Sosial
Jagal Sapi Warga Semin Ditetapkan Suspect Anthraks
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul masih terus melakukan pemantauan di sejumlah wilayah endemik antraks untuk memastikan tidak ada tambahan korban. Namun dari data sementara yang masuk, saat ini ada dugaan 1 orang di wilayah Semin yang terserang antraks. Namun begitu dinas belum berani membeberkan lebih jelas terkait hal tersebut sembari menunggu hasil tes laboratorium yang bersangkutan.
“Tadi kami dapat informasi ada 1 orang yang diduga (antraks), tapi saya belum konfirm, karena teman-teman baru jalan ke Kecamatan Semin hari ini,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Senin (20/01/2020).
Dewi mengatakan, pihaknya belum mendapat laporan pasti terkait dengan kasus tersebut. Pihaknya sendiri mendapat informasi bahwa warga yang diduga terpapar anthraks tersebut mengalami gejala menyerupai anthraks lantaran korban sering memotong sapi.
“Yang di Semin itu ada keluhan luka dan yang bersangkutan bekerja di jagal ternak dan sering memotong sapi,” ucap dia.
Dewi menambahkan, meski belum diketahui positif dan tidaknya warga dengan gejala menyerupai anthraks tersebut, pihaknya akan memberikan terapi. Hal itu dilakukan sebagai upaya antisipasi bilamana memang positif antraks.
“Untuk meminimalisir risiko kerawanan antraks di Gunungkidul. Informasi sekecil apapun terkait anthraks akan direspon oleh Dinkes,” katanya.
Disinggung mengenai kondisi 27 orang yang positif antraks, Dewi menyebut bahwa kondisi kesehatan mereka kini telah membaik. Mereka, lanjut Dewi terus melakukan terapi antibiotik dalam proses penyembuhannya.
“Sampai hari ini tidak berkembang (lebih buruk), semakin membaik. Karena 27 orang yang positif itu sudah minum antibiotik selama 20 hari,” terang Dewi.
Sementara terkait dengan penanganan 27 orang yang positif antraks, pihaknya tidak akan melakukan isolasi. Ia beralasan penularan antraks tidak melalui manusia melainkan dari hewan yang terpapar antraks.
“Ya enggak (diisolasi untuk 27 warga yang positif antraks), kan penularannya dari manusia ke manusia tidak ada. Karena penularannya itu dari hewan ternak ke manusia,” ucapnya.
Meski tidak mengisolasi 27 orang tersebut, Dewi mengaku pihaknya tetap melakukan pemantauan di Padukuhan Ngrejek, Desa Gombang, Kecamatan Ponjong selama 2 kali 60 hari. Hal itu untuk mendeteksi keberadaan warga yang terpapar antraks.
“Kita lebih ke lokasinya, di lokasi terdampak itu lingkungannya sudah teratasi belum. Kenapa kok 120 hari? karena inkubasi kuman antraks itu masuk dan timbul gejala mulai dari 1 sampai 60 hari,” kata dia.
-
Uncategorized2 minggu yang laluDerita Suami Pasien Bersalin RSUD Wonosari, Bayi Meninggal, Luka Bekas Operasi Istri Bernanah Berbulan-bulan
-
Uncategorized2 minggu yang laluAbsen Dalam Puncak HUT Gunungkidul Buat Rumor Bupati dan Wakil Bupati Jothakan Makin Santer, Ini Klarifikasi Joko Parwoto
-
Budaya2 minggu yang laluTradisi Bukaan Kyai Cupu Panjolo, Berikut Simbol-simbol yang Muncul
-
Uncategorized2 minggu yang laluTak Ada Sengketa Pilur, Lurah Terpilih Bakal Dilantik 26 November
-
Uncategorized7 hari yang laluKnalpot Brong Jadi Incaran Khusus Operasi Patuh Progo 2026
-
Uncategorized5 hari yang laluDiduga Bermuatan Solar Ilegal, Truk Tangki Berkapasitas Ribuan Liter Diamankan Polisi
-
Uncategorized4 hari yang laluManajer KDKMP Sudah Ditempatkan di Gunungkidul, Beberapa Kalurahan Belum Punya Gerai
-
Sosial2 minggu yang lalu9.500 Hektare Lahan Jagung di Gunungkidul Disiapkan untuk Pengembangan Energi Berbasis Hayati
-
Uncategorized2 minggu yang laluGadaikan Motor Rekannya, Seorang Pemuda Diringkus Polisi
-
Uncategorized2 minggu yang laluDukung Program Strategis Pemerintah, KSPSI Dorong Penguatan Pengawasan Hingga Level Bawah
-
Uncategorized3 minggu yang laluKonser Amal Hari Jadi Gunungkidul ke-196 Raup Rp124 Juta, Donasi Sepenuhnya Untuk Droping Air
-
Pemerintahan4 minggu yang laluBrandu Masih Ditemukan, Pemkab Gunungkidul Perkuat Edukasi Cegah Penularan Antraks
