fbpx
Connect with us

Sosial

Tidak Ada Obat, Angka Kesembuan Pasien Covid-19 di Gunungkidul Lebih dari 91 Persen

Diterbitkan

pada

BDG

Wonosari,(pidjar.com)–Angka kesembuhan pasien terkonfirmasai covid-19 di Kabupaten Gunungkidul tergolong sangat tinggi yakni mencapai 91,75 persen dari total 194 kasus. Tingginya angka kesembuhan sendiri terjadi atas beberapa faktor, termasuk salah satunya ialah daya tahan tubuh warga Gunungkidul. Selain itu, berhasil ditekannya angka penularan corona ini merupakan hasil dari kedisiplinan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty mengungkapkan, kesembuhan yang sebegitu tinggi merupakan bukti keseriusan pemerintah dan rumah sakit dalam melakukan penanganan pada pasien terkonfirmasi positif covid 19. Pasalnya, dari 194 kasus yang ada, 174 atau 91,75 persen pasien dinyatakan sembuh, 11 orang dalam perawatan dan 5 diantaranya meninggal dunia.

“Mereka yang terdeteksi terkonfirmasi kemudian ditangani oleh Rumah Sakit. Maka peran faskes dalam hal ini (kesembuhan) sangatlah menentukan. Perkembangan kondisi mereka setiap saat terus dipantau oleh petugas,” kata Dewi Irawaty, Jumat (04/09/2020) saat dikonfirmasi.

Menurutnya, ada banyak hal faktor yang membuat atau mempercepat kesembuhan orang yang terkonfirmasi covid 19. Mulai dari daya tahan tubuh, imunitas yang stabil, pemenuhan gizi, kestabilan penyakit penyerta yang mereka derita selama ini, iklim dan lainnya.

Lebih lanjut ia menambahkan, virus ini tidak ada obatnya. Mereka yang terkonfirmasi positif bisa sembuh karena virus akan tereliminasi dengan sendiri dari tubuh oleh antibodi yang terbentuk dari imunitas tubuh masing-masing.

Selain peran rumah sakit dan tenaga medis, peran dari pribadi pasien sendiri juga lebih penting. Semangat mereka untuk sembuh dengan menjaga atau meningkatkan imun mereka menjadi salah satu kunci. Ditambah lagi dengan dukungan keluarga maupun dari lingkungan sekitar.

Lebih lanjut ia menjelaskan, upaya penekanan angka penularan covid 19 ini sebenarnya tergantung dengan perilaku dan kebiasaan pola hidup masyarakat. Seperti yang dianjurkan oleh pemerintah yakni penerapan protokol kesehatan.

“Yang bisa menekan angka penularan dari awal adalah masyarakat sendiri,”tambah dia.

Meski tak sedikit pula, masih banyak ditemui masyarakat di titik tertentu yang abai dalam penerapan protokol kesehatan. Maka dari itu pemerintah masih berupaya keras dalam mengkampanyekan pererapan penggunaan masker, jaga jarak (tidak berkerumun), cuci tangan menggunakan sabun dan pola hidup sehat lainnya.

“Kami masih terus menghimbau masyarakat untuk memperketat penerapan potokol kesehatan, melakukan kegiatan sesuai dengan peraturan bupati nomor 68 tahun 2020, kita juga tegakkan hukum pecegahan penyebaran covid 19,” imbuh dia.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler