Sosial
Angkat Slogan Dijawil Njondhil, Komunitas Relawan Ini Ikrarkan Diri Jadi Penjaga Jalanan Gunungkidul
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Kiprah komunitas relawan ini memang patut mendapatkan acungan jempol. Tak perlu saling mengenal untuk peduli terhadap orang lain. Tak perlu pula berharap imbalan manakala waktu dan tenaga mereka tersita untuk membantu sesama. Hampir setiap malam mereka bersiaga dan siap sedia dalam membantu sesama yang membutuhkan bantuan ketika berada di jalanan. Sudah tak terhitung berapa orang yang sudah diberikan pertolongan. Meski terkadang bentuk pertolongan hanya sepele, namun tentunya hal ini menjadi sangat berarti manakala memang sama sekali tak ada bantuan yang diharapkan.
Semboyan dijawil njondhil atau dalam Bahasa Indonesia selalu sigap jika dimintai pertolongan laksana virus kebaikan yang hendak ditularkan kepada semua kalangan masyarakat. Komunitas ini sendiri terbentuk dari interaksi para member yang tergabung dalam grup Info Cegatan Gunungkidul. Dengan anggota yang besar, komunitas ini dengan cepat membesar dan tersebar hingga ke sejumlah titik.
Saat ini, sedikitnya ada 14 kontak member relawan aktif Info Cegatan Gunungkidul yang sewaktu-waktu bahkan 24 jam bersedia dimintai pertolongan. Para relawan itu sendiri masing-masing memiliki komunitas di berbagai titik.
Salah seorang relawan, Bambang Ttiat Maja Saputra, kepada pidjar-com-525357.hostingersite.com, menceritakan, kemunculan grup di media sosial ini membuatnya lebih semangat untuk menebarkan kebaikan. Ia sendiri selalu standby di warung bakso miliknya di Jalan Nglipar-Ngawen km 01 tepatnya di Padukuhan Parengan Gojo, Desa Kedungpoh, Kecamatan Nglipar. Di sela-sela kesibukannya, ia menyatakan selalu menyemmpatkan waktunya untuk memberikan pertolongan. Seringkali hpnya berbunyi dan dihubungi oleh nomor yang tak dikenalnya. Dan seketika itu pula ia langsung mendatangi lokasi untuk memberikan pertolongan.
“Ya kalau senggang saya siap, namun demikian kalau baru repot langsung saya oper ke rekan lainnya yang merupakan anggota komunitas saya,” ucap pria berusia 37 tahun ini, Senin (03/02/2020).
Tak ada motivasi khusus dalam tekadnya untuk membantu sesama tersebut. Hal ini sebagai bentuk kepeduliannya kepada semua orang yang membutuhkan pertolongan. Apalagi jalur yang ia gunakan untuk stand by ini memang tergolong sepi. Sehingga apabila kemudian ada yang membutuhkan bantuan, cukup sulit.
Bambang sendiri mengaku, agak sulit tidur sehingga di malam hari. Sehingga kemudian waktu senggangnya tersebut, ia pilih dimanfaatkan untuk berbuat yang bermanfaat bagi sesama.
“Biasanya standby dari jam 21.00 WIB sampai jam 03.00 WIB pagi dini hari,” imbuh dia.
Selain karena tak bisa tidur malam, ia sendiri menilai di malam hari memang rawan kejahatan dan ketika ada masalah di jalan susah mendapat bantuan. Ia sendiri tidak pernah mengharap imbalan dalam bentuk apapun ketika memberikan pertolongan. Ia memastikan apa yang dilakukannya ikhlas.
“Saya juga sering share di grup FB bahwa saya siap sedia dijawil njondhil dan tidak usah sungkan meminta bantian kepada saya,” jelas Bambang.
Ia sendiri pernah mengalami suka duka dalam menolong. Salah satunya lantaran adanya ulah oknum yang iseng. Ketika itu ada yang meminta bantuan melalui pesan telfon namun ketika tengah malam didatangi, tidak ada orang sama sekali di wilayah tersebut.
“Beberapa kali pernah seperti ini, tapi saya anggap ini adalah suka duka kami dalam berbuat baik. Tidak pernah membuat kami kapok,” bebernya.
Sementara itu, Koordinator Lapangan komunitas relawan ICG, Frans Sandi mengaku, virus kebaikan ini secara natural tertular antara berbagai lapisan masyarakat Gunungkidul. Banyak orang yang tertarik untuk bergabung dan ikut memberikan pertolongan kepada yang membutuhkan. Ia sendiri mengaku banyak mendapatkan pertanyaan melalui inbok bagaimana gabung di komunitas relawan ICG. Ini menjadi bukti bahwa sebenarnya, masih sangat banyak orang yang berhati baik dan ingin berbuat yang berguna bagi sesamanya.
“Bahkan ada yang tanya kalau mau gabung bayar berapa?, malah saya tanya balik anda punya uang berapa?,” kata Frans sembari terkekeh.
Menurutnya, menjadi relawan memang harus memiliki tekad dan kemauan kuat. Sebagai grup independen, tentu saja untuk operasional perlu modal sendiri. Hal tersebut tidak pernah menjadi masalah bagi anggota relawan yang memang menjadikan hal ini sebagai bentuk keikhlasan dalam berbuat baik kepada sesama.
“Bagi relawan kami tidak masalah justru keluar biaya karena memang tekad bulat untuk membuat Bumi Handayani semakin aman dan saling membantu,” tandasnya.
-
Uncategorized3 minggu yang laluDerita Suami Pasien Bersalin RSUD Wonosari, Bayi Meninggal, Luka Bekas Operasi Istri Bernanah Berbulan-bulan
-
Uncategorized4 minggu yang laluAbsen Dalam Puncak HUT Gunungkidul Buat Rumor Bupati dan Wakil Bupati Jothakan Makin Santer, Ini Klarifikasi Joko Parwoto
-
Budaya3 minggu yang laluTradisi Bukaan Kyai Cupu Panjolo, Berikut Simbol-simbol yang Muncul
-
Uncategorized3 minggu yang laluTak Ada Sengketa Pilur, Lurah Terpilih Bakal Dilantik 26 November
-
Uncategorized2 minggu yang laluKnalpot Brong Jadi Incaran Khusus Operasi Patuh Progo 2026
-
Uncategorized2 minggu yang laluDiduga Bermuatan Solar Ilegal, Truk Tangki Berkapasitas Ribuan Liter Diamankan Polisi
-
Uncategorized2 minggu yang laluManajer KDKMP Sudah Ditempatkan di Gunungkidul, Beberapa Kalurahan Belum Punya Gerai
-
Uncategorized4 minggu yang laluKonser Amal Hari Jadi Gunungkidul ke-196 Raup Rp124 Juta, Donasi Sepenuhnya Untuk Droping Air
-
Sosial3 minggu yang lalu9.500 Hektare Lahan Jagung di Gunungkidul Disiapkan untuk Pengembangan Energi Berbasis Hayati
-
Uncategorized3 minggu yang laluGadaikan Motor Rekannya, Seorang Pemuda Diringkus Polisi
-
Uncategorized3 minggu yang laluDukung Program Strategis Pemerintah, KSPSI Dorong Penguatan Pengawasan Hingga Level Bawah
-
Uncategorized2 minggu yang laluSerangan Binatang Liar Ancam Ternak di Wilayah Selatan Gunungkidul, Warga Diminta Waspada
