fbpx
Connect with us

Pemerintahan

Belasan Desa Ditetapkan Kawasan Rawan Tsunami, Pegunungan Diharapkan Jadi Benteng Alami

Published

on

Purwosari,(pidjar.com)–Dengan bentang pantai yang cukup panjang yaitu sepanjang 73 kilometer, Kabupaten Gunungkidul menjadi area dengan tingkat kerawanan tsunami yang paling rawan di DIY. Belasan desa di Gunungkidul masuk kawasan zona merah jika terjadi bencana tsunami tersebut. Meski termasuk kawasan paling rawan, namun jika nantinya terjadi bencana tsunami, jumlah korban dari Kabupaten Gunungkidul diperkirakan cukup minum. Hal ini dikarenakan kawasan pantai di Gunungkidul bukan merupakan kawasan pemukiman. Warga tinggal di pemukiman yang biasanya tertutup oleh pegunungan. Pegunungan inilah yang nantinya menjadi benteng alami warga dari terjangan gelombang laut.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, Edi Basuki menuturkan, pihaknya telah menetapkan adanya 16 desa di Gunungkidul yang rawan terhadap bencana tsunami. Adapun keenam belas desa tersebut meliputi, Desa Giricahyo, Desa Girijati, Desa Giripurwo, Desa Girikarto, Desa Giriwungu, Kecamatan Panggang.

Kemudian dari Kecamatan Saptosari ada Desa Krambilsawit dan Desa Kanigoro. Sementara di Desa Kemadang, Desa Banjarejo, Desa Ngestirejo dari Kecamatan Tanjungsari. Dari Kecamatan Tepus ada Desa Sidoharjo, Desa Tepus, Desa Purwodadi. Kemudian dari Kecamatan Girisubo ada Desa Jepitu, Desa Pucung, dan Desa Songbanyu.

Diungkapkan Edi, di lokasi-lokasi zona merah tsunami tersebut, pihaknya telah melakukan upaya antisipasi termasuk diantaranya menggelar sejumlah simulasi bencana tsunami.

“Agar warga bisa terlatih saat menghadapi situasi bencana,” terang Edi, Senin (09/04/2018) siang.

Sekretaris Tim SAR Korwil II Pantai Baron, Surisdiyanto menambahkan, kawasan pesisir Gunungkidul bukan merupakan pemukiman. Warga hanya sekedar beraktifitas sebentar di kawasan pantai atau melaut dan kemudian pulang ke rumahnya yang berada cukup jauh dari kawasan pesisir.

“Meski demikian, segala kemungkinan harus diminimalisir. Sosialisasi mengenai kebencanaan disosialisasikan kepada masyarakat,” kata Surisdiyanto.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Desa Giripurwo, Supriyadi yang desanya masuk dalam kawasan zona merah merasa tak khawatir. Sejak beberapa waktu lalu, ia telah menerima informasi perihal kerawanan wilayahnya terhadap bencana tsunami.

“Antisipasi tetap kita lakukan guna mencegah jatuhnya korban. Kemarin sempat kita adakan sosialisasi dan juga simulasi bencana tsunami untuk melatih kesiap siagaan warga,” urai Supriyadi.

Pihaknya memilih tidak khawatir secara berlebihan karena dari sisi geografis, Desa Giripurwo bukan merupakan daerah pesisir. Pemukiman penduduk dengan pantai dibatasi oleh pegunungan, sehingga pihaknya merasa ada tameng penghalang jika bencana yang tidak diharapkan itu datang.

“Warga desa kami juga sudah terlatih karena kami ditetapkan sebagai desa tanggap bencana. Tapi kalau boleh berharap ya jangan sampai ada bencana tsunami,” tutup dia.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler