fbpx
Connect with us

Sosial

Contoh Kehidupan Kebhinekaan Dari Gadungsari, Pemuda Gereja Bahu Membahu Bantu Umat Muslim Persiapkan Lebaran

Published

on

Wonosari, (pidjar.com)–Lafal takbir mulai berkumandang di langit Gunungkidul sejak Selasa (04/06/2019) petang kemarin. Tanda bahwa umat muslim secara serentak memulai prosesi perayaan 1 Syawal 1440 Hijriah akan jatuh pada hari Rabu (05/06/2019) ini. Pada tahun ini, tradisi takbir keliling menjadi agenda wajib yang disambut antusias oleh warga masyarakat pada malam Hari Raya Idul Fitri akan dimulai.

Ternyata, kedatangan Iduk Fitri tidak hanya dipersiapkan oleh umat muslim saja. Terlihat sejumah pemuda Nasrani dari Gereja Kristen Jawa tampak hilir mudik sejak beberapa hari lalu. Mereka ikut mempersiapkan properti takbir keliling yang akan digunakan oleh jamaah Masjid Gadungsari, Dusun Gadungsari, Kecamatan Wonosari untuk mengikuti agenda takbir keliling yang digelar di Alun-alun Wonosari tersebut. Hal ini tentu saja menjadi angin menyejukkan bagi kebhinekaan Indonesia yang terlihat nyata ada di Bumi Handayani.

Tokoh pemuka agama GKJ Wonosari yang juga tokoh pemuda Gadungsari, Sulis mengatakan, kegiatan membantu umat Islam seperti yang dilakukan saat ini sudah menjadi tradisi pemuda di daerahnya. Tidak hanya saat takbiran saja, akan tetapi banyak kegiatan keagamaan lainnya yang dibantu oleh komunitasnya. Seperti misalnya pada tahun ini, sejak awal Ramadhan, komunitasnya ini sudah membantu apa yang bisa mereka bantu.

“Selama Ramadhan ada 15 anggota GKJ yang ikut membantu berbagai kegiatan teman-teman umat Muslim, jadi tidak hanya saat takbiran saja,” ujarnya, Selasa (04/06/2019).

Diakuinya, gotong royong antar umat beda agama yang terjadi di daerahnya ini sudah dilakukan sejak lama. Menurutnya, hal semacam ini sudah menjadi hal biasa di wilayahnya. Tak heran dengan kerukunan semacam ini, kehidupan sosial di Padukuhan Gadungsari menjadi sangat harmonis. Bahkan saat agenda keagamaan umat Nasrani, banyak umat Muslim yang tak segan-segan dalam memberikan bantuan.

“Kami ingin menjaga toleransi secara bersama-sama,” katanya.

Selain membantu persiapan properti takbir keliling, muda-mudi gereja Gadungsari juga bahu membahu membantu umat muslim mengamankan Takbiran hingga Sholat Ied. Ditambahkan, Edo, kerukunan umat beragama sudah semestinya dijaga. Melakukan hal-hal yang sederhana semacam ini bisa menjadi pemicu untuk terjadinya kehidupan yang harmonis antar umat beragama di wilayahnya.

“Kami sudah membantu dalam pembuatan lampion untuk takbiran Masjid Gadungsari,” kata Edo.

Menurutnya, ia dan sekitar 30 pemuda umat GKJ Wonosari sudah berkali-kali membantu kegiatan keagamaan dari umat Muslim. Seperti misalnya mengamankan parkir saat Sholat Ied sekaligus juga membantu pengamanan. Pihaknya juga menyediakan area parkir di sekitar gereja yang bisa dipergunakan oleh umat Muslim yang hendak melaksanakan Shalat Ied di Alun-alun Wonosari.

“Jadi ketika Natal dari Pemuda Masjid Gadungsari juga bantu kita parkir di Gereja. Saat acara Gereja, Pemuda Masjid Gadungsari juga seringbantu Gereja kita GKJ Wonosari,” kata dia.

Ia berharap hal ini dapat merekatkan kebersamaan antar umat beragama. Sehingga tidak ada lagi gap antar umat beragama demi terciptanya persatuan dan kesatuan.

Sementara itu, Ketua Jamaah Islam Gadungsari (JIG), Yasin, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas segala bantuan yang diberikan. Dia menyatakan hal tersebut perlu dijaga supaya kerukunan umat beragama terjaga.

“Walau pun berbeda tapi harus saling menghormati,” ucap Yasin.

Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler