa pihaknya sudah melakukan peningkatan kapasitas sejumlah sumber air menghadapi kemarau. Seperti salah satunya di cabang Wonosari, kapasitas sumber 160 liter per detik ada tambahan 30 liter per detik jadi 180 liter per detik. Cabang Seropan kapasitas sumber 130 liter per detik ada tambahan 50 liter per detik jadi 180 liter per detik. Cabang Bribin kapasitas 65 liter per detik ada tambahan 40 liter per detik jadi 105 liter per detik, dan cabang Baron kapasitas 100 liter per detik ada tambahan 20 liter per detik jadi 120 liter per detik.

Berita Lainnya  Musim Liburan dan Hari Raya, 4 Jalur Tengkorak Ini Dapat Pantauan Khusus Dari Kepolisian

Diakuinya meski sudah ada peningkatan kapasitas, namun belum bisa menjangkau wilayah dengan geografis wilayah yang tinggi.

“Meski ada tambahan debit, itu hanya memaksimalkan lokasi yang posisi rendah. Untuk wilayah rendah yang biasanya misalnya 10 kubik perhari masyarakat meningkatkan pemakaian 20 kubik. Namun untuk lokasi yang lebih tinggi tetap sulit mengakses,” ucapnya.

Isnawan mengatakan pihaknya terus berupaya meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

“Kita terus berupaya mencari sumber air terdekat dari lokasi kekeringan, sehingga mudah dalam distribusi air bersih ke masyarakat,” ujar Isnawan.

Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler