Connect with us

Pemerintahan

Buang Limbah ke Sungai dan Enggan Buat IPAL, Dinas Laporkan Industri Pembuatan Tahu dan Tempe ke Polisi

Diterbitkan

pada

Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Pencemaran yang terjadi di Kali Pancuran terus saja terjadi. Saat ini, air di sungai tersebut keruh dan bau sehingga tak bisa dimanfaatkan masyarakat. Pembuangan limbah ke aliran sungai diduga kuat menjadi penyebab pencemaran yang terjadi ini.

Sebelumnya, enam pengrajin tempe dan tahu warga Padukuhan Besari, Kalurahan Siraman, Kapanewon Wonosari telah mengaku membuang limbah di aliran sungai. Merekapun telah bertanggung jawab untuk membersihkan kali dari pencemaran yang mereka akibatkan. Namun kemudian, meski telah dibersihkan dan keenam industri kecil ini tak lagi membuang limbah di aliran sungai, pencemaran masih terus terjadi.

Diduga kuat, ada industri tempe dan tahu dari wilayah lain yang juga membuang limbah di aliran sungai tersebut. Warga sendiri menemukan aliran pipa yang sengaja diarahkan menuju ke sungai.

Ketua Program Kali Bersih (Prokasih) Siraman, Sukardi memperlihatkan kondisi Kali Pancuran saat ini. Ia menunjuk salah satu sudut di mana ada sebuah pipa yang mengalirkan limbah berwarna putih pekat.

“Dulu di sini banyak ikannya, tapi sejak tercemar, tinggal ikan sapu-sapu dan sepat yang bisa hidup di sini,” tutur Kardi, Rabu (15/06/2020).

Kardi menuturkan, tercemarnya Kali Pancuran kali ini disebabkan oleh limbah industri pembuatan tahu dan tempe. Menurutnya, industri tersebut sebagian besar berada di wilayah Sumbermulyo, Kepek, Gunungkidul.

Berita Lainnya  Tujuh Manfaat Toner Mawar Untuk Kesehatan Kulit

Padahal, sebelum tercemar limbah, kali tersebut sangat jernih. Warga pun memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari, mulai dari mandi, mencuci, hingga irigasi.

“Sekarang kalau buat mandi, badan jadi gatal-gatal. Kalau buat irigasi, tanaman malah jadi rusak,” kata Kardi.

Sementara itu, Ketua RW 05 Besari, Suparman menceritakan, konflik antara warga dengan industri rumahan yang beroperasi di desanya itu sebenarnya sempat dilakukan proses perundingan. Dalam mediasi ini, tercapailah kesepakatan di mana para pengusaha tak akan lagi membuang limbah ke sungai.

Sungai pun sempat bersih kembali. Namun tak berapa lama, limbah kembali mencemari sungai. Kali ini, Suparman mengatakan, wilayah utara Besari saat ini terdampak. Berdasarkan penelusuran yang dilakukan, untuk pencemaran kali ini, terpantau dilakukan oleh pengusaha pengrajin tempe dan tahu yang berada di Padukuhan Sumbermulyo, Kalurahan Kepek.

“Mengingat posisi industri tersebut berada di Sumbermulyo, maka harus ada koordinasi antar desa,” jelas Suparman.

Berkaitan dengan hal ini, mediasi berkali-kali sudah dilakukan. Sejumlah instansi pun dilibatkan mulai dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas PUPRKP, hingga Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul.

Berita Lainnya  Banyaknya Putus Sekolah dan Minat Lanjut Kurang, Lama Sekolah di Gunungkidul Terendah se-DIY

Ia berharap kondisi ini segera terselesaikan. Apalagi masalah pencemaran ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Namun demikian, ia mengakui bahwa hingga saat ini masih belum ada jalan keluar yang dihasilkan. Sungai Besari dalam hal ini masih tetap tercemar dan tentunya merugikan masyarakat.

“Kami sangat ingin Kali Pancuran kembali bersih, indah, dan sehat. Agar bisa digunakan untuk kebutuhan hingga hiburan warga sekitar,” katanya.

Terpisah, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul, Aris Suryanto mengakui bahwa pihaknya sudah berkali-kali melakukan mediasi dengan pemilik usaha pembuatan tahu-tempe tersebut.

“Kami berharap mereka membangun IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) secara mandiri, tapi sampai saat ini belum ada kemauan,” jelas Aris.

Aris pun mengeluhkan sikap dari pelaku usaha tersebut. Sebab sejatinya pembangunan IPAL perlu dilakukan mengingat usaha dijalankan oleh mereka. Namun hingga saat ini yang membuatnya cukup geram adalah, tidak ada sedikitpun tindakan atau bahkan niat baik dari industri ini untuk membuat IPAL.

Sedangkan DLH Gunungkidul sendiri sampai saat ini belum bisa menyediakan IPAL komunal khusus di wilayah tersebut. Sebab, Aris mengaku pihaknya tidak memiliki dana untuk membangun IPAL.

Berita Lainnya  Angka Terus Bertambah, Satuan Pendidikan Dampingi Mental Siswa untuk Cegah Bunuh Diri

“Maka mau tidak mau saat ini Social Enforcement yang dikedepankan dengan melibatkan tokoh masyarakat. Namun kami tetap membantu proses mediasinya,” paparnya.

Social Enforcement yang dimaksud Aris adalah dengan mengajak warga bergerak bersama menjaga kebersihan sungai. Warga juga diharapkan memberi pemahaman pada pelaku usaha untuk tidak membuang limbah langsung ke sungai tanpa proses.

Mengingat masalah ini berlarut-larut, Aris mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan instansi terkait. Aduan ke Polres Gunungkidul pun sudah dilakukan lantaran pengusaha industri masih membandel.

“Koordinasi dengan Polres sudah kami lakukan, termasuk menyerahkan data pemantauan air sungai,” kata Aris.

Sejauh ini, DLH Gunungkidul tetap berupaya untuk melakukan langkah-langkah persuasif. Prinsip musyawarah pun tetap dikedepankan saat mediasi warga dengan pelaku usaha.

Terpisah Kades Kepek, Bambang Setiawan menampik jika warganya yang merupakan pengusaha tahu membuang limbah ke Kali Pancuram. Menurutnya pengusaha di Padukuhan Sumbermulyo sudah melengkapi usahanya dengan IPAL.

“Harapannya limbah cair dari Pengusaha Tahu tidak langsung dibuang di sungai, tapi masuk dulu di pengolahan IPAL. Jikalau ada iPAL yang tidak berfungsi mestinya dinas terkait perlu pendampingan,” tutup Bambang.

Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Pariwisata2 hari yang lalu

Listrik Kerap Padam, Sistem Pungutan Retribusi Non Tunai di Pantai Gunungkidul Terganggu

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari, (pidjar.com)–Penerapan sistem pembayaran retribusi wisata secara non-tunai di sejumlah Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) kawasan wisata pantai selatan Gunungkidul...

bisnis5 hari yang lalu

Pony Park Klaten Usung Konsep Wisata Ramah Hewan, Edukasi Interaktif Jadi Daya Tarik Utama

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Klaten,(pidjar.com)– Kehadiran Pony Park Klaten (POPA) yang dijadwalkan resmi dibuka pada 28 Juni 2026 tidak hanya menawarkan destinasi wisata...

Pariwisata1 minggu yang lalu

Libur Sekolah, Obyek-obyek Wisata Mulai Dibanjiri Siswa Study Tour

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari, (pidjar.com)-Libur sekolah tahun 2026 mulai menggerakkan sektor pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) termasuk juga di Gunungkidul. Saat...

Pariwisata4 minggu yang lalu

Camping Syahdu di Pantai Watukodok

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari,(pidjar.com)– Gunungkidul memamg menjadi gudangnya wisata alam di DIY. Bagaimana tidak, gugusan pantai selatan Kabupaten Gunungkidul menyuguhkan panorama pesisir...

Pariwisata2 bulan yang lalu

Mulai Pertengahan Mei Mendatang, TPR Baron Direncanakan Hanya Layani Pembayaran Retribusi Non-Tunai

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari,(pidjar.com)– Pemerintah Kabulaten Gunungkidul terus berbenah dalam memperkuat tata kelola retribusi yang lebih transparan, efisien, dan adaptif terhadap perkembangan...

Berita Terpopuler