fbpx
Connect with us

Sosial

Cerita Warga Yang Akses Jalannya Ditembok Pengusaha Parkir Pindul, Untuk Periksa Saat Sakit Pun Harus Dibopong

Published

on

Karangmojo,(pidjar.com)–Jalan menjadi akses penting untuk melakukan aktivitasnya. Terlebih akses jalan menuju rumah tinggal, tentunya harus memadahi dan dapat dimanfaatkan dengan baik. Namun berbeda dengan yang dialami oleh 5 kepala keluarga di Padukuhan Gelaran 1, Kalurahan Bejiharjo, Kapanewon Karangmojo. Sejak beberapa tahun terakhir, para keluarga ini seolah terkungkung dengan tembok setinggi lebih dari 2 meter yang dibangun oleh tetangganya. Tembok tinggi ini menghalangi akses jalan para warga tersebut untuk beraktifitas.

Tembok tersebut memang dibangun menutup akses jalan para tetangga. Hanya ada pintu kecil dan sempit dengan lebar kurang dari 1 satu meter yang hanya bisa digunakan keluar masuk. Jangankan sepeda motor, sepeda kayuh saja sulit untuk melalui pintu kecil ini. Jalan ini hanya bisa dilalui 1 orang dan bahkan harus menunduk agar dapat melalui.

Jika ada kendaraan yang hendak masuk pastinya harus berputar jalur dulu. Kehidupan semacam ini tentunya sangat menyulitkan oleh warga setempat. Kondisi yang bisa dibilang mengenaskan ini sudah harus dialami oleh 5 KK tersebut sejak 6 tahun yang lalu.

Salah seorang warga yang terdampak penembokkan akses jalan, Poniyati menceritakan, 6 tahun lalu, ia sudah puluhan tahun hidup di lokasi ini. Mulanya, semua berlangsung baik-baik saja lantaran tetangganya yang memiliki tanah dan bangunan tepat di pinggir jalan, memberikan akses jalan yang cukup lebar kepada para tetangga yang tinggal di belakangnya. Namun situasi berubah saat sang pemilik menjual rumah pinggir jalan itu. Sang pemilik baru yang bernama Bu Pur, kemudian membangun fasilitas parkiran kendaraan untuk menunjang pariwisata di Goa Pindul. Selain itu, pemilik baru juga didirikan beberapa bangunan kamar mandi.

Tak berselang lama, ternyata Bu Pur ini membangun tembok tinggi yang menutupi rumah para tetangga yang tinggal di belakangnya. Menurut Poniyati, saat tembok itu dibangun tidak ada koordinasi dengan warga setempat. Sang pemilik lahan langsung membangun tembok begitu saja di lahan yang sebelumnya menjadi akses jalan warga. Tinggi tembok sendiri mencapai 2 meter dan memanjang sampai beberapa meter.

“Niki ki sakderenge dingetenke niki (ditembok) nggih enten dalane (Ini sebelum ditembok ya ada jalannya),” kata Poniyati, Kamis (05/08/2021).

Poniyati bersama dengan keluarga lainnya saat itu tidak bisa berbuat banyak. Hal ini lantaran penembokkan itu sudah kemauan dari pemilik lahan. Pemilik lahan juga seakan tak peduli melihat tembok tersebut menutup akses jalan yang digunakan oleh para tetangga di belakangnya.

“Kulo niku nek saking wono mbeto pakan asringe lewat mriki. Tapi nek pakane digendong miring nggih mboten saget lewat, dadose nek pun tekan ngarep niki pakan sik kulo gendong kedah kulo jejeke riyen kajenge saget lewat (Saya kalau dari ladang membawa pakan seringnya lewat sini, tapi kalau pakannya saya gendong miring tidak bisa lewat. Jadi kalau sudah sampai di depan sini, pakan yang sebelumnya saya gendong harus saya pindah posisi supaya bisa lewat),” ucapnya polos.

Yang lebih miris lagi. Beberapa waktu lalu saat ada salah seorang lansia tetangganya yang bernama Mayem sakit, keluarga harus membopong lansia itu lantaran pintu sempit yang diberikan bahkan tak muat untuk dilewati oleh kursi roda.

“Enten dalan liyo tapi niku nggih radi tebih to mutere. Asringe lewat mriki nek saking wono wong kandange mawon naming enten mriku, (Memang bisa ada jalan lain tapi agak jauh memutarnya, Seringnya memang lewat sini kalau dari ladang karena kandangnya cuma di depan situ,” paparnya.

Tembok yang memanjang tersebut di ujung dibangun tangga jadi warga membawa barang bawaan banyak selain lewat jalan sempit bisa lewat atas dengan resiko terpeleset.

Ketua RT setempat, Warindi menambahkan jika dulunya memang tembok tersebut dibangun oleh Bu Pur. Sampai dengan sekarang, di lahan tersebut menyediakan jasa tempat parkir dan kamar mandi bagi para pengunjung Goa Pindul.

“Ya memang kondisinya seperti ini, hanya diberi jalan yang sangat sempit saja. Itu yang membuat warga selama ini gerah,” papar Warindi.

Proses mediasi pun dilakukan sejak beberapa waktu lalu agar tembok ini dapat dibongkar. Setelah proses yang cukup alot, akhirnya pemilik menyepakati bahwa setuju perihal adanya pembongkaran tembok penghalang akses warga. Namun, sang pemilik juga memberikan syarat, bahwa tidak semua bagian tembok boleh dibongkar. Hanya pintu kecil tersebut ditutup dan dibuat jalan di sisi timur yang bisa untuk mengakses mobil, ambulance, dan mobil pemadam kebakaran.

“Kita mediasi antara keluarga bu Eni, warga di belakangnya dan Bu Purwanti. Agar warga di belakang bisa mendapatkan akses jalan yang paling tidak, bisa dilalui oleh kendaraan,” papar Tommy Harahap, pengacara yang ikut membantu proses mediasi itu.

Adapun pada Kamis (05/08/2021) siang ini, akan dilakukan pembongkaran tembok sisi timur untuk memerikan akses jalan bagi 5 KK tersebut.

“Mudah-mudahan keluarga di sini sudah tidak kesulitan akses jalannya,” tutup Tommy.

Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler