fbpx
Connect with us

Pemerintahan

Buang Limbah ke Sungai dan Enggan Buat IPAL, Dinas Laporkan Industri Pembuatan Tahu dan Tempe ke Polisi

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Pencemaran yang terjadi di Kali Pancuran terus saja terjadi. Saat ini, air di sungai tersebut keruh dan bau sehingga tak bisa dimanfaatkan masyarakat. Pembuangan limbah ke aliran sungai diduga kuat menjadi penyebab pencemaran yang terjadi ini.

Sebelumnya, enam pengrajin tempe dan tahu warga Padukuhan Besari, Kalurahan Siraman, Kapanewon Wonosari telah mengaku membuang limbah di aliran sungai. Merekapun telah bertanggung jawab untuk membersihkan kali dari pencemaran yang mereka akibatkan. Namun kemudian, meski telah dibersihkan dan keenam industri kecil ini tak lagi membuang limbah di aliran sungai, pencemaran masih terus terjadi.

Diduga kuat, ada industri tempe dan tahu dari wilayah lain yang juga membuang limbah di aliran sungai tersebut. Warga sendiri menemukan aliran pipa yang sengaja diarahkan menuju ke sungai.

Ketua Program Kali Bersih (Prokasih) Siraman, Sukardi memperlihatkan kondisi Kali Pancuran saat ini. Ia menunjuk salah satu sudut di mana ada sebuah pipa yang mengalirkan limbah berwarna putih pekat.

“Dulu di sini banyak ikannya, tapi sejak tercemar, tinggal ikan sapu-sapu dan sepat yang bisa hidup di sini,” tutur Kardi, Rabu (15/06/2020).

Kardi menuturkan, tercemarnya Kali Pancuran kali ini disebabkan oleh limbah industri pembuatan tahu dan tempe. Menurutnya, industri tersebut sebagian besar berada di wilayah Sumbermulyo, Kepek, Gunungkidul.

Padahal, sebelum tercemar limbah, kali tersebut sangat jernih. Warga pun memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari, mulai dari mandi, mencuci, hingga irigasi.

“Sekarang kalau buat mandi, badan jadi gatal-gatal. Kalau buat irigasi, tanaman malah jadi rusak,” kata Kardi.

Sementara itu, Ketua RW 05 Besari, Suparman menceritakan, konflik antara warga dengan industri rumahan yang beroperasi di desanya itu sebenarnya sempat dilakukan proses perundingan. Dalam mediasi ini, tercapailah kesepakatan di mana para pengusaha tak akan lagi membuang limbah ke sungai.

Berita Lainnya  Tak Pernah Ada Angkutan Masuk, Pemkab Operasikan Bus Gratis di Gedangsari dan Bejiharjo

Sungai pun sempat bersih kembali. Namun tak berapa lama, limbah kembali mencemari sungai. Kali ini, Suparman mengatakan, wilayah utara Besari saat ini terdampak. Berdasarkan penelusuran yang dilakukan, untuk pencemaran kali ini, terpantau dilakukan oleh pengusaha pengrajin tempe dan tahu yang berada di Padukuhan Sumbermulyo, Kalurahan Kepek.

“Mengingat posisi industri tersebut berada di Sumbermulyo, maka harus ada koordinasi antar desa,” jelas Suparman.

Berkaitan dengan hal ini, mediasi berkali-kali sudah dilakukan. Sejumlah instansi pun dilibatkan mulai dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas PUPRKP, hingga Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul.

Ia berharap kondisi ini segera terselesaikan. Apalagi masalah pencemaran ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Namun demikian, ia mengakui bahwa hingga saat ini masih belum ada jalan keluar yang dihasilkan. Sungai Besari dalam hal ini masih tetap tercemar dan tentunya merugikan masyarakat.

“Kami sangat ingin Kali Pancuran kembali bersih, indah, dan sehat. Agar bisa digunakan untuk kebutuhan hingga hiburan warga sekitar,” katanya.

Terpisah, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul, Aris Suryanto mengakui bahwa pihaknya sudah berkali-kali melakukan mediasi dengan pemilik usaha pembuatan tahu-tempe tersebut.

“Kami berharap mereka membangun IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) secara mandiri, tapi sampai saat ini belum ada kemauan,” jelas Aris.

Aris pun mengeluhkan sikap dari pelaku usaha tersebut. Sebab sejatinya pembangunan IPAL perlu dilakukan mengingat usaha dijalankan oleh mereka. Namun hingga saat ini yang membuatnya cukup geram adalah, tidak ada sedikitpun tindakan atau bahkan niat baik dari industri ini untuk membuat IPAL.

Berita Lainnya  Pemerintah Desa Diminta Batalkan Rencana Seleksi Penerimaan Perangkat dan Staf

Sedangkan DLH Gunungkidul sendiri sampai saat ini belum bisa menyediakan IPAL komunal khusus di wilayah tersebut. Sebab, Aris mengaku pihaknya tidak memiliki dana untuk membangun IPAL.

“Maka mau tidak mau saat ini Social Enforcement yang dikedepankan dengan melibatkan tokoh masyarakat. Namun kami tetap membantu proses mediasinya,” paparnya.

Social Enforcement yang dimaksud Aris adalah dengan mengajak warga bergerak bersama menjaga kebersihan sungai. Warga juga diharapkan memberi pemahaman pada pelaku usaha untuk tidak membuang limbah langsung ke sungai tanpa proses.

Mengingat masalah ini berlarut-larut, Aris mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan instansi terkait. Aduan ke Polres Gunungkidul pun sudah dilakukan lantaran pengusaha industri masih membandel.

“Koordinasi dengan Polres sudah kami lakukan, termasuk menyerahkan data pemantauan air sungai,” kata Aris.

Sejauh ini, DLH Gunungkidul tetap berupaya untuk melakukan langkah-langkah persuasif. Prinsip musyawarah pun tetap dikedepankan saat mediasi warga dengan pelaku usaha.

Terpisah Kades Kepek, Bambang Setiawan menampik jika warganya yang merupakan pengusaha tahu membuang limbah ke Kali Pancuram. Menurutnya pengusaha di Padukuhan Sumbermulyo sudah melengkapi usahanya dengan IPAL.

“Harapannya limbah cair dari Pengusaha Tahu tidak langsung dibuang di sungai, tapi masuk dulu di pengolahan IPAL. Jikalau ada iPAL yang tidak berfungsi mestinya dinas terkait perlu pendampingan,” tutup Bambang.

Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler