Pemerintahan
Lebih Awet Dengan Cara Tradisional, Begini Cara Petani Gedong Simpan Jagung Panenannya
Ponjong,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)– Warga Padukuhan Gedong, Kalurahan Sawahan, Kapanewon Ponjong, memiliki cara yang unik dalam menyimpan hasil panen jagung mereka. Jagung yang sudah di panen kemudian disisakan sedikit kulitnya dan dijajar rapi didepan rumah. Kegiatan ini merupakan metode pengeringan tradisional yang sudah dilakukan puluhan tahun lalu.
Pengurus Kelompok Tani Dadi Makmur, Waino, mengatakan dipajangnya jagung hasil panen di depan rumah sudah dilakukan warga Padukuhan Gedong puluhan tahun silam. Dipercaya metode ini dapat membuat jagung lebih awet. Menurutnya, metode seperti ini juga sebagai lumbung pangan masyarakat setempat dalam menjaga cadangan pangannya.
“Ya ini bukan pameran atau dipamerkan tapi fungsinya itu untuk mengeringkan, kalau ditaruh dilantai nanti bisa tumbuh tunasnya sehingga tidak awet. Sudah jarang yang seperti ini, ini sudah puluhan tahun dilakukan,” kata Pengurus Kelompok Tani Dadi Makmur, Waino, Kamis (09/02/2023).
Dijelaskannya, produksi jagung di wilayahnya pada musim panen kali ini cukup memuaskan. Dari panen yang dilakukan dapat menghasilkan 6 ton pipil kering jagung per hektarenya. Namun demikian, diakuinya masih terdapat beragam kendala dalam sektor pertanian di wilayahnya. Ia mencontohkan seperti belum baiknya pengelolaan sumber air yang mengakibatkan belum meratanya lahan yang dialiri air.
“Padahal disini ada dua sumber mata air yang cukup untuk 6 dusun, selain itu juga peralatan pertanian dan pupuk yang jadi kendala,” imbuhnya.
Ia berharap jika pemerintah daerah dapat memperhatikan kendala yang dihadapi petani disana, menurutnya dengan adanya perbaikan penataan dan pengelolaan air maka hasil pertanian di wilayahnya dapat lebih optimal lagi.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi, menyampaikan jika metode lumbung jagung yang dilakukan masyarakat Padukuhan Gedong cukup menarik. Sudah jarang masyarakat yang masih melakukan metode serupa di daerah lain. Menurutnya, selain sebagai lumbung pangan yang murah metode ini secara visual juga dapat menarik orang luar untuk datang.
“Ya ini menarik sekali, ini harus dipertahankan dikembangkan karena ini model penyimpanan yang murah, tahan penyakit, kemudian secara visual lebih menarik”, tutup Rismiyadi.
-
Uncategorized2 hari yang laluDerita Suami Pasien Bersalin RSUD Wonosari, Bayi Meninggal, Luka Bekas Operasi Istri Bernanah Berbulan-bulan
-
Uncategorized7 hari yang laluAbsen Dalam Puncak HUT Gunungkidul Buat Rumor Bupati dan Wakil Bupati Jothakan Makin Santer, Ini Klarifikasi Joko Parwoto
-
Budaya2 hari yang laluTradisi Bukaan Kyai Cupu Panjolo, Berikut Simbol-simbol yang Muncul
-
Uncategorized2 hari yang laluTak Ada Sengketa Pilur, Lurah Terpilih Bakal Dilantik 26 November
-
Sosial3 hari yang lalu9.500 Hektare Lahan Jagung di Gunungkidul Disiapkan untuk Pengembangan Energi Berbasis Hayati
-
Uncategorized3 minggu yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
Uncategorized2 hari yang laluGadaikan Motor Rekannya, Seorang Pemuda Diringkus Polisi
-
Uncategorized2 hari yang laluDukung Program Strategis Pemerintah, KSPSI Dorong Penguatan Pengawasan Hingga Level Bawah
-
event4 minggu yang laluZAP Fest 2026: The Glowverse Dimulai dari Yogyakarta, Raisa hingga Nassar Siap Meriahkan Perayaan Anniversary ZAP
-
Uncategorized4 minggu yang laluIkuti Google Maps, Minibus Wisatawan Terperosok di Tanjakan Bundelan, 1 Penumpang Meninggal
-
Sosial3 minggu yang laluProfil AKBP Rosana, Kapolres Gunungkidul yang Pernah Ungkap Kasus 1 Ton Sabu
-
Pemerintahan3 minggu yang laluBrandu Masih Ditemukan, Pemkab Gunungkidul Perkuat Edukasi Cegah Penularan Antraks
