fbpx
Connect with us

Sosial

Berawal Dari Spontanitas, Alumni SMK N 1 Wonosari Angkatan 91 Telah Sebulan Salurkan Bantuan Air Bersih

Diterbitkan

pada tanggal

Wonosari,(pidjar.com)–Pada saat musim kemarau seperti ini, air bersih menjadi barang yang langka dan mahal bagi warga Gunungkidul. Dropping air menjadi salah satu solusi jangka pendek untuk membantu masyarakat. Di kawasan terdampak kekeringan, masyarakat memang sama sekali tak memiliki sumber air. Mereka harus merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli air dari tangki swasta.

Berawal dari keprihatinan semacam ini, sejumlah komunitas mulai tergerak untuk membantu saudara-saudaranya yang terdampak kekeringan. Seperti yang dilakukan oleh alumni SMK 1 Wonosari angkatan 1991 yang sudah sejak beberapa waktu terakhir ini membagikan puluhan tangki air bersih ke sejumlah wilayah. Total hingga Sabtu (31/08/2019) ini, sudah puluhan tangki air yang dibagikan oleh para alumni SMK N 1 Wonosari ini.

Koordinator aksi, Endang Wahyuni mengatakan, aksi dropping air bersih ini dilakukan untuk membantu warga Gunungkidul yang kesulitan mendapatkan air bersih. Sejumlah kecamatan disasar oleh komunitasnya dalam aksi kali ini. Menurut Endang, awalnya, gerakan bakti sosial ini digagas secara spontan. Pihaknya banyak mendengar perihal penderitaan warga Gunungkidul manakala musim kemarau datang. Banyak diantara mereka yang harus merogoh tabungan hingga menjual harta benda hanya untuk mendapatkan pasokan air bersih.

“Berawal dari keprihatinan ini, kemudian kami menginisiasi kegiatan bakti sosial dengan dana yang berasal dari kami sendiri. Kalau kita tidak ikut membantu, lalu siapa lagi. Semakin banyak yang membantu akan semakin baik,” urai Endang, Sabtu siang.

Dalam perkembangannya, bantuan sendiri dibagikan secara berkala dan menyebar ke sejumlah lokasi. Hingga saat ini, total sudah ada sekitar 38 tangki air bersih yang dibagikan. Jumlah itu disebar di sejumlah desa dari 4 Kecamatan. Adapun rinciannya adalah 10 tangki dibagikan di Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu; Desa Monggol, Kecamatan Saptosari sebanyak 10 tangki; Desa Wunung, Kecamatan Wonosari sebanyak 3 tangki; Padukuhan Nasri, Desa Giring, Kecamatan Paliyan ada 3 tangki dan Desa Krambilsawit, Kecamatan Saptosari ada 12 tangki.

Berita Lainnya  Tak Kalah Level, SKB di Gunungkidul Dijadikan Percontohan Nasional

Ia menambahkan, dipilihnya lokasi tersebut karena berdasarkan survei yang dilakukan serta masukan dari masyarakat, pihaknya mendapatkan keluhan mengenai sulitnya masyarakat setempat mendapatkan air bersih. Menurutnya, di wilayah tersebut saat ini sudah tidak memiliki sumber air karena mulai mengeringnya telaga-telaga yang ada.

“Kita ingin bantuan ini benar-benar tepat sasaran kepada mereka yang membutuhkan,” beber Endang.

Suharno menyerahkan bantuan air kepada warga terdampak kekeringan

Sementara itu, salah seorang anggota komunitas alumni SMK N 1 Wonosari angkatan 91, Suharno mengatakan, aksi dropping ini juga sekaligus sarana silaturahmi dengan warga. Menururtnya, kebutuhan air bersih menjadi hal yang mendesak diperlukan warga Gunungkidul.

“Adanya air bagi warga sangat krusial saat ini. Karena air merupakan kebutuhan pokok, baik dalam rumah tangga atau pun warga yang memiliki ternak, ternak mereka butuh minum,” kata Suharno.

Anggota DPRD Gunungkidul dari Fraksi NasDem ini menyebut, pihaknya akan terus menggagas kegiatan semacam ini sehingga terus meluas. Selain melibatkan anggota dari komunitas, pihaknya juga membuka diri kepada seluruh pihak yang ingin berdonasi membantu masyarakat melalui komunitasnya.

Berita Lainnya  Kerjasama Indonesia-Jepang Sediakan Ratusan Ribu Lowongan Pekerjaan, Tenaga Kerja Gunungkidul Didorong Ambil Bagian

“Kita ingin terus kegiatan berlangsung. Ini sudah satu bulan dan kami ingin terus membantu masyarakat,” terangnya.

Sementara itu Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan hingga saat ini pihaknya telah menghabiskan separuh lebih anggaran untuk mengatasi kekeringan.

“Kami sudah menghabiskan anggaran kurang lebih Rp 300 juta, sedangkan anggaran kami sebesar Rp 530 juta. Prediksi kami musim kemarau hingga bulan oktober nanti,” kata Edy.

Lanjut Edy jika hingga bulan Oktober tidak kunjung hujan dan anggaran penanggulangan kekeringan habis maka pihaknya dapat berkoordinasi dengan provinsi hingga pemerintah pusat untuk menambah anggaran.

“Otomatis nanti statusnya akan naik menjadi darurat kekeringan saat anggaran habis dan masih mengalami kekerigan. Selain koordinasi dengan provinsi dan pusat kami juga bisa mengakses Bantuan Tidak Terduga (BTT),” pungkasnya.

Iklan
Klik untuk Komentar
Iklan

Facebook Pages

Iklan
Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler