fbpx
Connect with us

Sosial

Tiga Windu Jajakan Jamu Keliling, Mbah Karyo Masih Kuat Dorong Gerobak Hingga Puluhan Kilometer

Published

on

Playen,(pidjar.com)–Perjuangan hidup Karyo Yatman warga Kalurahan Gari, Kapanewon Wonosari bisa menjadi inspirasi bagi seluruh kalangan. Di tengah usia senjanya, kakek 65 tahun ini masih bersemangat untuk mendorong gerobak berisi jamu tradisionalnya keliling kota. Adapun rute jalan yang harus dilalui oleh Mbah Karyo sendiri cukup jauh yaitu dari ruas jalan Gading-Karangtengah hingga ruas jalan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul.

Di usia yang sudah menginjak kepala 6, Karyo sendiri memang masih dianugerahi kesehatan. Langkah kakinya pun masih kokoh meski pagi hingga siang harus mendorong dagangannya, puluhan liter jamu tradisional yang disajikan dalam botol-botol bekas air mineral hingga belasan kilometer.

Kepada pidjar.com, Karyo mengungkapkan bahwa dirinya sudah menjalankan aktifitas berjualan jamu keliling ini sejak 24 tahun silam. Bagi Karyo umur renta tidak tidak boleh menghalangi niatnya berusaha mencari rejeki untuk menghidupi dirinya dan keluarga. Keempat anaknya pun tidak melarang jika Karyo berjualan jamu keliling lantaran ia memang bersikeras masih tetap ingin bekerja.

“Saya masih ingin jualan, biar tidak bergantung sama anak,” kata Karyo saat ditemui, Kamis (23/12/2021) pagi.

Mbah Karyo mengaku, selain untuk menyambung hidup, berjualan jamu keliling juga adalah sebagai caranya untuk menikmati hidup. Bertemu dan berinteraksi dengan para pelanggan membuat hidupnya terus berwarna. Tak jarang memang, para pembeli jamunya ini adalah pelanggan lama yang sudah belasan tahun membeli dagangannya.

Diungkapkannya, jamu yang ia buat ini memang benar-benar resep tradisional. Ia setia menggunakan metode lama dalam meracik dan mengolah sendiri jamu-jamu tradisionalnya. Tak heran apabila rasa jamu yang ia jual tak berubah.

“Kadang saya sendiri yang buat, kadang juga istri,” ucapnya.

Karyo mengungkapkan alasan dirinya sampai sekarang masih berjualan menggunakan gerobak karena sudah nyaman dengan konsep ini. Apalagi, gerobak yang dipakainya ini memiliki nilai historis sangat besar. Selama 3 windu terakhir, gerobak inilah yang menemaninya mencari pundi-pundi rupiah.

“Kalau pakai motor atau sepeda kan tidak bisa pelan, kalau ada orang panggil saya tidak dengar. Kalau pakai gerobak saya pasti dengar kalau ada yang memanggil,” terang dia.

Hasil dari berjualan jamu sendiri memang cukup untuk membiayai hidupnya. Saban harinya, omzet Rp 200.000 hingga Rp 250.000 ia dapatkan. Dalam satu geroboknya ia menyediakan aneka jamu mulai dari beras kencur, paitan hingga kunir asem. Di mana setiap harinya pasti habis tak tersisa.

“Sedikit banyak harus disyukuri, yang penting cukup,” lanjut dia.

Sejak wabah corona melanda hampir dua tahun, Mbah Karyo tetap eksis dengan jualan keliling jamu tradisionalnya.
Kepasrahan dan kepercayaannya terhadap kemahabesaran dan kemurahan Sang Pencipta menjadikan kakek itu terus dilancarkan usahanya. Justru dengan adanya pandemi ini, semua orang semakin menjaga kesehatan dengan meminum ramuan jamu tradisional yang diolahnya.

“Alhamdulillah rejeki selalu ada, jamu juga selalu habis tidak pernah ada sisa,” pungkasnya. (Wulan)

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler