fbpx
Connect with us

Sosial

Berkualitas Bagus, Produksi Garam Gunungkidul Terkendala Persyaratan Administrasi

Published

on

Saptosari,(pidjar.com)–Garam kualitas super yang diproduksi oleh petani garam pantai selatan di Kalurahan Kanigoro, Kapanewon Saptosari mulai dikenalkan untuk masyarakat luas. Kendati harganya masih cukup murah dengan kualitas yang tinggi, selama ini garam super Kanigoro hanya disediakan untuk wisatawan dan belum diproduksi dengan jumlah banyak. Para petani garam sendiri terkendala persyaratan administratif seperti izin POM, IUMK, PIRT, label halal dan kemasan untuk bisa meproduksi secara massal maupun memasarkannya.

Kepala Bidang Tangkap, Dinas Kelautan dan Perikanan Gunungkidul, Handoko menjelaskan, belum ada penjualan resmi garam Pantai Selatan ini khususnya bagi kelompok Dadapayam. Hanya saja, Dinas Kelautan dan Perikanan belum lama ini berinisiatif untuk patungan membantu membeli produk garam dari kelompok Dadap Ayam yang sulit laku lantaran tidak ada wisatawan yang datang.

“Lumayan kemarin terkumpul tiga kuintal, sementara memang baru untuk kalangan sendiri, belum dijual untuk umum,” jelas Handoko, Selasa (28/07/2020).

Secara garis besar, pihaknya sendiri memang baru menyetimulus petani agar produksinya lancar. Menurutnya, untuk mengembangkan potensi garam agar dapat diperjualbelikan secara umum dalam jangka panjang merupakan program dari DKP Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Di Kabupaten hanya pembinaan kelembagaan,” imbuh Handoko.

Sejauh ini, pihaknya saat ini tengah memperkuat kelembagaan kelompok petani garam. Mereka nantinya akan dipandu agar membentuk koperasi.

“Jadi kaitannya dengan permodalan bisa dikelola sendiri,” ucap dia.

Memang, kualitas super yang dimiliki pesisir selatan Kabupaten Gunungkidul perlu mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah daerah. Saat ini para petani garam di pesisir selatan Kabupaten Gunungkidul mengalami kesulitan dalam memasarkan garam. Meskipun garam berkualitas super, namun harga garam per kilogramnya sangat murah, yakni Rp. 2.000,- per kilogram untuk masyarakat setempat dan Rp. 4.000,- per kilogram untuk wisatawan.

Kepala Disperindag Kabupaten Gunungkidul Johan Eko Sudarto menambahkan, potensi petani garam di Kabupaten Gunungkidul memang sangat bagus. Namun pihaknya mengakui kemampuan berproduksi tersebut tidak dibarengi dengan kemampuan pemasaran. Banyak yang perlu ditingkatkan untuk menyentuh pasaran luar Gunungkidul.

“Saat ini yang diperlukan peningkatan kapasitas dan kualitas dari produk tersebut bagaimana cara bisa diterima oleh pasar atau konsumen,” ujar Johan.

Ia memberi contoh, dari sisi kapasitas juga perlu adanya perhatian. Seperti izin POM, iumk, pirt, label halal, merk dan kemasan.

“Baru nanti pangsa pasarnya siapa kemudian dari sisi kualitas warna, kandungan gizi produk dan lain sebagainya harus diperhatikan,” tandasnya.

Terpisah, Kepala Seksi Kenelayanan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Gunungkidul, Dewi Asthi mengungkapkan saat ini produsen garam yang sudah memiliki PIRT hanya petani garam di Pantai Sepanjang dan Pantai Nguyahan. Kendati sudah memiliki PIRT, ia mengakui pemasaran masih dalam lingkup Gunungkidul.

“Kalau untuk pemasaran yang lebih luas tentu saja harus banyak yang perlu diperhatikan salah satunya uji laboratorium, para petani masih belum mampu karena mahal,” kata dia.

Saat ini pihaknya hanya sekedar memberikan pendampingan pada proses pengolahan garam. Belum sampai pada ranah uji lab. Kendati demikian DKP Kabupaten Gunungkidul sendiri tetap memberikan upaya agar nantinya garam asli pesisir pantai menembus pasar di luar Gunungkidul.

“Kami mengupayakan kerjasama dengan Balai Pendidikan dan Pelatihan Perikanan bersama dengan DKP DIY agar nantinya garam asli pesisir diuji lab dan bisa menembus pasar luar daerah,” paparnya.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler