fbpx
Connect with us

Peristiwa

Daerah Perbatasan Dianggap Jadi Jalur Mulus Peredaran Narkoba

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Wilayah perbatasan masih menjadi terget operasi pemberantasan narkoba di Gunungkidul. Disinyalir, para pelaku merasa aman apabila melakukan transaksi di lokasi yang dianggap strategis tersebut. Hal ini lantaran daerah perbatasan merupakan sasaran mudah bagi para bandar untuk menyelundupkan narkoba.

Beberapa waktu lalu Jajaran Satresnarkoba Polres Gunungkidul berhasil mengungkap 2 kasus peredaran narkoba di wilayah Gunungkidul. Satu dari dua kasus tersebut diringkus saat melakukan transaksi di wilayah perbatasan Gunungkidul, tepatnya di Kecamatan Ngawen.

Penangkapan tersebut dilakukan pada Senin (01/01) lalu. Berbekal informasi dari masyarakat mengenai adanya peredaran narkoba di wilayah perbatasan Kecamatan Ngawen dengan Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten, petugas langsung bergerak cepat menindak lanjuti laporan tersebut.

"Waktu itu kita berhasil mengamankan DP (19) warga Sukoharjo. Dia merupakan kurir Sabu. Setelah digeledah,  petugas menemukan 1 paket sabu seberat 0,4 gram dan pipet kaca,"  kata Rico, Senin (15/01/2018).

Pasca penangkapan DP, petugas langsung melakukan pengembangan. Dari hasil yang diperoleh, petugas berhasil meringkus rekannya DY (26) warga Kartosuro, Kabupaten Sukoharjo di hari yang sama.

"Dari DY, petugas berhasil mengamankan sabu seberat 0,9 gram yang terbagi dalam 3 plastik klip kecil," imbuh dia.

Berita Lainnya  Ada Potensi Pemungutan Suara Ulang, Bawaslu Tunggu Laporan

Usai terbongkarnya satu kasus peredaran narkoba di wilayah perbatasan, tak berselang lama, petugas kembali temukan peredaran narkoba jenis lainnya. Bukan di perbatasan, kali ini penangkapan terjadi di wilayah Kecamatan Wonosari.

Riko menyebutkan, sebanyak 3 pemuda warga Desa Karangrejek, Kecamatan Wonosari diringkus polisi atas kasus penyalahgunaan pil. Mereka ditangkap di depan Kantor Puskesmas Wonosari I dan berhasil menyita 95 butir pil Diazepam dan 100 butir pil Trihexyphenidyl.

“Selain itu, dari tangan DK (19) warga Desa Karangrejek, Kecamatan Wonosari, kami juga menyita uang sebesar Rp 140.000 dari hasil penjualan pil itu,” ungkapnya.

Atas kejadian tersebut, Riko mengatakan bahwa wilayah perbatasan menjadi target operasi utama. Namun demikian, pihaknya juga tetap terus menelusuri peredaran narkoba di wilayah lain yang sudah terlanjur masuk ke Gunungkidul.

Pil Sapi Paling Sering Digunakan di Gunungkidul

Selama tahun 2017 kemarin jajaran Sat Resnarkoba Polres Gunungkidul telah mengajukan 20 kasus penyalahgunaan obat. Dari jumlah tersebut, setengah diantaranya merupakan obat berbahaya.

Berita Lainnya  Tak Bisa Kendalikan Stir, Mobil Terperosok ke Jurang Sedalam 4 Meter

Kasat Resnarkoba, AKP Riko Sanjaya mengatakan, sebagian besar kasus di Gunungkidul merupakan kasus penyalahgunaan obat berbahaya, yakni obat keras yang masuk daftar G. Untuk mendapatkannya, mereka biasanya menggunakan resep dokter dengan tujuan pengobatan. Namun praktiknya, justru disalahgunakan oleh oknum-oknum tidak bertanggungjawab.

Riko mengambil contoh, jenis obat berbahaya yang pernah ditangani selama tahun 2017 yakni pil trihexpenidyl atau dikenal sebagai pil sapi atau yarindu. Jenis pil tersebut merupakan jenis pil dengan harga termurah namun dapat menimbulkan dampak yang sama dengan psikotropika dan narkotika.

"Harganya itu cukup murah ya, sehingga banyak yang menggunakan itu karena harganya yang terjangkau. Dengan Rp 20 ribu mereka sudahh dapat 30 butir," imbuh Riko.

Lebih lanjut dikatakan, dari hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh pihaknya, pil-pil tersebut diperoleh dari rekan sesama pemakai. Mirisnya, para pelaku kejahatan tersebut masih di usia-usia produktif.

"Usia sekitar 18-23 tahun. Mereka sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan pergaulan. Ketika kami periksa juga mereka ngakunya kenal barang haram itu dari kawan-kawan mereka," lanjut Riko.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler