Sosial
Unik, Warga Tepus Buat Kerajinan Wayang Berbahan Kayu
Tepus,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Mendengar kata wayang tentu langsung terbayang tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Tokoh pewayangan umumnya diukir diatas kulit sapi ataupun kerbau. Namun berbeda dengan wayang yang dibuat oleh Noto Satimin (67) warga Dusun Bengle 2, Kalurahan Sidoharjo, Kapanewon Tepus. Ia menggunakan media kayu untuk membuat tokoh di dalam pewayangan.
Noto Samin mengaku bahwa dirinya menyukai wayang sejak duduk di bangku kelas 3 SD. Tepatnya pada tahun 1963 ia mempelajari wayang dari seorang pembuat wayang kulit di Padukuhan Mendang, Kapanewom Tanjungsari. Jiwa penasaran dan cintanya terhadap wayang membuatnya dengan mudah mengerti akan sejarah pewayangan.
“Saya suka seni, dari SD itu udah ikut gambar wayang sama ngukir dikit. Selain ikut buat wayang saya dulu juga jadi wiyogo (penabuh gamelan)” kata Noto (25/11/2020).
Seiring dengan menurunya pentas wayang kala itu, Noto memilih untuk bekerja sebagai penambang batu dan kuli. Akan tetapi akibat penyakit pernapasan yang ia derita lima tahun terakhir mengharuskannya diam dirumah.
Merasa bosan ia pun menyalurkan keahliannya yang sudah lama tidak diasah dengan membuat berbagai macam kerajinan ukir.
“Saya gak mau nganggur, harus ada yang dikerjakan. Mulai buat lemari buat dirumah sendiri ternyata banyak yang suka, terus mulai banyak pesenan perabot yang diukir ukir gitu” terangnya.
Dalam empat tahun terakhir Noto mengisi harinya dengan membuat kerajinan berbahan kayu. Selain wayang, Ia hanya membuat kerajinan lain sesuai permintaan pasar. Mulai mainan otok-otok, topeng cepet, hingga perabot rumah tangga.
“Tergantung lagi musim apa, kemarin lagi ramai otok-otok saya buat. Kalau sekarang lagi banyak pesanan hiasan kap lampu,” ucap dia.
Semenjak tahun 2016 ia sudah menghasilkan kurang lebih seratus buah wayang kayu. Noto memilih kayu sebagai media mengukir wayang karena bahan yang lebih mudah didapat dan murah jika dibanding dengan kulit. Kayu yang digunakan pun hanya jenis mahoni yang sudah tua. Menurutnya kayu mahoni bagian dalam lebih awet, tahan rayap dan tidak mudah lapuk.
“Harus kayu bagian dalam, atau galih. Ini kan untuk hiasan. Masa iya belum terlalu menikmati udah rusak, lapuk,” jelasnya.
Harga wayang pun juga bervariasi, mulai Rp 30.000 hingga Rp 200.000. Berbagai jenis karakter pewayangan dari ukuran terkecil 30 cm hingga yang berukuran satu meter pernah ia kerjakan. Wayang berukuran kecil bisa digarap dalam kurun waktu satu minggu, mulai dari menyambung papan, menghaluskan, membuat pola, pewarnaan, hingga pemasangan tangan dan gagang. Sedangkan wayang berukuran satu meter dapat diselesaikan hampir satu bulan.
“Buat pola muka satu karakter saja bisa sampai enam jam. Tingkat kerumitan detail setiap karakter juga berbeda. Belum lagi kalau penyakit saya kumat saya harus berhenti beberapa hari,” kata dia.
Noto membeli berbagai bahan pembuatan wayang sendiri yang jika dijumlah bisa mencapai Rp 500.000. Memang tidak sebanding dengan harga yang ia patok untuk sebuah karakter wayang. Akan tetapi Noto tidak mempermasalahkan hal tersebut selama ia suka dan ikhlas.
“Kalau orang sudah punya jiwa seni, uang itu bukan masalah. Kan awalnya juga cuma untuk pajangan di rumah dan ternyata ada yang mau beli,” kata dia.
Berbagai karakter yang Noto buat pada awalnya adalah untuk koleksi pribadi hingga ada beberapa tamu yang bertamu dan tertarik membeli. Setelah ada satu pembeli, datang pembeli-pembeli lain dan semakin ramai pesanannya.
“Kebanyakan dari mereka katanya tahu dari teman. Kemudian mereka pesan ke saya. Yang paling jauh ada dari Klaten sama Semarang. Mereka datang langsung ke sini milih, atau pesan,” jelas dia.
Noto pernah mendaftarkan diri untuk mengikuti pameran kesenian ke Kalurahan Sidoharjo akan tetapi tidak ditanggapi. Ia juga sering mengajak para penyuka wayang dan para pembelinya untuk mulai berkreasi bukan hanya membeli.
“Gimana ya, saya sering ngajak anak-anak muda ini untuk menyalurkan kreativitas mereka. Kalau suka wayang ya ayo tak ajarin, jangan cuma beli. Tapi kata mereka sulit,” ungkapnya.
Kemungkinan besar ketidakmauan kalangan muda untuk meneruskan budaya kreasi wayang ini karna daya serap pasar yang sangat rendah.
“Kalau karyanya beneran bagus ya, gak usah punya toko, gak usah dijajakan keliling. Kita duduk di rumah mereka yang datang,” pugkas dia.
-
Uncategorized8 jam yang laluDerita Suami Pasien Bersalin RSUD Wonosari, Bayi Meninggal, Luka Bekas Operasi Istri Bernanah Berbulan-bulan
-
Uncategorized5 hari yang laluAbsen Dalam Puncak HUT Gunungkidul Buat Rumor Bupati dan Wakil Bupati Jothakan Makin Santer, Ini Klarifikasi Joko Parwoto
-
Uncategorized3 minggu yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
event3 minggu yang laluZAP Fest 2026: The Glowverse Dimulai dari Yogyakarta, Raisa hingga Nassar Siap Meriahkan Perayaan Anniversary ZAP
-
Uncategorized3 minggu yang laluIkuti Google Maps, Minibus Wisatawan Terperosok di Tanjakan Bundelan, 1 Penumpang Meninggal
-
Sosial3 minggu yang laluProfil AKBP Rosana, Kapolres Gunungkidul yang Pernah Ungkap Kasus 1 Ton Sabu
-
Pemerintahan2 minggu yang laluBrandu Masih Ditemukan, Pemkab Gunungkidul Perkuat Edukasi Cegah Penularan Antraks
-
Pariwisata3 minggu yang laluOnsen Resort Kaliurang, Tawarkan Pengalaman Menginap Bernuansa Jepang di Lereng Merapi
-
Uncategorized1 minggu yang laluKonser Amal Hari Jadi Gunungkidul ke-196 Raup Rp124 Juta, Donasi Sepenuhnya Untuk Droping Air
-
Uncategorized3 minggu yang laluSempat Terdengar Mendengkur, Pria 30 Tahun di Siraman Justru Ditemukan Tak Bernyawa
-
Pemerintahan3 minggu yang laluKekeringan Meluas, 92.055 Jiwa di Gunungkidul Terdampak Krisis Air Bersih
-
Uncategorized4 minggu yang laluPelaku Pencurian Pompa Sibel dan Kabel Pengairan di Ngawis Berhasil Dibekuk Polisi
