fbpx
Connect with us

Sosial

Angkat Masalah Siswi Hamil di Luar Nikah, Guru SMA N 2 Wonosari Dinobatkan Sebagai Guru Berprestasi Nasional

Diterbitkan

pada tanggal

Wonosari,(pidjar.com)–Namanya Arifin, S.Ag, M.Ag, MBA. Ia merupakan seorang guru agama di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 2 Wonosari. Meski terlihat layaknya guru pada umumnya, namun ternyata kreatifitas dan inovasinya dalam memberikan pembelajaran bagi siswa patut diacungi jempol. Pada tanggal 16 Agustus 2019 kemarin, Arifin bahkan dinobatkan menjadi guru berprestasi di tingkat Nasional. Pria bersahaja ini berhasil mengalahkan puluhan guru terbaik dari daerah ataupun provinsi lainnya.

Perjuangan Arifin untuk sampai di titik ini tentu tidaklah mudah. Pasalnya sejak Agustus 2018 lalu ia mengikuti sejumlah seleksi hingga perlombaan di tingkat kabupaten maupun provinsi. Dengan kemampuan dan juga kerja kerasnya, akhirnya ia berhasil menyingkirkan ratusan guru lain yang menjadi pesaingnya. Pria warga Pandansari, Kecamatan Wonosari ini berhasil mewakili Provinsi DIY maju sebagai nominator guru berprestasi.

Kepada pidjar.com, Arifin mengungkapkan, materi yang ia angkat dalam lomba guru berprestasi tingkat nasional adalah permasalahan sosial di Gunungkidul maupun DIY. Diantaranya yakni banyaknya remaja yang hamil di luar nikah dan masih berstatus sebagai siswa di suatu sekolah. Dari sini ia mulai melakukan kajian lapangan serta mencari data terkait hal tersebut. Arifin sendiri mengaku sempat tercengang dengan data-data yang ia dapatkan ini. Hal ini kemudian mendorong ia untuk lebih berinovasi dalam memberikan pembelajaran dan pemahaman pada siswa.

“Pengalaman mengajar di sekolah yang berada di Gunungkidul selama 13 tahun ada beberapa masalah sosial yang saya soroti. Mulai dari hamil di luar nikah ataupun klitih. Kalau untuk di Gunungkidul, kasus pelajar hamil di luar nikah cukup tinggi, maka dari itu saya terdorong membuat kajian dan inovasi pembelajaran,” kata Arifin, Senin (19/08/2019).

Lebih lanjut ia ungkapkan, berdasarkan pengumpulan data yang ia lakukan pada tahun 2018 lalu, terdapat sekitar 79 kasus pelajar hamil di luar nikah dan meminta dispensasi pernikahan. Belum lagi di awal tahun 2019 lalu, ada sekitar 10 pelajar yang kembali diketahui menikah karena hamil. Ada keprihatinan sendiri dibenak Arifin yang notabene seorang guru Agama Islam. Tekadnya menjadi bulat untuk bisa mencegah hal serupa kembali terulang.

Berita Lainnya  Pusat Perbelanjaan dan Kuliner Menjamur di Kawasan Kota Wonosari

Metode pembelajaran dengan konsep “Nalarku” ia terapkan pada siswa di SMA Negeri 2 Wonosari. Hasilnya ternyata cukup membantu merubah pola pikir siswa dalam melakukan tindakan. Metode ini diterapkan sebagai sarana mengolah penalaran moral siswa agar lebih baik dan berwawasan luas. Sehingga siswa dalam melakukan segala sesuatu atau menghadapi permasalahan dapat berfikir berulangkali saat hendak bertindak.

“Pengaruhnya cukup bagus. Di sekolah kami Alhamdulillah, selepas penerapan metode ini siswa berfikir jauh lebih kritis, ada peningkatan moral yang lebih baik,” imbuh dia.

“Yang kami harapkan memang siswa berpikir luas, apa dampak dari aktifitas atau hal-hal yang mereka lakukan. Entah dampak positif ataupun negatif. Setiap saat mereka kami ajak untuk mengamati dan menganalisis kondisi atau permasalahan yang ada di lingkungan kita,” tambah dia.

Tak disangka, metode dan inovasi pembelajaran ini mendapatkan apresiasi oleh pemerintah. Hingga kemudian pada 16 Agustus 2019 lalu ia dinobatkan sebagai guru berprestasi di tingkat nasional. Ia mengungkapkan, perjuangan untuk mendapatkan anugerah ini memang sangat berat lantaran adanya pesaing-pesaing yang kuat. Persaingan ketat sempat terjadi antara Arifin yang mewakili DIY dengan perwakilan dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali. Inovasi para guru dari daerah-daerah tersebut dalam pembelajaran untuk mencetak generasi yang berpendidikan, berkualitas dan bermoral juga tak kalah menarik.

Berita Lainnya  Basarnas Perkirakan Seluruh Penumpang Lion Air Naas Meninggal, Keluarga Masih Berharap Herjuno Selamat

“Dari segi permasalahan sosial yang dihadapi, inovasi untuk pemecah masalah kita yang unggul. Tentu suatu kebanggaan tersendiri, meski begitu memang ada beberapa yang dievaluasi oleh tim juri,” jelas Arifin saat ditemui di SMA Negeri 2 Wonosari.

Dengan adanya dampak positif dari inovasi yang ia lakukan, ia tak keberatan jika nantinya karya miliknya ini diadopsi oleh sekolah-sekolah lainnya. Paling tidak, langkah ini juga sejalan dengan program pemerintah kabupaten Gunungkidul dalam menekan pernikahan dini. Mengingat jika terjadi terus menerus, selain kualitas sumber daya manusia yang tidak sesuai harapan serta sejumlah permasalahan sosial lain akan mengancam. Misalnya saja perekonomian, kesehatan dan beberapa hal lainnya. Pernikahan dini menurutnya dapat berpengaruh pula pada tingkat perkembangan daerah, pendidikan maupun sektor lain.

Setelah terpilih menjadi Guru Berprestasi tingkat Nasional, 2020 mendatang Arifin akan mewakili Indonesia dalam ajang bergengsi lainnya di tingkat Asia. Ia akan bertemu dengan guru-guru berprestasi dari berbagai negara di Asia dan akan dikirim ke negera lain untuk melakukan studi kasus, pembekalan dan kegiatan lainnya.

“Harapan besar saya yakni moral pelajar jauh lebih baik. Sehingga kualitas mereka tidak kalah dengan orang di daerah lain dan mampu bersaing secara sehat. Mampu mengambil tindakan dengan pemikiran positif,” tutupnya.

Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler