fbpx
Connect with us

Sosial

Veda Ega Pratama, Pembalap 10 Tahun Asal Gunungkidul Ditawari Ikuti PON di Papua

Diterbitkan

pada tanggal

Wonosari,(pidjar.com)–Meski usianya baru 10 tahun, Veda Ega Pratama (10) warga Wareng, Kecamatan Wonosari telah ditawari mengikuti Pekan Olahraga Nasional (PON) di Papua 2020 mendatang. Kendati demikian, pertimbangan usia serta kematangan masih menjadi pertimbangan.

Orang tua Veda, Sudarmono mengatakan, tawaran mengikuti PON sendiri datang dari KONI DIY. Veda ditawari mengikuti kelas usia dibawah 20 tahun. Dirinya dianggap mampu bersaing dengan beberapa pembalap jika dilihat dari catatan waktu.

“Kalau diatas kertas sebenarnya Veda mampu, tetapi saya masih mempertimbangkan kematangan Veda, karena usianya masih 10 tahun, saya khawatir terjadi sesuatu,” ujar Sudarmono, Rabu (21/08/2019).

Kekhawatiran itu pun bukan tanpa sebab, Sudarmono juga telah kerap kali mengikuti PON dalam beberapa tahun terakhir. Pengalaman dirinya yang tidak mampu finish karena kecelakaan menjadi pertimbangan untuk memberikan Veda mengikuti gelaran PON.

“Paha saya patah 3, kalau tidak kecelakaan mungkin bisa finish ke dua. Itu yang menjadi pertimbangan saya, saya kawatir terjadi sesuatu karena usianya masih muda dan saingannya diusia atasnya,” terang dia.

Kendati demikian, dirinya sebagai orang tua belum memberikan jawaban atas hal itu. Untuk Pra PON, Sudarmono mengaku akan mengikutkan Veda namun dalam cadangan.

“KONI masih belum saya kasih jawaban,” kata dia.

Sementara itu, Veda ketika ditemui di sela waktu sekolahnya membenarkan adanya tawaran tersebut. Dirinya mengaku siap jika nantinya diberi kepercayaan mengikuti gelaran PON. Namun lebih dari itu, ia tetap mengikuti saran dari orang tuanya.

“Iya (ada tawaran PON) belum tahu ikut tidak,” ucap pembalap dengan tubuh mungil itu.

Sebagaimana diketahui, Veda Ega Pratama merupakan anak pertama dari Sudarmono dengan sang istrinya. Bakat Veda dalam membalap sendiri tidak lepas dari sang ayah. Pasalnya Sudarmono sendiri juga merupakan seorang pembalap di Gunungkidul, dari kebiasaan melihat ayahnya berkompetisi maupun latihan gkemudian ada keinginan dari Veda untuk mengikuti bakat sang ayah.

Berita Lainnya  Serangan Anjing Liar Terjadi di Piyaman, Satu Kambing Luka Parah di Bagian Perut

Semangat Belajar Veda Ega di Tengah Padatnya Jadwal Kejurnas

Padatnya jadwal even yang harus diarungi Veda Ega Pratama tak membuat dirinya bermalas-malasan untuk sekolah. Veda sendiri justru sangat merindukan bangku sekolah ketika dirinya harus berjibaku mengalahkan pesaingnya di tiap racenya.

“Kalau sekolah itu senang, rame bertemu teman-teman,” kata Veda.

Namun demikian, dirinya harus beberapa kali meninggalkan bangku pelajaran untuk bergegas menuju luar kota mengikuti gelaran even. Dalam beberapa pekan ke depan, dirinya masih harus menyelesaikan beberapa event.

Sementara iut, salah seorang guru di SD IV Wonosari, Sukartini mengungkapkan pihak sekolah tidak mempermasalahkan jika Veda sering mengajukan izin. Sejak awal dari pihak sekolah telah menyadari dan mengetahui bakat yang dimiliki Vega dan dampaknya akan jarang masuk sekolah. Pihak sekolah justru mendukung penuh kegiatan yang diikuti oleh siswanya itu. Karena sesuai dengan pashion Veda dan tidak sembarang anak dapat mengikuti even layaknya bocah sepuluh tahun itu.

Tidak masalah, kami malah bangga siswa kami berprestasi dikancah nasional. Karena kalau juara setiap Senin pasti pialanya di bawa ke sekolah untuk di tunjukan. Untuk izin tentu saja tidak dipersulit,” tutur salah seorang guru, Sukartini.

Ia menjelaskan, Veda merupakan salah seorang siswa yang memiliki disiplin baik. Selain itu, ia juga terkenal rajin disetiap tugas yang diberikan oleh gurunya.

Berita Lainnya  Ironi Garam Kanigoro, Kualitas Nomor Satu Tapi Dihargai Super Murah

“Karena saya pernah mengajar dia (Veda) dia cukup rajin dan tergolong siswa yang taat,” terang dia.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Gunungkidul, Bahron Rosyid mengatakan bahwa pihaknya mendukung setiap kegiatan positif siswa yang aktif dalam mengikuti gelaran even. Sebab hal tersebut juga merupakan salah satu program khusus sehingga siswa tersebut mendapatkan perlakukan khusus.

“Kita dukung, karena siswa juga aktif mengerjakan tugasnya. Tetap bisa ikut ujian, tetap bisa naik kelas. Karena itu termasuk program khusus,” terang Bahron.

Ia juga telah memberikan himbauan kepada sekolah untuk tidak mempersulit perizinan siswa jika harus mengikuti latihan ataupun pembinaan atau peatihan nasional (pelatnas). Pihaknya sebisa mungkin juga akan memfasilitasi siswa baik yang duduk di bangku SD maupun SMP untuk terus berprestasi.

Ayah Veda, Sudarmono menyebut bahwa anaknya memiliki keinginan untuk bersekolah cukup tinggi. Bahkan sempat ia melihat raut kecewa dari wajah Veda ketika anaknya itu tidak bisa mengikuti kegiatan pramuka.

“Kadang kan Jumat sudah tidak masuk, dia mungkin kepengen ikut kegiatan pramuka. Kalau selesai race minggu, dia hanyan tidur di perjalanan pulang, Seninnya sudah pengen masuk sekolah lagi,” ucapnya.

Menurutnya, sekolah merupakan dasar pembentukan karakter. Utamanya adalah kedisiplinan, ia sebagai orang tua juga berharap anaknya memiliki semangat bersekolah meski disibukan dengan kejurnas yang dihadapi.

“Disiplin itu dasar dari atlet, selain kesehatan yang dijaga semisal harus tidur jam 9 malam, pola makan dan olahraga rutin. Disiplin sekolah, interaksi, bagaimana dia bersosialisasi dengan anak seusianya itu sangat penting,” pungkas dia.

Iklan
Klik untuk Komentar
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler