fbpx
Connect with us

Sosial

Cerita Para Calon Jamaah Haji Yang Gagal Berangkat Karena Pandemi

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Ariyanto (37) warga Padukuhan Kepek I, Desa Kepek, Kecamatan Wonosari harus rela terpaksa tidak jadi berangkat ke Tanah Suci tahun ini. Ia merupakan satu di antara 405 calon haji asal Gunungkidul yang seharusnya ke Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji.

Seperti yang diketahui, memang bagi umat Islam, menunaikan rukun islam yang ke lima ini bukan perkara mudah. Jadwal tunggu yang lumayan lama membuat seseorang yang memiliki niat dan juga memiliki dana tidak semerta-merta bisa langsung berangkat pada waktu itu juga. Banyaknya minat serta terbatasnya kuota membuat seseorang bahkan harus mengantri hingga bertahun-tahun untuk bisa berangkat haji.

“Ya saya dapat kuota kursi pada tahun 2011 sebesar 25 juta, saat itu saya mendengar wacana jika pembatasan jamaah haji diprioritaskan kepada mereka yang berusia 40 tahun, kala itu usia saya masih 28 tahun,” ucap pria yang akrab disapa Ari ini kepada pidjar.com, Rabu (03/06/2020).

Sejak pandemi covid19 merebak di dunia, ia sempat khawatir. Kemenag sendiri berkali-kali mengeluarkan kebijakan yang mana manasik haji dilaksanakan secara online. Kemudian, seperti tahun sebelumnya, pelunasan tahap pertama dilaksanakan bulan Maret.

“Saya sudah melaksanakan pelunasan pada bulan Maret,” imbuh dia.

Ia kemudian melaksanakan manasik online sejak beberapa bulan lalu. Seharusnya, manasik dilaksanakan di KUA kecamatan sebanyak 8 pertemuan sebelum berangkat. Kemudian dari Kemenag secara bersama melaksanakan manasik dua kali.

Berita Lainnya  Pemkab Gunungkidul dan IKG Minta Warga Perantau Tunda Mudik

“Saya belajar, tapi saya mbatin ini kurang maksimal kalau manasiknya online, kalau seusia saya kan gak masalah melek teknologi, saya bayangin yang simbah-simbah seperti apa belajarnya,” tutur pengasuh Pondok Pesantren Darul Quran ini.

Selasa (02/06/2020) kemarin, Ari melihat langsung konfrensi pers yang dilaksanakan oleh Kementrian Agama Republik Indonesia. Menag, Fachrul Razi mengumumkan bahwa Ibadah Haji ditiadakan tahun 2020 ini dengan berbagai pertimbangan kesehatan.

“Saya sempat kecewa tapi saya pikir ini memang yang terbaik,” ucap Ari.

Dikatakan Ari, sebelum mendapatkan pengumuman resmi, Ari mendapat wacana bahwa ibadah haji dilaksanakan sesuai dengan standar protokol kesehatan. Sebelum berangkat, jamaah harus melaksanakan karantina 14 hari di asrama haji embarkasi. Kemudian setelah sampai di Arab Saudi mereka juga harus melaksanakn karantina 14 hari, pun demikian ketika para calon haji telah sampai rumah.

“Saya sulit membayangkan berapa lama waktu terbuang lama untuk karantina,” jelas dia.

Menurutnya, kebijakan peniadaan haji tahun ini memang sudah keputusan paling bijak. Kendati di dalam lubuk hati ia mengaku rindu dengan Tanah Suci, namun menurutnya, apabila ibadah haji tetap dilaksanakan, ibadah bisa saja tidak khusyuk.

Berita Lainnya  Jadi Berkah Jelang Musim Penghujan, Nelayan Baron Panen Gurita dan Lobster

“Apalagi pasti nanti menerapkan social distancing, sementara ibadah haji semuanya dilaksanakan secara bersama dengan umat muslim dunia, terlebih kalau di depan Ka’bah,” bebernya.

Ia berharap dengan ditunda keberangkatan pada tahun ini, para calon haji yang gagal berangkat lebih khusyuk dalam mempersiapkan diri. Terlebih berkaitan dengan manasik, Ari berharap bisa dilaksanakan dengan tatap muka.

“Dengan penundaan kan berarti waktu kita makin panjang, jadi harapannya ya manasik bisa lebih dimatangkan,” tutupnya.

Sementara itu, Ana Hazar (56) warga Ngawu, Kecamatan Playen mengatakan, kegagalan ia berangkat ke Tanah Suci sendiri sudah terjadi 2 kali. Diceritakannya, ia sebetulnya mendapatkan jatah keberangkatan pada 2019. Namun lantaran pada tahun kemarin ada pengurangan jatah kuota jamaah, maka kemudian keberangkatannya tertunda. Ia hanya bisa pasrah penundaan juga harus ia alami pada tahun 2020 ini, karena ada pembatalan keberangkatan.

“Saya rencananya mau berangkat sama suami, sudah pelunasan bulan Maret lalu. Tapi kami sudah menerima pengumuman untuk peniadaaan haji,” tutur Ana.

Meskipun mengaku kecewa, namun terpaksa ia legowo. Sebetulnya memiliki niatan sejak 2008, namun baru bisa mendapat kesempatan pada 2011 untuk mendaftar.

“Ya tapi saya pikir ini yang terbaik, dari pada sampai sana tidak khusyuk karena wabah ini,” pungkas dia.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler