Pemerintahan
Serangan Monyet Ekor Panjang Semakin Merugikan Warga, Desa Purwodadi Berencana Bangun Hutan Desa
Tepus,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Penanganan atas serangan monyet ekor panjang (MEP) yang terjadi di beberapa titik kawasan GUnungkidul dianggap cukup meresahkan dan merugikan bagi masyarakat, khususnya mereka yang memiliki lahan pertanian dan selalu menjadi obyek serangan kawanan ini. Dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) berusaha memberikan pendampingan dan upaya penanganan di kawasan yang menjadi serangan atau konflik satwa. Penanganan jangka panjang sendiri tengah digagas oleh BKSDA dan pemerintah Desa Purwodadi yang menjadi salah satu titik serangan cukup besar di wilayah Gunungkidul. Salah satu langkah yang akan ditempuh yakni dengan dibangunnya Hutan Desa sebagai tempat MEP berhabitat.
Petugas BKSDA Gunungkidul, Agus Sunarto mengatakan, pihaknya telah berusaha untuk setiap kali ada laporan kemudian melakukan pengecekan dan penanganan. Meski penanganan sendiri sifatnya hanya himbauan-himbauan bagi masyarakat. Penanganan jangka pendek dan jangka panjang sendiri mulai digagas oleh BKSDA bersama dengan pemerintah desa setempat. Mulai dari pengurangan populasi dengan adanya wacana ekspor MEP, hingga baru-baru ini yang santer dibahas adalah pembuatan HUtan Desa sebagai habitat monyet ekor panjang di wilayah Purwodadi, Kecamatan Tepus.
“Sudah ada pembahasan dengan pemerintah desa setempat. Selebihnya bagaimana masih akan dikoordinasikan kembali,” terang Agus Sunarto, Minggu (01/09/2019).
Lebih lanjut ia mengungkapkan, Desa Purwodadi sendiri merupakan satu desa yang menjadi sasaran serangan monyet ekor panjang. Serangan ini pun terus meluas, bahkan masyarakat harus rela menelan pil pahit dimana mereka seringkali gagal panen atau bahkan terpaksa tidak memanfaatkan ladang mereka. Berada di kawasan pesisir dengan luas lahan yang besar pula, desa ini masih memiliki wilayah hutan yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Maka dari itu, ada dorongan untuk membuat Hutan Desa.
Pembuatan Hutan Desa sendiri, diharapkan mampu mengurangi serangan monyet ekor panjang. Pasalnya dalam hutan tersebut juga akan ditanam atau ditumbuhi sejumlah pohon buah-buahan sehingga kawanan monyet merasa ketersediaan pangan mereka tercukupi dan tidak keluar hingga ke ladang atau pekarangan masyarakat.
“Ini upaya jangka panjang agar serangan tidak meluas dan semakin merugikan petani. Untuk desa lain yang juga terserang hewan ini juga kami berikan sosialisasi serupa, hanya saja desa Purwodadi yang sudah ada gagasan menuju pembangunan Hutan Desa,” tambah dia.
Kendati demikian, perlu keseriusan dan upaya yang ekstra. Dimana nantinya kawanan MEP harus dipindahkan, dan masayrakat juga harus berperan aktif. Sebagaimana diketahui, untuk MEP sendiri populasinya dalam satu kawanan terdapat 50-100 ekor, kemudian pla penyerangan ke ladang sendiri terbagi-bagi. Misalnya satu kawanan tersebut dapat menyerang ke beberapa wilayah.
“Untuk tanaman buah sendiri kami siap membantu. Beberapa waktu lalu juga sudah kami sebar 2500 pohon buah-buahan untuk di tanam di beberapa wilayah yang terjadi serangan. Karena pada dasarnya mereka keluar lantaran sumber makanan sudah tidak tersedia,” imbuhnya
Sementara itu, Kasi Pemerintahan Desa Purwodadi,Kecamatan Tepus, Suyanto mengatakan, pembuatanHutan Desa sendiri saat ini tengah dalam tahapan pembahasana oleh para tokoh. Pembuatan ini dianggap cukup penting psalnya serangan MEP telah membabi buta. Bahkan tak jarang para petani di desa ini terpaksa harus menunggui adang mereka agar tidak di serang satwa liar ini.
“Sudah ada bahasan. Hanya saja letaknya (lahan) masih harus dikoordinasikan, karena lahan yang ada milik Gubernur maka harus ada pembahasan ulang,” kata dia.
Menurut Suyanto, untuk pembuatan Hutan Desa sebagai habitat MEP ini dibutuhkan lahan seluas 10 hetare. Dengan demikian cukup luas dan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan lain. Adapun palinh tidak tahun 2024 ditargetkan Hutan Desa ini telah ada, sehingga mampu mengurangi serangan MEP.
“Gagasan kami 2024 dapat terealisasi. Tapi tentu perlu dukungan semua pihak penggiringan MEP dari beberapa titik kan juga harus dilakukan agar monyet-monyet tersebut dapat dijadikan satu,” pungkas Suyanto.
-
Uncategorized4 minggu yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized4 minggu yang laluProses Pembebasan Lahan Berproses, Sekolah Internasional Bakal Segera Dibangun di Patuk
-
Uncategorized3 minggu yang laluMerintis Watusigar Gemilang, Feri Sulistyono Usung Digitalisasi dan Transparansi Pemerintahan
-
Uncategorized3 minggu yang laluCek Dapur MBG di Gunungkidul, Wakil Ketua Komisi VII Apresiasi SOP Pelaksanaan MBG
-
Uncategorized5 hari yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
Uncategorized3 minggu yang laluWarga Kelor Pertanyakan Pembangunan Tower 72 Meter, Mengaku Tak Pernah Dilibatkan
-
Uncategorized4 minggu yang laluKelor Berubah, Kelor Berbenah, Wayahe Ganti Lurah
-
Uncategorized3 minggu yang laluPintu Depan Terkunci, Suami Temukan Istri Meninggal
-
Uncategorized4 minggu yang laluPeduli Kekeringan, GUBUK dan DWP BRIN Salurkan 37 Tangki Air Bersih untuk Warga Gunungkidul
-
Uncategorized4 minggu yang laluKelok 18 Dibuka Uji Coba, Rest Area Baru Bisa Dipakai Sekitar Setahun Lagi
-
Uncategorized1 minggu yang laluIkuti Google Maps, Minibus Wisatawan Terperosok di Tanjakan Bundelan, 1 Penumpang Meninggal
-
Uncategorized3 minggu yang laluPemkab Gunungkidul Mulai Gunakan BTT Rp1,3 Miliar untuk Atasi Kekeringan
