fbpx
Connect with us

Sosial

Beda Nasib Dengan Citra Ponjong Berlimpah Air, Warga Kalurahan Ini Harus Berjuang Lawan Kekeringan

Published

on

Ponjong,(pidjar.com)–Kapanewon Ponjong identik dengan sumber air melimpah serta distribusi air yang memadai. Bahkan, lahan pertanian di sejumlah titik di Kapanewon Ponjong sangat produktif dan tak terlalu terpengaruh oleh musim kemarau.

Namun, di tengah image air melimpah ini, rupanya ada satu kalurahan di Kapanewon Ponjong yang setiap tahun selalu terdampak kekeringan. Bagi ribuan masyarakat Kalurahan Tambakromo, bencana kekeringan selalu dirasakan oleh sebagian masyarakatnya. Berada di kawasan perbukitan, sumber air merupakan sesuatu yang cukup sulit ditemukan oleh warga setempat, terutama di musim kemarau. Alhasil, warga setempat harus berjuang hingga merogoh koceknya untuk mendapatkan air guna memenuhi kebutuhan mereka.

Lurah Tambakromo, Sudigdo Wiyoko Nugroho mengatakan, bencana kekeringan adalah permasalahan yang setiap tahun menimpa warganya. Hingga saat ini, belum ada solusi permanen yang bisa dilakukan oleh pemerintah, dalam mengatasi permasalahan tersebut.

Menurut Sudigdo, ada ribuan warganya yang terdampak kekeringan. Saat ini, pihaknya baru sekedar mengajukan permohonan dropping air sebagai langkah antisipasi bencana kekeringan di wilayahnya. Selain pengajuan dropping air, ia mengaku belum ada solusi lain.

“Ini memang seperti sudah menjadi agenda rutin di wilayah kami,” ujar Sudigdo, Rabu (08/06/2021).

Sudigdo menambahkan, kawasan yang terdampak kekeringan di wilayahnya meliputi Padukuhan Pijenan, Tambakromo, dan Kanigoro. Untuk Kalurahan Tambakromo sendiri saat ini telah memiliki Pamsimas. Namun, karena berbegai macam kendala, baru sekitar 20% warga yang bisa memanfaatkan layanan ini. Ia menambahkan, sebagian kecil warga Padukuhan Kanigoro saat ini sudah sedikit mendapatkan akses air bersih dari pengangkatan sumber air di Goa Song Gilap. Di dalam goa yang berada di Padukuhan Kenteng, Klumprit, Ponjong itu, memang terdapat aliran sungai bawah tanah. Namun, baru sebagian kecil warga yang bisa memanfaatkannya.

“Yang paling terdampak memang warga di 3 padukuhan tersebut,” papar lurah.

Masyarakat setempat sendiri cukup beruntung. Hal ini lantaran banyaknya perhatian pemerintah hingga organisasi sosial yang berbondong-bondong memberikan bantuan. Setiap tahunnya, ratusan tangki air bantuan didistrubiskan di wilayahnya.

“Seperti pada tahun 2019 lalu, kita mendapatkan bantuan 800 tangki air bersih,” lanjutnya.

Saat ini, warga masyarakat yang terdampak kekeringan telah mulai harus memanfaatkan tangki air swasta. Belum maraknya kegiatan bantuan membuat warga harus merogoh kocek guna membeli air.

“Sejauh ini memang sudah banyak warga yang dropping air,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan sudah melakukan koordinasi dengan jajaran panewu di masing-masing kapanewon untuk memetakan wilayah rawan kekeringan. Adapun anggaran yang dipersiapkan BPBD Gunungkidul untuk dropping air pada tahun anggaran 2021 sendiri senilai Rp. 700juta.

“Belum ada yang mulai disasar bantuan dropping air, baru mulai pertengahan bulan ini akan mulai dilaksanakan,” tandasnya.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler