fbpx
Connect with us

Pendidikan

Zona Hijau Perbolehkan Guru Tatap Muka dengan Siswa, Dinas Minta Sekolah Cermati Surat Edaran

Published

on

Wonosari, (pidjar.com)–Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Gunungkidul belum bias memastikan kapan masa Belajar di Rumah (BDR) ini usai bagi para siswa. Namun begitu, sekolah diminta untuk mencermati Surat Edaran Nomor 421/2762/MP-3 tentang belajar di rumah selama pandemi di tahun ajaran baru. Dalam surat tersebut sekolah diperbolehkan mengumpulkan siswa sekali dalam seminggu guna memantau perkembangan siswa.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Gunungkidul, Bahron Rasyid meminta kepala sekolah di SD maupun tingkat SMP untuk lebih fleksibel. Pihaknya menyadari bahwa penanaman karakter peserta didik tidak bias dilakukan secara dalam jaringan ataupun luar jaringan secara jarak jauh.

“Cermati surat edaran terakhir pada poin ketiga, intinya bisa melakukan persiapan BDR dengan mengumpulkan siswa di sekolah misalnya satu minggu sekali dengan jumlah terbatas,” ucap Bahron kepada pidjar.com, Selasa (04/08/2020).

Menurutnya, tatap muka dengan para siswa satu minggu sekali bisa menjadi alternatif dalalm penilaian karakter dan pemberian arahan kepada para siswa. Hal ini bisa dilakukan di sejumlah wilayah yang aman dari pandemi covid19.

“Untuk yang zona merah ya bisa asal di lingkungannya tidak ada yang sedang terkonfirmasi positif, misalnya di Kapanewon Playen, untuk sekolah di Kalurahan Bandung dan Logandeng jangan dulu, tapi di Kalurahan Bleberan bisa tatap muka,” jelas Bahron.

Pihaknya sendiri hingga kini belum bisa memprediksi kapan pembelajaran tatap muka dengan skema 50% 50% bisa dimulai. Mengingat saat ini, di DIY masih dalam masa darurat covid19. Terlebih angka sebaran virus ini masih cenderung fluktuatif.

“Kami tidak akan gegabah, kami minta kerjasamnya karena di masa seperti ini tidak ada yang nyaman jadi segera menyesuaikan, jika kendala kuota saya kira sekarang sekolah sudah menggunakan dana BOS,” papar dia.

Sementara itu, Kepala SMPN 1 Tepus, Heriyanto mengatakan pihaknya saat ini menggunakan metode pembelajaran dalam jaringan dan luar jaringan. Sesekali tatap muka dengan siswa diadakan sebagai bentuk kontrol sekolah kepada siswa.

“Kami jadwalkan dalam tatap muka 50% dari kapasitas kelas,” kata Heri.

Lebih lanjut ia mengatakan, setiap kali mengadakan tatap muka pihaknya juga mewajibkan para siswa dan guru menggunakan masker. Selain itu lokasi cuci tangan juga disiapkan pihak sekolah.

“Seminggu sekali tatap muka untuk memberikan penjelasan dan kami tetap menjalin komunikasi dengan orangtua peserta didik,” tutupnya.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler