fbpx
Connect with us

Pemerintahan

Belasan Ternak Dari 2 Kapanewon Yang Mati Mendadak Positif Anthraks

Diterbitkan

pada

Wonosari,(pidjar.com)–Balai Besar Veteriner Wates menyatakan terdapat belasan ternak yang positif anthraks. Belasan ternak yang terdiri dari sapi dan kambing tersebut berasal dari 2 wilayah yaitu, Kapanewon Ponjong dan Gedangsari. Selain penanganan terhadap lingkungan hewan tersebut, ada puluhan warga di 2 wilayah ini yang dipantau oleh petugas kesehatan.

Kepala BBVet Wates, Hendra Wibawa mengatakan, pada pertengahan Desember 2022 lalu, pihaknya sudah melakukan uji laboratorium pada hewan yang mati secara mendadak. Sampel yang diuji laboratorium tersebut tenyata menunjukkan hasil terkonfirmasi positif bakteri anthraks. Berdasarkan investigasi petugas BBVet Wates Yogyakarta bersama dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, terdapat belasan ternak yang positif anthraks.

“Ada kematian ternak sebanyak 15 di wilayah Gunungkidul yaitu di Ponjong dan Gedangsari,” papar Hendra Wibawa, Senin (31/01/2022) usai melakukan koordinasi dengan Bupati Gunungkidul beserta jajarannya.

Dari jumlah tersebut, 5 sapi dan 2 kambing mati berasal dari Kalurahan Gombang, Kapanewon Ponjong sementara 6 sapi dan 2 kambing dari Hargomulyo Kapanewon Gedangsari. Menurutnya di Kalurahan Gombang ini berbeda lokus dari beberapa tahun sebelumnya. Laporan yang ada sejak pertengahan Desember lalu dan laporan resmi serta investigasi pada Januari ini.

Pihaknya kemudian merekomendasi segera dilakukan penanganan mulai dari obat, vaksinasi terhadap sapi dan kambing di sekitar lokasi yang terpapar ini. Jika penanganan cepat dan tepat, tentunya penyebaran tidak akan semakin meluas dan langsung terhenti.

Berita Lainnya  Digerebek Warga, Oknum Kepala Sekolah dan Guru Tertangkap Basah Berbuat Mesum di Sekolah

“Dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan sangat sigap, saya rasa kalau penanganan tepat, 3 sampai 4 minggu sudah tidak ada paparan lagi dan dapat terkendali,” jelasnya.

Rekomendasi lain yang diberikan adalah, pemerintah melakukan penyetopan sementara waktu aktifitas keluar masuk hewan di lokasi kasus tersebut. Pengawasan lalu lintas pada hewan yang keluar masuk di Gunungkidul lebih diperketat.

“Masyarakat perlu mewaspadai dan mengenai ciri-ciri yang mana ternak tiba-tiba terengah-tengah karena membutuhkan oksigen dan tiba-tiba mati,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Gunungkidul, drh. Retno Widyastuti mengatakan, penanganan sendiri sudah dilakukan oleh petugas kesehatan hewan. Belasan ternak tersebut mati sudah sejak 14 Desember 2021 silam dan kematian terakhir terjadi pada Jumat (28/01/2022) kemarin.

“Kita tahu setelah ada keluhan dari warga yang tiba-tiba sakit kulit dengan ciri-ciri seperti terpapar anthraks. Langsung kami lakukan investigasi di lapangan,” jelas drh Retno.

“Ternak yang masih hidup kita beri vitamin dan injeksi kemudian 2 minggu lagi kita lakukan vaksinasi. Kemudian untuk lokasinya kita lakukan penyiraman formalin,” kata dia.

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty mengungkapkan dari 2 kalurahan tersebut ada 13 warga di Kalurahan Gombang dan 10 orang.warga Kalurahan Hargomulyo yang mengeluarkan ciri-ciri atau gejala suspek terpapar anthraks. Seperti misalnya ada luka pada kulit seperti membengkak (melepuh). Sampel sendiri sudah diambil dan baru diuji laboratorium di Bogor.

Berita Lainnya  Lama Menjadi Wacana, Rencana Perluasan Pelabuhan Sadeng Masih Belum Jelas

“Dari 23 itu ada 1 yang kami rujuk ke RSUD karena luka yang dialami. Sedangkan sisanya masih di rumah,” terang Dewi Irawaty.

“Pengawasan juga kami lakukan pada puluhan warga lain di 2 wilayah tersebut yaitu mereka yang bersentuhan langsung (makan, menyembelih, memegang). Pengawasan bersama dukuh dan petugas dilakukan selama 120 hari, jika tidak ada gejala berarti sudah tidak ada paparan,” tutupnya.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler