Connect with us

Sosial

Fenomena Mabuk Menggunakan Air Rebusan Pembalut Mulai Marak di Berbagai Daerah, Ini Kata Polisi dan Dinas Kesehatan

Diterbitkan

pada

Wonosari,(pidjar.com)–Belakangan ini netizen tengah dihebohkan dengan ngetrendnya perilaku ganjil yang dilakukan oleh berbagai kelompok remaja di berbagai daerah. Saat ini tengah marak cara mabuk dengan menggunakan pembalut wanita yang direbus kemudian airnya diminum. Cara mabuk yang ganjil ini ditemukan di sebagian wilayah Jawa Tengah dan telah merebak ke Jawa Barat serta Jakarta.

Sontak adanya kejadian ini menjadi perbincangan semua kalangan yang mendengar, melihat dan membaca pemberitaan di berbagai media massa. Menyikapi hal ini, tentu harus ada aksi nyata agar perkara semacam ini tidak merambah di wilayah Gunungkidul. Hal ini sangat harus diwaspadai mengingat cara mabuk semacam ini merupakan cara yang murah dan tentunya bakal banyak menarik perhatian. Berdasarkan kesaksian dari sejumlah pemuda yang sempat diamankan polisi, efek mabuk dari air rebusan pembalut wanita ini nyaris sama seperti efek yang ditimbulkan oleh narkotika jenis shabu.

Mengantisipasi hal ini, Satuan Resnarkoba Polres Gunungkidul segera melakukan pencegahan dan penyelidikan. Sejauh ini dikatakan Kasat Resnarkoba, AKP Tri Wibowo belum ditemukan tindakan menyimpang mabuk menggunakan air rebusan pembalut di Gunungkidul. Meski demikian hal semacam ini juga sangat perlu diwaspadai.

Berita Terkait  Perbaikan di 2 Titik, Jalan Jogja-Wonosari Macet Parah Pada Akhir Pekan

“Akan kami lakukan penyelidikan untuk di wilayah Gunungkidul ada indikasi hal semacam ini atau tidak,” ungkap AKP Tri Wibowo, Kamis (08/11/2018).

Penyelidikan yang dilakukan oleh polisi bukan hanya melakukan penelusuran ada atau tidaknya indikasi mabuk dengan pembalut perempuan. Namun juga perilaku menyimpang lainnya yang berkaitan dengan tindak pidana penyalahgunaan narkoba. Hal itu dilakukan sebagai langkah antisipasi kepolisian dalam menekan perilaku yang tidak sesuai dengan ketentuan yang ada.

“Merusak moral generasi. Hal semacam ini jangan sampai masuk di Gunungkidul. Kami juga terus berupaya melakukan sosilalisasi serta pendekatan untuk semua kalangan,” papar mantan Kapolsek Panggang itu.

Disinggung mengenai sanksi, dirinya mengutarakan jika ditemui tindak pidana dalam semua hal, pelaku tentu akan dijerat pasal sesuai dengan perundang-undangan yang diberlakukan. Sanksi yang diberikan akan disesuaikan dengan tingkat dan kategori penyimpangan yang dilakukan. Tentu akan ada penyelesaian hingga ke meja hijau.

Berita Terkait  Kisah Bondan, Pelajar Yang Bertahan Sekolah Dengan Mengamen dan Jajakan Cabai Keliling

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawati cukup terheran-heran dengan fenomena yang saat ini berkembang tersebut. Ia mengatakan bahwa mabuk menggunakan air rebusan pembalut perempuan sudah masuk dalam kategori permasalahan sosial. Di mana perilaku yang tidak wajar justru dilakukan oleh seseorang. Dari segi kesehatan tentu dapat menimbulkan efek-efek negatif dan tidak baik bagi kesehatan tubuh seseorang.

“Sejauh ini kami belum tahu seperti apa dan kandungannya bagaimana, bahannya dari apa,” kata Dewi Irawati.

Dewi memaparkan bahwa perlu adanya penelitian terlebih dahulu jika ingin mengetahui apa saja bahan yang terkandung sehingga menyebabkan hal-hal yang memabukkan tersebut. Koordinasi dengan peneliti dan beberapa jajaran juga sangat dibutuhkan. Dalam hal ini Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul tidak memiliki kewenangan, pasalnya tidak adanya tenaga ahli dan peralatan yang memadahi.

Sebagaimana diketahui, air rebusan pembalut dianggap oleh para pemuda yang melakukan tindakan penyimpang untuk memberikan efek fly layaknya mengkonsumsi sabu-sabu. Bahkan dampak fly yang diberikan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mengkonsumsi obat-obatan lainnya.

Berita Terpopuler

unique visitors counter