fbpx
Connect with us

Sosial

Dalam Sebulan Terakhir, Jumlah Ternak Mati Mendadak Tembus Lebih Dari 100 Ekor

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Sejak akhir Desember 2019 hingga akhir Januari 2020, para peternak di Gunungkidul memang cukup dilanda rasa khawatir. Bagaimana tidak, mereka terus diteror dengan kejadian ternak mati mendadak yang terus marak. Hanya dalam kurun waktu sebulan terakhir, jumlah hewan ternak yang mati mendadak menembus angka lebih dari 100 ekor. Sebuah kerugian besar tentunya bagi para peternak yang juga harus menerima kenyataan anjloknya harga sapi.

Kekhawatiran pun semakin besar lantaran sebagian diantaran ternak yang mati mendadak tersebut dipastikan positif anthraks. Bahkan saat ini, telah ada puluhan warga masyarakat yang juga tertular penyakit berbahaya tersebut.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Gunungkidul, Kelik Yuniantoro mengungkapkan, berdasarkan data yang masuk ke pihaknya, untuk sementara jumlah ternak yang mati mendadak dalam sejak Desember 2019 silam telah menembus angka 100 ekor. Menurut Kelik, sebagian besar dari ternak yang mati tersebut adalah jenis sapi.

“Sapi (mati mendadak) ada 78 ekor dan 25 kambing. Data ini kami dapatkan dari Dinas Pertanian dan Pangan,” ucap Kelik Yuniantoro, Senin (03/02/2020) siang.

Ia menjelaskan, dari jumlah tersebut sudah ada 6 ekor ternak yang positif antraks. Adapun jenis hewan yang telah dicek lab tersebut terdiri dari 2 ekor sapi dan 3 ekor kambing milik warga Padukuhan Ngrejek Wetan, Desa Gombang, Kecamatan Ponjong serta 1 sapi milik warga Desa Pucanganom, Kecamatan Rongkop.

“Anthraks hanya 6, lainnya (penyebab) ada yang keracunan, kurang gizi, larva lalat, radang rahim, demam, kembung dan kurang susu,” papar dia.

Lebih lanjut dijelaskannya, dari total 103 ternak mati tersebut memang tidak semua diambil sampel untuk diuji laboratorium. Dinas Pertanian dan Pangan hanya mengambil 9 ekor ternak mati mendadak untuk dijadikan sampel.

“Yang sudah jelas penyebab kematiannya tidak diambil sampel darahnya,” imbuh dia.

Dari sekian kasus itu pula Pemerintah Kabupaten telah melakukan pemantauan di lapangan untuk memastikan tidak adanya ternak mati mendadak yang dikonsumsi. Semua ternak yang mati tersebut dipastikan telah dikubur.

“Saat ini kesadaran masyarakat telah meningkat. Ternak yang mati dilaporkan dan dikubur tidak lagi dijualbelikan atau dibrandu,” ucap dia.

Dengan adanya pelaporan serta tidak lagi diperjualbelikan, laporan ternak mati pada tahun ini mengalami peningkatan. Kendati demikian, pemerintah tidak bisa menyampaikan perbandingan dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Karena tidak ada yang berani menjual, laporan ternak mati mendadak ke dinas meningkat. Memang saat ini untuk membandingkan dari tahun lalu tidak bisa karena tahun lalu budaya brandu (menyembelih hewan sakit dan dijual ke masyarakat sekitar) masih kuat. Kalau sekarang, sudah dilaporkan dan dikubur,” beber Kelik.

Dijelaskannya, saat ini pemerintah sedang melakukan vaksinasi ternak yang berada di zona kuning atau sekitar Desa Bedoyo, Kecamatan Ponjong. Sementara untuk zona merah di Padukuhan Ngrejek Wetan dan Kulon, sudah dilakukan vaksinasi.

“Upaya pengendalian terus dilakukan,” tutupnya.

Terkait dengan wacana penutupan sementara pasar hewan, Kelik mengaku hal itu bukan penutupan namun diliburkan untuk dilakukan pembersihan. Akan tetapi saat ini pemerintah masih melakukan kajian penutupan sementara pasar hewan tersebut.

“Pasar hewan itu buka-nya hanya seminggu sekali. Tetap dilakukan penutupan saat buka. Nantinya untuk pembersihan dari bakteri antraks,” sambung dia.

Pembersihan sendiri dilakukan dengan cara penyemprotan cairan formalin. Disinggung mengenai penanganan di lokasi yang positif antraks dan lokasi penyembelihannya, Kelik menyebut selain dilakukan penyemprotan juga akan dilakukan betonisasi di sekitar lokasi tanah positif antraks.

Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler