Sosial
Budidaya Kangkung dan Lele di Ban Bekas, Solusi di Tengah Lesunya Ekonomi
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Di masa seperti sekarang ini masyarakat harus mampu untuk berinovasi agar dapat memenuhi kebutuhan mereka. Hal ini lantaran, selama pandemi dan setidaknya 2 tahun setelah pandemi, kondisi perekonomian dimungkinkan belum akan stabil sebagaimana biasanya. Untuk itulah kemudian diperlukan adanya terobosan-terobosan baru dalam rangka pemenuhan kebutuhan. Salah satu yang krusial adalah perihal kebutuhan bahan makanan. Jika masyarakat dapat membaca peluang, tentu akan muncul inovasi yang tidak diduga dan bahkan bisa menjadi ceruk bisnis.
Belum lama ini pemerintah memang tengah mendorong masyarakat untuk melakukan budidaya lele dengan metode baru. Yakni dengan menggunakan bak kolam plastik yang diisi dengan bibit lele kemudian di atasnya ditanami tumbuhan kangkung.
Terobosan ini mendapat sambutan baik dari masyarakat. Sudah mulai banyak yang mengembangkan budidaya lele dan kangkung seperti ini di kalangan masyarakat. Budidaya jenis ini memang sangat potensial lantaran tak terbatas oleh luasan lahan. Pada lahan sempit pun, budidaya semacam ini juga bisa diterapkan dengan baik.
Di Kalurahan Kepek, Kapanewon Wonosari misalnya, sudah sejak beberapa waktu lalu terdapat kelompok yang mengembangkan inovasi ini. Di tingkat masyarakat, masyarakat juga mulai berinovasi dengan mengganti bak plastik dengan ban bekas.
Seruan bagi masyarakat Gunungkidul agar terus berinovasi untuk bisa bertahan pada lesunya perekonomian dinyatakan oleh Wakil Bupati Immawan Wahyudi. Pihaknya selalu mengapresiasi berkaitan dengan inovasi dan terobosan masyarakat dalam hal pemenuhan kebutuhan pangan.

“Jadi ini sangat patut diapresiasi. Masyarakat bisa mencontohnya atau paling tidak bisa membuat terobosan anyar. Ini kan ndak perlu tempat yang luas, di mana pun bisa diterapkan sebenarnya. Juga untuk menggerakkan UKM di Gunungkidul to, misalnya mereka yang produksi ban bekas,” kata Immawan Wahyudi.
Kangkung sendiri kaya akan serat dan sumber gizi lainnya. Salah satu sayuran yang mudah didapat dengan harga terjangkau. Begitu pula dengan lele yang memiliki kandungan gizi dengan harga yang cukup terjangkau masyarakat. Namun di masa pandemi seperti ini, tak sedikit masyarakat yang perekonomiannya sulit sehingga untuk pemenuhan gizi pun tidak begitu diperhatikan.
“Kalau beli kan tentu harganya di masa seperti ini cenderung agak mahal. Tapi kalau budidaya sendiri kan bisa. Pemenuhan gizi sangatlah dibutuhkan tubuh, terlebih kondisi sekarang harus ekstra diperhatikan untuk menunjang kesehatan,” paparnya.
Untuk itu, ketahanan pangan secara mandiri patut dilakukan. Contoh sederhananya adalah dengan budidaya lele dan kangkung ini. Sebenarnya ada peluang ini juga sangatlah besar, bisa juga selain untuk konsumsi pribadi dapat digunakan untuk bisnis kecil-kecilan.
“Kalau hasil panen kangkungnya banyak dan lele yang ada juga banyak bisa juga dijual. Itu nantikan juga bisa menjadi lahan penghasilan. Kondisi sekarang tidak semua bergantung kepada pemerintah tapi juga harus mandiri,” jelasnya.
Pihaknya pun terus akan mendorong masyarakat untuk membuat terobosan anyar dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
Sementara itu, Direktur BMT Dana Insani Wonosari, Kurniawan Fahmi mengatakan, Selama pandemi covid 19 terjadi, BMT Dana Insani tengah mengembangkan budidaya lele di dalam ban bekas dan kemudian ditanami dengan kangkung. Meski terkesan sederhana, ternyata terobosan ini cukup mendapat sambutan baik dari masyarakat setempat. Semula, dari BMT ini hanya menyediakan ban bekas yang telah diubah layaknya ember. Kemudian bibit lele dan bibit kangkung. Komponen ini diberikan kepada 120 siswa penerima beasiswa.
Kemudian masyarakat sekitar pun ternyata juga tertarik untuk mengembangkan hal serupa. Di lingkungan kantor ini pun juga terdapat beberapa ban bekas yang digunakan untuk budidaya lele maupun kangkung ini.
“Kita kembangkan di kantor kami ada beberapa ban bekas yang diubah bentuk layaknya tong sampah, kemudian diisi bibit lele sekitar 80 ekor per ban. Kemudian diatasnya ditanami tumbuhan kangkung, bisa 5 kali panen per 10 hari,”kata Fahmi.
“Sementara baru dikonsumsi sendiri. Ini sudah 2 kali panen, Alhamdulillah diapresiasi pak Wakil Bupati,”tutupnya.
-
Pemerintahan2 minggu yang laluPembangunan TPAS Wukirsari Akan Dimulai Awal 2027, Direncanakan Bisa Produksi Bahan Bakar Alternatif
-
Uncategorized3 minggu yang laluGeger Pagi di Ponjong, Perempuan Muda Ditemukan Gantung Diri di Pohon Coklat
-
Peristiwa2 minggu yang laluJenazah Korban Gantung Diri Diotopsi, Kemungkinan Korban Pembunuhan?
-
Uncategorized3 minggu yang laluNikung Terlalu Melebar, Mahasiswi Tewas Usai Hantam Motor
-
Peristiwa2 minggu yang laluTragedi Jelang Keberangkatan Umrah, 54 Paspor Jamaah Hangus Akibat Kebakaran Kantor Travel
-
Uncategorized3 minggu yang laluPilur Kelor Memanas, Lurah Petahana Dituding Curi Start Numpang Program
-
Uncategorized3 minggu yang laluDelapan Dapur SPPG di Gunungkidul Tak Kunjung Beroperasi, Dari Persoalan IPAL Hingga Izin BGN
-
Uncategorized7 hari yang laluGegara Uang Kembalian Receh, Pelayan Bakmi Jawa Mengaku Dibentak Oknum Anggota DPRD
-
Uncategorized1 minggu yang laluKDMP Karangrejek Panen Lele 4,9 Ton, Capaian Tertinggi di Indonesia
-
Uncategorized1 minggu yang laluPetani Ditemukan Meninggal Dunia di Ladang Bleberan
-
Uncategorized4 minggu yang laluLaka Beruntun Maut 4 Kendaraan di Selang, Seorang Remaja Tewas
-
Uncategorized2 minggu yang lalu83 Tukik Dilepas ke Laut, Bupati Gunungkidul Ajak Masyarakat Jaga Kelestarian Penyu
